Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 13 (season 2)


__ADS_3

Zara masih terdiam di tempatnya. Merasa tak percaya dengan perlakuan atasannya itu. Kemudian tatapannya beralih pada Zidan yang sedari tadi tersenyum puas.


"Ini pasti gara-gara Anda kan?" tanya Zara emosi. Zidan hanya tertawa kecil.


Zara menarik tangan Zidan keluar dari ruangan tersebut. Ia membawa Zidan ke taman samping kedai yang lumayan sepi. Nyalinya sungguh besar. Ia tidak peduli dengan konsekuensinya nanti seperti apa.


Fanny ingin mengikuti mereka namun Zidan mengisyaratkan agar tidak mengganggu mereka berdua. Fanny hanya menghela napasnya pelan dan menuruti perintah Zidan.


"Kenapa Anda mempersulit hidup saya? Ini satu-satunya pekerjaan yang saya andalkan saat ini. Kenapa Anda begitu tega?" ucap Zara. Ia menangis di depan Zidan.


"Hei, jangan menangis," ujar Zidan dan menyeka air mata Zara. Zara menepis tangan Zidan sedikit kasar.


"Bekerjalah di perusahaan saya Zara. Saya berjanji akan memperlakukanmu dengan baik di sana," pinta Zidan.


"Saya tidak mempunyai kemampuan apapun. Saya tidak pantas bekerja di perusahaan Anda," ujar Zara pelan. Ia masih menundukkan kelapanya.


"Tapi kopi buatanmu begitu enak, aku suka," jawab Zidan santai.


"Saat ini kamu tidak mempunyai pekerjaan, saya yakin jika kamu sangat membutuhkan uang itu. Percayalah, saya hanya ingin membantumu saja. Gaji tiga kali lipat dari gajimu di sini yakin nggak mau ambil kesempatan ini?" ucap Zidan santai. Ia sedikit berjalan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


Zara masih terdiam. Saat ini ia tak punya pilihan lain. Orang dihadapannya ini dengan teganya bertindak semaunya. Jika ia menolak, belum tentu mendapatkan pekerjaan baru dalam waktu dekat ini.


"Apa yang membuat Anda menginginkan saya bekerja di perusahaan Anda tuan?" tanya Zara. Ia ingin mendengar alasan pastinya.


Zidan duduk di salah satu kursi yang disediakan di taman tersebut. Ia menatap Zara yang menatapnya balik dengan tatapan menuntut sebuah jawaban.


"Tidak ada. Saya hanya ingin kamu bekerja di perusahaan saya, itu saja," jawab Zidan.

__ADS_1


Zara tahu jika laki-laki ini berbohong padanya. Ia hanya tidak ingin Zara tahu maksud yang sebenarnya kepada Zara.


Zidan berdiri. Ia mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Zara. Sebelum ia pergi, Zidan menepuk bahu Zara.


"Kamu bisa memikirkannya dulu. Jika sudah ada jawaban, bisa hubungi saya. Saya sangat menunggu jawaban kamu loh. Tolong jangan kecewakan saya ya," ucap Zidan sambil mengedipkan matanya yang sebelah. Kemudian ia meninggalkan Zara di taman tersebut.


Selepas kepergian Zidan, Zara mengacak rambutnya dengan kasar. Ia duduk di kursi yang ada di dekatnya. Ia menatap kartu nama itu.


"Kenapa jadi serumit ini sih," gerutu Zara.


Zara kembali ke dalam kedai untuk menyerahkan kunci beserta surat motor yang kemarin dipinjamkan untuknya. Sekalian ia pamitan kepada Fitri dan Arka.


Arka yang mendengar kabar itu langsung marah. Ia tak percaya jika Zara dipecat meskipun Zara tidak melakukan kesalahan sedikitpun.


"Aku akan bicara sama papaku Zara. Kamu tenang saja ya," ucap Arka. Ia ingin membuat perhitungan dengan ayahnya.


"Nggak perlu Ka!" ucap Zara dan menahan tangan Arka. Zara menggeleng pelan.


"Aku juga belum tahu. Jangan khawatirkan aku. Maaf, aku nggak bisa lama-lama di sini," ucap Zara. Sebelum pergi ia tersenyum manis di depan Arka.


Zara berjalan meninggalkan kedai kopi tersebut. Apa ia harus menerima tawaran dari Zidan kali ini? Dirinya tidak tahu lagi harus bekerja apa. Karena statusnya yang masih menjadi mahasiswa sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Kebanyakan mereka mencari pekerja yang memang tidak terikat oleh perkuliahan. Karena menurut mereka itu akan merugikan usahanya atau tidak bisa maksimal mengurus pekerjaan mereka.


Zara memesan ojek online. Ia hanya ingin lebih cepat menuju kostnya. Ia ingin merenung sebelum mengambil keputusan itu. Ia belum begitu mengenal Zidan. Terhitung itu pertemuan mereka yang ketiga dan Zidan langsung menyuruhnya untuk bekerja di sana.


Konyol memang jika Zara hanya bekerja untuk membuatkan kopi untuk Zidan. Berarti, tak lain ia menjadi office girl di kantor itu. Ia tak masalah, namun bagaimana dengan jam kerjanya? Apakah akan sesuai dengan jadwal luangnya.


Zara sampai di depan kostnya. Setelah membayar ojek tersebut, ia langsung menuju kamarnya.

__ADS_1


Zara berbaring di kasurnya dan mengambil kartu nama tadi. Ia memandanginya dengan lekat.


"Apa aku coba kerja di sini saja ya? Lumayan juga gajinya. Entah ini keberuntungan atau bukan, kita akan tahu setelah mencobanya kan?" ucap Zara yang masih fokus dengan kartu nama itu. Ia mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Zara mencatat nomor tersebut jika sewaktu-waktu ia sudah yakin untuk menerima tawaran tersebut.


Tiga hari kemudian, Zara memutuskan untuk menghubungi Zidan. Ia ingin membahas penawaran tersebut. Karena jika ia belum punya pekerjaan juga, Zara tidak tahu lagi apakah uang gajinya bulan ini cukup untuk kebutuhannya sampai akhir bulan.


Zidan langsung menyuruh Zara untuk datang ke kantornya. Tak perlu ditanya lagi, Zidan sangat senang dengan keputusan Zara.


"Fan, kamu suruh Aletta untuk menyiapkan kontrak kerja. Sebentar lagi Zara akan datang," ujar Zidan senang. Fanny mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya.


Zara tiba di kantor Zidan. Ia langsung disuruh untuk naik menuju ruangan direktur. Dengan Fanny yang sudah siap mengantar Zara menuju ruangan direktur tersebut.


"Nona, tolong Anda jangan pancing emosi tuan muda. Jika tidak, Anda akan tahu akibatnya nanti. Perhatikan setiap kata yang Anda ucapkan. Saya hanya tidak ingin Anda terlibat masalah," peringatan Fanny sebelum masuk ke ruangan. Zara tersenyum sekilas dan mengangguk paham.


"Tuan muda, nona Zara sudah datang," ucap Fanny. Kemudian Fanny meninggalkan mereka berdua.


"Silakan duduk nona Zara," ucap Zidan. Ia juga ikut duduk di sofa.


"Ini adalah kontrak kerjanya. Kamu harus menandatanganinya. Dengan begitu, kamu sudah resmi diterima bekerja di perusahaan ini," ucap Zidan sambil menyerahkan dokumen tersebut.


Zara membaca setiap perjanjian yang tertulis di dalamnya dengan teliti. Ia harus memastikan bahwa tidak ada syarat yang menyimpang.


"Tapi tuan, saya masih kuliah. Bagaimana dengan jam kerja saya?" tanya Zara.


"Itu mudah. Kamu tidak terikat dengan jam kerja. Jika urusan kuliahmu selesai, kamu bisa segera ke sini untuk bekerja. Yang terpenting kamu utamakan kuliahmu dulu. Soal gaji tidak perlu khawatir. Sesuai yang saya janjikan waktu itu. Bagaimana? Menguntungkan bukan?" ujar Zidan. Ia yakin jika Zara tidak akan menolaknya lagi.


"Terima kasih atas kebaikan Anda tuan. Saya akan bekerja dengan baik," ucap Zara dengan sopan.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin melihatmu kesulitan. Rasanya aku juga ikut sakit saat kamu belerja keras seperti itu Zara," batin Zidan. Hanya ini yang bisa ia lakukan saat ini. Tetapi nanti, ia akan diam-diam membantu Zara meskipun Zara tidak menginginkan itu.


Setelah yakin, Zara langsung menandatanganinya begitu juga Zidan.


__ADS_2