
Hari-hari semakin cepat berlalu. Arvin selama satu bulan penuh istirahat total di rumahnya. Pekerjaannya ia serahkan pada asistennya. Kini ia sudah siap kembali lagi untuk bekerja.
Lain halnya dengan Alina. Jiwa Alina meronta kala Arvin yang semakin bermanja padanya. Bukannya ia tak suka, tetapi Arvin selalu seenaknya sendiri dan seolah di dalam rumah ini hanya ada mereka berdua.
"Apanya yang istirahat total. Tetap saja kan setiap saat menyiksaku," batin Alina.
Karena Arvin sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, kini saatnya Alina membalaskan apa yang sudah Arvin lakukan padanya selama ia karantina di rumah. Eits, tunggu dulu! Ini bukan pembalasan antar kebencian tetapi pembalasan dengan penuh cinta. Tunggu saja apa yang akan Alina lakukan pada suaminya itu.
Semua kembali normal. Alina juga sesekali mengunjungi restorannya itu. Hanya untuk melihat bagaimana perkembangannya selama satu bulan ini. Kini ia telah menyerahkan kendali restorannya pada salah satu karyawannya yang dianggapnya bisa menjalankan tugas ini dengan baik.
Alina menunjuk langsung Rani untuk mengurusi perihal kerja sama dan lain sebagainya yang menyangkut perkembangan restorannya ini. Jika Alina yang pegang sendiri, ia tak yakin bisa terus memimpin dan menyelesaikan tugasnya setiap saat.
Bebannya menjadi ibu rumah tangga semakin berat. Apalagi kini ia sedang mengandung dan sebentar lagi akan tambah sibuk setelah kelahirannya. Usia kandungannya yang menginjak bulan ketujuh ini ia harus siap-siapkan diri.
Akhir pekan memang hari yang paling berharga bagi keluarganya. Mereka bisa bersantai dan menghabiskan waktu bersama. Kini Alina full di rumah saja. Mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu berat baginya.
Setelah selesai sarapan, mereka hanya tiduran dan bermain di ruang tengah. Namun Arvin sedikit sibuk dengan laptopnya. Alina yang merasa Arvin mengabaikannya kini menjadi kesal.
"Lihat, bagaimana aku akan memulai rencanaku sayang," batin Alina menyeringai.
"Mas, dari tadi sibuk sendiri. Sibuk apa sih?" tanya Alina dan mendekat ke arah Arvin untuk melihat apa yang Arvin lakukan dengan laptopnya.
"Ada masalah sedikit di kantor sayang. Sebentar ya," jawab Arvin. Ia mengecup sekilas kening Alina dan kembali fokus dengan laptopnya.
"Penting banget ya? Lebih penting daripada keluarga? Padahal jarang punya waktu untuk keluarga loh," ucap Alina cemberut.
Arvin menatap Alina sekilas. Ia terkekeh melihat Alina yang sedang mengerucutkan bibirnya.
"Sebentar ya, sabar dulu sayang. Mas akan selesaikan dengan cepat," ujar Arvin tanpa menatap Alina.
"Lihat saja, setelah ini apa kamu masih tetap fokus dengan pekerjaanmu mas," batin Alina terkikik.
__ADS_1
"Ya sudah sana main sama laptopnya sampai puas. Nggak usah lagi ada waktu untuk keluarga! Kalau tahu gini kan aku bisa bawa anak-anak ke taman bermain saja tadi," ujar Alina dan berdiri. Ia melangkah menuju kamarnya.
Oke, istrinya sedang marah padanya. Bukan begitu maksud Arvin. Ini memang hal yang penting yang harus ia selesaikan sekarang juga. Tetapi Arvin juga salah, harusnya ia lebih memperhatikan Alina dan anak-anaknya.
Arvin meletakkan laptopnya sejenak dan menuju ke kamar untuk menyusul Alina.
"Sayang," ucap Arvin setelah membuka pintunya.
Alina menatap ke arah pintu sekilas kemudian kembali fokus dengan sebuah buku yang ia pegang. Arvin berjalan menuju tempat tidur dan duduk di samping Alina.
"Sayang, maaf," ucap Arvin.
"Iya," jawab Alina dengan singkat.
"Pekerjaan itu benar-benar penting sayang. Harus aku selesaikan hari ini juga. Aku mohon kamu mengerti ya," ucap Arvin yang kini sudah memeluk Alina. Mengecup sekilas puncak kepala Alina.
"Saatnya beraksi," batin Alina girang.
Alina tiba-tiba menarik Arvin dan mencium bibirnya. Alina ******* dan menghisap kecil bibir tersebut dengan lembut. Arvin tersenyum dan mulai membalas ciuman Alina.
"Berani sekali kamu menggodaku sayang," bisik Arvin dan Alina hanya tersenyum. Arvin kembali melancarkan aksinya. Saat Arvin mulai melepaskan pakaian Alina. Tiba-tiba Alina mendorong Arvin dan kini ia terduduk di tepi ranjang.
"Aku lagi malas mas," ujar Alina.
Arvin mengernyitkan dahinya. Ia memeluk Alina dari belakang dengan terus menghujani tengkuk Alina dengan ciumannya.
"Kamu yang menggoda mas duluan. Harus tanggung jawab dong," bisik Arvin sambil tangannya menyusup ke dalam pakaian Alina.
"Aku lagi nggak pingin mas," ucap Alina kembali.
"Tapi ini gimana sayang?" ucap Arvin. Alina hanya mengangkat bahunya.
__ADS_1
Arvin memejamkan matanya sejenak. Ia menghela napasnya dengan pelan. Arvin membaringkan tubuhnya dengan telentang. Alina tersenyum tipis melihat Arvin yang mencoba menenangkan dirinya.
Tangan Alina tiba-tiba menyentuh dada Arvin dan mengusapnya dengan lembut. Arvin hanya menatap Alina dengan sendu tanpa melakukan apapun.
"Pasti tersiksa ya mas?" tanya Alina. Arvin mengangguk pelan.
"Sayang, kalau kamu nggak ingin melakukannya kenapa kamu menggoda mas? hmm?" tanya Arvin sambil menahan tangan Alina agar tidak sentuh-sentuh sembarangan. Arvin mengatur napasnya agar tetap tenang.
"Biar mas nggak fokus sama kerja dulu," jawab Alina santai.
Alina mengecup sekilas bibir Arvin. Ia melangkah meninggalkan Arvin di kamar. Arvin hanya bisa menatap kepergian Alina.
"Sial!" umpat Arvin sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
Di luar, Alina sedikit tertawa melihat Arvin yang begitu tersiksa menahan nafsunya. Tetapi di sisi lain ia juga tak tega melihat suaminya seperti itu.
"Maaf mas," ucap Alina dan kini ia menuju ke dapur.
Arvin terduduk. Ia harus memikirkan cara bagaimana menuntaskan hasratnya ini.
"Berani menggodaku juga harus berani bertanggung jawab," ucap Arvin menyeringai. Ia buru-buru keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Sempurna! Alina sedang berada di dapur. Arvin mendekat perlahan tanpa Alina sadari. Arvin langsung memeluk Alina dari belakang. Ia mengusap perut Alina dan terus mengecup tengkuk Alina.
"Mas, kamu ngapain?" tanya Alina terkejut.
Namun Arvin tak menjawab pertanyaan Alina. Ia membalikkan tubuh Alina dan kembali mencium bibirnya. Alina mendorong pelan tubuh Arvin agar menjauh darinya. Namun Arvin menarik Alina dan mendorongnya hingga bersandar pada dinding. Arvin kembali mencium bibir Alina dan kini dengan nafsunya yang memburu.
"Papa ngapain?" tanya Barra tiba-tiba ada di belakang Arvin.
Arvin langsung melepas ciuman itu. Ia menatap ke arah putranya sekilas.
__ADS_1
"Eh, ini sayang. Kayanya mommy kelilipan tadi. Papa hanya bantu mommy sedikit kok," ucap Arvin. Alina menahan tawanya agar tidak pecah.
"Mommy, ayo main..." ajak Barra dan menarik tangan Alina. Arvin menatap Alina memberikan isyarat bahwa Alina harus menolaknya dengan cara apapun. Namun Alina hanya tersenyum tipis dan menjulurkan lidahnya sedikit. Alina mengikuti Barra untuk bermain dengannya. Arvin hanya bisa mengacak rambutnya dengan kasar.