
"Tatapannya mengerikan sekali. Aku lebih baik pergi dari sini deh," gumam Viona.
Viona menepuk bahu Raffa. Ia tersenyum canggung saat Raffa meliriknya. Tidak mudah bagi Viona untuk meluluhkan hati Raffa. Butuh perjuangan ekstra untuknya mendapatkan hati Raffa sepenuhnya.
"Kamu kalau serius terlihat serem tahu!" ucap Viona. Ia berdiri dan berlalu meninggalkan Raffa. Viona membantu para karyawan untuk melayani para pembeli. Viona memang tidak mengurusi kerjasama dan lain sebagainya. Viona lebih suka bertatap muka secara langsung dengan pengunjung. Ia turun tangan sendiri untuk memasak atau membuatkan minuman bagi para pengunjung restoran ini.
Raffa duduk termenung. Ia kepikiran dengan ucapan Viona barusan. Raffa menopang dagunya dengan tangan kanannya. Ia terdiam untuk beberapa saat.
"Separah itu ya aku?" tanya Raffa dalam hatinya. Raffa menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Setelah itu, ia membereskan dokumen yang ada di mejanya. Raffa keluar ruangan untuk melihat suasana restoran itu. Memang selalu ramai oleh pengunjung. Tatapannya terpacu pada Viona yang sedang sibuk melayani pembeli. Raffa diam-diam memperhatikan Viona ke manapun Viona melangkah.
"Dia kalau lagi serius cantik juga," batin Raffa tanpa sadar. Ia tersenyum tipis dan menghampiri Viona.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Raffa saat Viona sedang sibuk menyiapkan makanan ke piring. Viona menatap Raffa sekilas.
"Tumben ke sini?" tanya Viona sedikit terkejut. Biasanya Raffa jarang sekali keluar ruangannya kalau bukan karena hal mendesak atau saat waktunya pulang.
"Tidak ada kerjaan lagi. Mau aku bantu?" ucap Raffa lagi. Viona tersenyum lebar. Ia sangat senang jika Raffa mau membantunya.
"Boleh, kamu ke dapur dulu nanti aku susul setelah aku mengantar makanan ini," ucap Viona. Ia meninggalkan Raffa untuk menuju meja pengunjung. Raffa berjalan menuju dapur. Keadaan sangat ramai, membuat Raffa sedikit tidak nyaman. Raffa bingung mau membantu apa. Ia belum pernah ke dapur restoran ini.
__ADS_1
Viona berjalan di belakang Raffa. Ia tahu jika Raffa merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. Ia sengaja menyuruh Raffa ke dapur agar Raffa juga terbiasa berinteraksi dengan karyawannya. Bukankah komunikasi yang lancar antara bos dan karyawan bisa meningkatkan hubungan yang baik.
"Kenapa hanya berdiri di sini? Katanya mau bantu," ujar Viona yang sudah berdiri di samping Raffa. Raffa langsung menoleh ke arah Viona. Tanpa pikir panjang, Raffa menarik tangan Viona untuk pergi dari dapur itu.
"Hei, ada apa? Kenapa kamu membawaku keluar?" ucap Viona.
Raffa berhenti di dekat kasir. Ia melepaskan tangan Viona dan menatapnya. Membuat Viona salah tingkah dan gugup.
"Jadi begini rasanya dipegang oleh orang yang kita cintai?" gumam Viona senang. Ia memperhatikan pergelangan tangannya yang tadi digenggam oleh Raffa.
"Aku tidak suka dengan suasana di dapur," ujar Raffa. Ia memalingkan wajahnya.
"Hahahahaha...." Viona tertawa lepas. Ia menertawakan Raffa yang tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Raffa terlalu pendiam menurutnya.
"Sini, kamu harus mulai terbiasa dengan keramaian ini oke?" ucap Viona. Ia menarik Raffa menuju dapur lagi. Awalnya Raffa menolak, namun Viona menariknya dan kini Raffa hanya pasrah.
Viona mengajak Raffa untuk berkeliling sebentar. Agar Raffa lebih akrab lagi dengan lingkungan ini.
"Jadi, mulai hari ini kamu harus belajar berinteraksi dengan mereka. Jangan lupa untuk senyum agar mereka tidak takut dengan kamu," ucap Viona. Mereka berjalan pelan dan santai. Raffa hanya mengangguk saja.
Mereka berbincang-bincang mengenai restoran itu. Viona mengajak Raffa duduk di sofa salah satu pengunjung yang kosong. Viona menjelaskan secara detail terkait dengan restoran ini. Raffa hanya menjadi pendengar yang setia. Setiap saran dari Viona ia terima, namun tidak semuanya ia akan lakukan. Semua butuh proses untuk mengubah kebiasaan pendiamnya menjadi sosok yang lebih perhatian dengan lingkungan sekitar dan orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
***
Hari ini, Barra dan Kayla izin untuk pulang lebih cepat. Mereka ada temu janji dengan salah satu desainer yang akan mereka percaya untuk membuat gaun pengantin mereka nanti. Waktu pelaksanaan pernikahan semakin dekat. Apalagi persiapannya sempat terhenti karena harus menyiapkan pernikahan Zidan.
Barra dan Kayla berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan Barra melajukan mobilnya menuju salah satu butik terkenal di Jakarta. Barra mengendarai mobilnya sedikit kencang. Karena tempatnya yang lumayan jauh dari tempat kerjanya.
Sekitar 45 menit kemudian, mereka sudah sampai di depan butik itu. Barra dan Kayla turun dari mobil dan segera masuk ke dalam.
"Halo tante Lisa," ucap Barra menyapa Lisa, desainer yang akan menangani pembuatan gaun pernikahan mereka. Barra cukup akrab dengan Lisa karena Alina sering mengajak Barra ke tempat ini.
"Hai, kalian sudah datang ya?" ucap Lisa. Ia menghentikan aktivitasnya. Kayla dan Barra tersenyum ramah.
Mereka duduk di sofa. Lisa mengambil beberapa contoh desain untuk diperlihatkan kepada Barra dan Kayla. Ia membuatkan desain tersebut khusus untuk mereka.
"Ini loh yang tante maksud tadi malam. Kalau ini desain yang baru jadi tadi pagi," ucap Lisa sambil menunjukkan hasil desainnya. Barta dan Kayla melihat satu persatu desain itu. Semua desainnya elegan dan anggun. Kayla jadi bingung ingin desain yang mana. Cukup lama mereka membolak balikkan kertas desain itu. Barra dan Kayla berdiskusi untuk memilih gaun yang cocok untuk mereka. Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk memilih salah satu dari desain tersebut. Desain yang sederhana namun tetap anggun bagi yang memakainya.
"Kita mau yang ini saja tante," ucap Barra. Ia menyerahkan kertas tersebut.
"Oke, apa ada lagi?" tanya Lisa. Barra menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah semuanya selesai, Barra dan Kayla memutuskan untuk pulang. Barra melajukan mobilnya dengan santai. Barra mengajak Kayla untuk nonton. Sudah lama mereka tidak kencan berdua. Hari ini ada waktu luang, mereka memanfaatkan untuk menghabiskan waktu mereka untuk bersama.
__ADS_1
Barra dan Kayla sampai di bioskop. Barra mengantri untuk membeli tiket sedangkan Kayla membeli minuman dan makanan ringan. Setelah mendapat tiket masuk, mereka segera masuk ke dalam bioskop untuk menonton film kesukaan mereka.
Selesai nonton, Barra mengajak Kayla berbelanja dan jalan-jalan sebentar. Meski hanya jalan-jalan biasa, Kayla sudah senang karena Barra mau menyempatkan waktunya khusus untuknya. Kayla menggelayut di lengan Barra sambil mereka berjalan beriringan menikmati suasana mall tersebut. Mereka berniat menghabiskan waktu bersama hingga sore hari.