Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 37 (season 2)


__ADS_3

Hari-haripun berlalu. Kini Alina dan yang lainnya sibuk untuk mempersiapkan acara pertunangan Barra dan Kayla. Alina turun tangan langsung dalam persiapan itu. Ia ingin merasakan bagaimana mempersiapkan acara itu seperti yang orang tuanya dulu lakukan.


Dirinya juga masih tak percaya. Salah satu dari anaknya akan segera bertunangan. Semua berlalu begitu cepat. Sudah dua minggu berlalu. Acara semakin dekat dan Alina juga semakin sibuk mempersiapkannya. Ia tidak ingin ada kekurangan sedikitpun. Alina dibantu oleh beberapa orang kepercayaannya untuk menyiapkan acara tersebut.


Semua mulai terselesaikan. Mulai dari pesanan makanan untuk tamu yang hadir dan lainnya sudah mulai fiks.


"Untuk dekorasinya sudah semua kan?" tanya Alina kepada pegawai yang mengurus bagian tersebut.


"Sudah nyonya. Semua sudah kami atur. Apa masih ada hal lain lagi?" tanya pegawai tersebut.


"Untuk sementara tidak. Terima kasih sudah bekerja keras," ucap Alina. Dirinya tersenyum tipis.


"Anda tidak perlu sungkan nyonya, kalau begitu saya permisi dulu," ucap pegawai itu. Alina mengangguk. Ia kembali mengecek satu persatu persiapan itu. Alina ingin acara ini sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun.


"Kak Zara," panggil Alisya. Kebetulan hari ini hari libur. Sudah lama Zara juga tidak berkunjung ke rumah mereka. Alina sengaja mengundang Zara. Entah mengapa Alina begitu menyayangi gadis itu. Ia bahkan beberapa kali sempat mengundang Zara hanya sekedar untuk makan siang atau makan malam.


"Halo Alisya, ada apa? Kok ramai sekali?" tanya Zara. Ia baru datang ke rumah mereka. Alisya langsung membawa Zara menuju ruang tengah.


"Satu minggu lagi abangku akan tunangan kak. Mommy sibuk beberapa hari ini. Aku jadi kesepian deh, kalau ada kak Zara kan bisa main bareng," jawab Alisya santai.


"Siapa? Raffa tunangan?" tanya Zara bingung.


"Nggak mungkinlah kalau bang Raffa yang tunangan," jawab Alisya sedikit keras.


"Memangnya kenapa?" Zara semakin bingung.


"Kan calonnya masih ada di sini," jawab Alisya. Ia menyengir dan menaik turunkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Apaan sih kamu itu. Aku serius Alisya," ucap Zara. Ia tersenyum tipis.


"Hehe, aku juga serius kali kak. Jujur ya, aku itu mau kak Zara jadi kakak ipar aku. Dan kemarin aku sudah tanya sama mommy, mommy juga setuju kok," jawab Alisya jujur. Zara semakin salah tingkah. Bisa-bisanya Alisya berkata seperti itu tanpa beban sedikitpun. Zara menghela napasnya pelan.


"Kakak aku yang satunya yang mau tunangan. Namanya bang Barra. Jadi kak Zara nggak usah kecewa, masih ada kesempatan untuk dekat dengan bang Raffa kok," ucap Alisya pelan. Ia sedikit berbisik kepada Zara. Zara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku mau menyapa tante dulu deh kalau begitu," ujar Zara. Ia berjalan menuju tempat di mana Alina berada.


"Tante," sapa Zara. Alina menoleh dan langsung tersenyum lebar. Ia memeluk Zara sekilas dan mengusap puncak kepala Zara.


"Sudah lama? Maaf ya tante sibuk, jadi tidak tahu kalau Zara sudah datang," ucap Alina.


"Nggak apa-apa kok Tan. Oh iya, ada yang bisa Zara bantu gak?" ucap Zara antusias. Sebenarnya Alina tidak ingin Zara melakukan apa-apa. Namun karena Zara keras kepala, akhirnya ia membolehkan Zara membantu mereka.


"Mungkin begini ya kalau sudah punya menantu, ada yang bantuin masak, bantuin mengurus rumah, hehe," batin Alina yang memerhatikan Zara dengan lekat. Tanpa disadari ia mengembangkan senyumnya melihat Zara yang begitu cekatan.


"Tante tuh senang jika ada yang membantu tante masak begini," ucap Alina.


"Loh, memangnya Alisya nggak bantu tante saat memasak?" tanya Zara penasaran.


"Alisya begitu manja. Mana mau dia berurusan sama dapur. Semua tante yang mengurus," ucap Alina. Zara hanya mengangguk. Mereka mulai menghidangkan makanan itu di meja makan.


Sedangkan Alisya hanya nonton acara tv di ruang tengah. Ia juga bermain dengan ponselnya. Memang benar apa yang dikatakan Alina. Alisya belum pernah sedikitpun menyentuh urusan dapur dan yang lainnya. Tetapi ia juga tidak mempermasalahkannya. Selagi Alina mampu ia akan mengurusnya sendiri.


Arvin baru tiba di rumah. Tiga hari yang lalu, ia keluar kota untuk perjalanan bisnisnya. Hari ini ia baru pulang karena pekerjaannya sudah terselesaikan. Sedangkan Barra sibuk persiapan pertunangannya dengan Kayla. Mulai dari menyiapkan gaun, cincin tunangan, dan lainnya. Raffa sendiri hanya mengurung dirinya di kamar. Ia tidak terlalu suka dengan kebisingan.


"Sayang, papa pulang," ucap Arvin sambil melangkah menuju dapur, karena ia tahu Alina pasti ada di sana.

__ADS_1


Alina menghentikan aktivitasnya. Ia menghampiri Arvin. Mereka saling peluk untuk mengobati kerinduan mereka. Alina mengambil alih tas kerja suaminya itu.


"Mas, bagaimana? Sudah beres pekerjaannya?" tanya Alina.


"Sudah dong. Oh iya, Zara juga berada di sini?" ujar Arvin yang melihat Zara berada di meja makan. Ia sedang menata piring.


"Eh, iya Om," jawab Zara. Ia menghampiri Arvin dan mencium punggung tangannya dengan sopan.


"Zara, kami tinggal sebentar ya. Kalau sudah selesai kamu panggil Alisya saja," ujar Alina. Zara mengangguk pelan. Arvin dan Alina menuju kamar. Ia membantu Arvin mengganti bajunya.


"Sayang," panggil Arvin lembut.


"Ya mas?" jawab Alina.


"Kok aku merasa Zara seperti menantu kita ya, hahaha," ujar Arvin. Lalu ia tertawa. Alina juga ikut tertawa.


"Aku tadi juga mikirnya begitu mas. Tapi kamu lihat sendirikan? Raffa hanya cuek begitu. Ia bahkan tidak ada tindakan apapun untuk mendekati Zara. Beda sama mas waktu muda dulu," jawab Alina. Arvin sudah selesai ganti baju. Mereka duduk di sofa dengan Arvin merebahkan dirinya dan kepalanya berada di pangkuan Alina.


"Kan masih ada putra kita yang satunya," ucap Arvin santai.


"Maksud mas, Zidan? Mana mau Zidan dijodohin begitu mas. Aku nggak mau mencampuri urusan percintaan anak kita. Biar mereka yang menentukan sendiri," ujar Alina. Arvin hanya tersenyum tipis. Ia bangkit dan mencium pipi Alina sekilas.


"Kita lakukan sesuatu yuk, aku kangen banget sama kamu sayang," bisik Arvin. Alina langsung mendorong Arvin. Ia kemudian berdiri.


"Nggak! Ayo kita turun dan makan siang dulu," ajak Alina. Arvin hanya menghela napasnya kasar. Ia harus menundanya dulu walaupun saat ini ia menginginkannya. Namun sebelum keluar dari kamar, Arvin mencium bibir Alina dan melumatnya dengan lembut.


Zara, Alisya, dan Raffa sudah berada di meja makan. Mereka tinggal menunggu Arvin dan Alina turun. Tak lama setelah itu, Arvin dan Alina sudah berada di ruang makan. Mereka makan siang bersama.

__ADS_1


__ADS_2