Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 24 (season 2)


__ADS_3

Hari ini Barra memutuskan untuk membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan orang tuanya. Apapun nanti keputusan mereka, Barra akan tetap menerimanya. Barra sudah siap dengan segala konsekuensinya, jika memang hal terburuknya benar-benar terjadi.


Dari orang tua Kayla, Barra sudah mendapatkan restunya. Ia tinggal meyakinkan Arvin dan Alina saja. Hari ini Barra izin tidak masuk bekerja begitu juga dengan Kayla.


Semalam, Barra sudah memberitahu Arvin dan Alina agar di rumah karena akan ada tamu istimewa. Alina sempat bertanya, namun Barra merahasiakannya.


Setelah sarapan, Barra langsung bergegas menjemput Kayla. Ya, sekalian juga kan Barra mengenalkan Kayla kepada keluarganya. Cukup lama perjalanannya hingga sampai di rumah Kayla. Karena jalanan yang lumayan macet dan ramai.


Seperti biasa, setelah memarkirkan mobilnya, Barra menuju ke dalam rumah. Sekedar bertegur sapa dengan orang tua Kayla. Barra memang sudah akrab dengan keluarga Kayla. Karena ia sering ke rumah Kayla setelah pulang kerja atau saat libur kerja.


"Hati-hati ya kalian. Tante doakan semoga berjalan dengan lancar," ucap Risti, ibu Kayla.


"Pasti Tan, kalau begitu kami pamit dulu ya," pamit Barra. Ia mencium punggung tangan ibunda Kayla. Begitu pula Kayla melakukan hal yang sama.


Setelah masuk ke dalam mobil, Barra langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya. Barra melirik Kayla sekias. Terlihat jelas Kayla saat ini sedang gugup. Barra tersenyum tipis dan mengusap puncak kepala Kayla.


Kayla seketika menoleh ke arah Barra. Ia tersenyum manis lalu menyandarkan kepalanya ke lengan Barra. Barra mencium puncak kepala Kayla sekilas.


"Mommy sama papaku orangnya baik kok. Jangan khawatir berlebihan ya," ucap Barra berusaha membuat Kayla tenang. Meskipun Kayla berusaha tenang, ini adalah pertemuan pertamanya dengan orang tua Barra. Ia khawatir jika orang tua Barra tidak akan menerimanya.


"Aku percaya sama kamu sayang. Tapi wajarkan jika aku khawatir. Lagipula ini kan pertemuan pertamaku dengan orang tuamu. Aku jadi gugup nih," ucap Kayla panik. Barra hanya tersenyum tipis.


Tak lama, mereka sudah sampai di rumah. Barra dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Kayla. Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu.


"Mom, Pa, lihat siapa yang aku bawa," ujar Barra sedikit berteriak. Di rumah memang hanya tinggal Alina dan Arvin. Karena Raffa dan Alisya sudah berangkat ke kampus dan ke sekolahnya.


"Kenapa heboh sekali sayang," ujar Alina yang berjalan menuju ruang tamu.


"Eh," Alina terkejut saat melihat wanita yang berdiri di samping putranya. Ia berjalan pelan mendekati mereka berdua yang masih berdiri.


"Cantik sekali, siapa dia?" tanya Alina dan menatap ke arah Kayla dan Barra secara bergantian.


"Duduk dulu Mom, nggak baik membiarkan tamu berdiri terlalu lama," ucap Barra.

__ADS_1


"Eh, iya silakan duduk. Sebentar ya," ujar Alina. Ia berjalan ke ruang kerja suaminya.


"Mas, ada tamu tuh. Ke depan sebentar yuk," ajak Alina. Arvin menghentikan aktivitasnya. Arvin melangkah menghampiri Alina dan merangkulnya dari samping. Tak lupa satu kecupan manja ia daratkan di kening Alina.


Mereka berempat sudah berada di ruang tamu. Sebenarnya Alina dan Arvin tahu maksud dari Barra dengan membawa wanita itu ke rumah mereka. Namun Alina dan Arvin memilih untuk diam dan membiarkan putranya itu mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.


Cukup lama suasana hening. Barra dan Kayla hanya saling senggol lengan. Mungkin karena gugup atau apa. Ini bahkan melebihi ujian skripsinya dulu saat pengujinya yang terkenal killer.


Alina dan Arvin saling bertukar pandang dengan menahan tawanya. Sungguh, putranya yang ceria mendadak menjadi pendiam. Dan itu sungguh menggemaskan dimata mereka.


"Ehem!" Arvin berdehem agar Barra segera memulai pembicaraannya. Agar tidak terlalu membuang-buang waktu.


"Pa, Mom. I-ini Kayla, calon istriku." Akhirnya Barra membuka suara juga. Jika tidak, mungkin sebentar lagi Alina dan Arvin memilih kembali ke kamar mereka.


"Hah? Calon istri?" ujar Alina berpura-pura terkejut. Ia membelalakkan matanya lebar-lebar.


"Iya. Dan Barra ingin segera melamar dan menikahinya," ucap Barra yakin. Yang semua orang tidak tahu, jantungnya kini berdebar kencang. Namun Barra berusaha untuk tenang.


Barra dan Kayla langsung menatap Arvin dengan tatapan tak percaya. Yah, padahal mereka sudah mempersiapkan hati masing-masing untuk menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


"Tapi Pa, bang Zidan sudah memberikan izin pada kami untuk menikah duluan," protes Barra.


"Sekali tidak ya tidak Barra. Kamu harus menghormati keputusan kami sebagai orang tua kamu," jawab Arvin.


Barra menatap Kayla kecewa. Tapi Kayla hanya tersenyum seolah memberikan kekuatan agar Barra tetap tenang.


"Kami tidak keberatan sama sekali dengan hubungan kalian. Kami menerima Kayla menjadi menantu kami dengan senang hati. Tetapi mommy juga berharap kalian bersabar sedikit saja. Setidaknya sampai abangmu menemukan calon istrinya," ucap Alina.


"Terima kasih Om, tante, sudah menerima Kayla menjadi calon menantu kalian," ucap Kayla dengan lembut.


Barra menggenggam tangan Kayla. Saat ini pasti Kayla sama kecewanya dengan dirinya. Harusnya ia membicarakan hal ini secara pribadi terlebih dahulu sebelum membawa Kayla bertemu dengan orang tuanya.


"Mom," ucap Barra sedih. Ia berharap mommy nya bisa memberikan pengertian kepada Arvin.

__ADS_1


"Maafkan mommy sayang. Mommy tidak bisa berbuat banyak. Semua keputusan berada ditangan papamu," ucap Alina pasrah. Alina beralih duduk di samping Kayla. Ia memeluk Kayla secara tiba-tiba. Tanpa disadari, Kayla meneteskan air matanya namun buru-buru ia usap. Ia tidak ingin terlihat sedih dihadapan Barra dan calon mertuanya.


"Mommy yakin kalian bisa melewati semua ini," ucap Alina sambil menangkup pipi Kayla.


"Terima kasih tante," jawab Kayla sopan.


Berbeda dengan Arvin. Kini sikapnya dingin dan datar. Barra masih menunduk. Ia memikirkan cara untuk meyakinkan papanya.


Alina beralih menuju dapur. Ia menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk mencairkan suasana yang mencekam. Setelah selesai, Alina membawanya ke ruang tamu.


"Sudah, jangan sedih lagi. Kan mommy sama papa tidak melarang hubungan kalian. Hanya saja, untuk pernikahan tolong hargai keputusan papamu," ucap Alina sambil meletakkan nampan yang berisi minuman dan makanan ringan.


Barra masih belum bisa menerimanya. Ia nampak suram dan sedih. Barra mengacak rambutnya pelan.


"Pa, apa tidak ada pilihan lain lagi?" ucap Barra sedikit meninggi. Arvin sempat terkejut saat Barra meninggikan suaranya. Terlihat jelas jika saat ini Barra sedang marah pada Arvin. Ia ingin protes dengan keputusan Arvin. Arvin hanya bungkam dan menggelengkan kepalanya pelan. Barra menggertakkan giginya. Mencengkram kuat tangannya. Alina yang melihat putranya seperti itu tidak tega.


"Sudahlah mas, sampai kapan kamu akan menggoda putramu sendiri?" ucap Alina sambil melirik ke arah suaminya.


Arvin menghela napasnya sejenak. Ia tertawa melihat ekspresi Barra yang begitu marah karena niat baiknya untuk menikah ditolak olehnya. Sedangkan Kayla dan Barra hanya memandang Arvin dan Alina dengan bingung.


"Awalnya sih papa ingin berpura-pura dulu. Papa hanya ingin melihat keseriusan kamu dan Kayla. Karena papa tidak mau jika kamu hanya mempermainkan Kayla. Tetapi setelah melihat ekspresi kalian yang sedih, papa jadi tidak tega untuk lama-lama berpura-pura," ungkap Arvin. Dirinya tertawa kecil.


"Maksud papa?" tanya Barra bingung.


"Papa dan mommy mengizinkan kalian untuk segera menikah. Papa dan mommy yang akan langsung berbicara kepada orang tua Kayla perihal lamaran. Sudah, jangan sedih lagi," ucap Arvin santai.


"Pa, kenapa papa usil banget sih. Jantung Barra hampir saja berhenti berdetak tadi. Terima kasih Pa, terima kasih..." ucap Barra. Ia segera memeluk Arvin dengan erat. Barra meneteskan air matanya begitu juga Kayla. Bahagia bercampur marah semua menjadi satu. Marah karena orang tuanya mempermainkan mereka.


"Begitu saja kalian menangis, apaan.." ucap Arvin dengan nada mengejek. Barra melepas pelukannya. Ia mengusap air matanya dan segera menghampiri Kayla. Ia memeluk Kayla begitu erat.


Arvin dan Alina saling bertukar pandang. Alina menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya. Ia merasa bahagia melihat anaknya bahagia.


"Bagaimana mungkin aku tidak merestui kalian. Aku hanya tidak ingin apa yang aku alami terulang kepada putra dan putriku. Aku sangat tahu bagaimana rasa sakitnya saat itu. Saat kita harus melepas orang yang kita cintai akibat salah satu dari orang tua kita tidak merestuinya," ucap Arvin lirih. Namun Alina masih mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2