Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 42 (season 2)


__ADS_3

Zara mulai memakan makanan yang diberikan oleh Raffa. Yah, mau bagaimana lagi, saat ini ia juga lapar. Untungnya Raffa memberikan dia bekal.


Selesai makan, ia menuju kantin untuk membeli minuman. Zara duduk di kursi yang tersedia di kantin. Ia termenung sejenak. Ingin sekali ia menghubungi Zidan. Namun saat ini pasti ia sedang sibuk bekerja.


Tak lama, kini ujian kedua dimulai. Zara dan yang lainnya mengerjakan soal yang sudah diberikan oleh dosen masing-masing mata kuliah. Waktupun berlalu, mereka sudah selesai dengan ujian hari ini.


Zara sengaja menunggu kelas sepi. Ia ingin mengembalikan kotak makan Raffa sekaligus berterima kasih kepadanya. Walaupun tak banyak bicara, Raffa sungguh baik padanya. Raffa peduli padanya bahkan tanpa berucap sepatah kata.


Setelah memastikan kelas sepi, Zara menghampiri Raffa yang masih duduk di kursinya.


"Raffa, terima kasih ya. Tadi makanannya enak. Ini, kotak makanmu," ucap Zara. Ia tersenyum lebar sambil menatap Raffa.


"Iya. Terima kasih juga karena kamu sudah menjaga abangku," jawab Raffa. Ia berjalan keluar kelas. Zara mengernyitkan dahinya. Ia tak paham dengan apa yang dikatakan Raffa barusan.


"Eh, maksud kamu apa? Siapa yang kamu maksud?" tanya Zara. Ia sedikit berlari menghampiri Raffa.


"Oh, jadi dia belum mengetahuinya ya," gumam Raffa.


"Bukan apa-apa. Lupakan saja," ucap Raffa dan ia kembali melangkahkan kakinya.


"Dari tadi pagi dia aneh banget. Ada apa sih sebenarnya? Menjaga abangnya? Bukannya abangnya minggu depan sudah mau tunangan?" batin Zara bingung.


Namun Zara tak mau memikirkan hal itu terlalu lama. Masih ada yang lebih penting yang ia pikirkan. Memikirkan Zidan misalnya, hehe.


Entah kenapa kakinya justru melangkah sekitar kafe dekat kampusnya. Zara ingin hangout di sana. Meskipun hanya sendirian, karena selama ini ia tidak punya teman dekat. Zara memesan minuman dan mencari tempat yang agak sepi. Ia ingin menikmati suasana kafe tersebut.


"Ini mbak pesanannya," ucap pelayan kafe itu. Zara tersenyum lebar.


"Terima kasih," ucap Zara. Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan meja Zara. Zara mengaduk minuman tersebut sebelum ia menyesapnya.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih ya sudah mau menemaniku makan siang ke sini," ucap seseorang. Zara mengenal suara itu. Itu seperti suara Karina. Zara mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Karina berada. Ia harus pergi dari kafe segera karena ia tidak ingin berurusan dengan Karina.


"Tunggu! Sepertinya aku mengenal laki-laki yang bersamanya," batin Zara. Ia mengamati Karina dan laki-laki itu.


Karena posisi Karina dan laki-laki itu membelakanginya, mau tak mau Zara harus membuntutinya. Rasa penasarannya begitu besar.


Namun, saat mereka akan menuju ruang VIP, Zara terkejut dengan laki-laki yang bersama Karina. Itu adalah Zidan. Dan ia membiarkan Karina bergelayut manja di lengannya. Zidan juga tidak protes dengan panggilan sayang yang dilontarkan oleh Karina.


"Sebenarnya apa hubungan mereka? Apa berita itu benar? Jadi, mereka berpacaran?" batin Zara bingung. Dadanya terasa sesak.


Untuk memastikan lagi, Zara sengaja menghubungi Zidan. Panggilan pertamanya tidak dijawab oleh Zidan. Lalu Zara menghubungi Zidan kembali.


"Halo, ada apa?" jawab Zidan. Raut wajahnya berubah senang seketika.


"Di mana? Aku kangen sama kamu sayang," ucap Zara. Sorot matanya masih memperhatikan Zidan dan Karina.


"Aku, aku lagi meeting sama klien. Maaf, aku tidak bisa menemuimu untuk saat ini," jawab Zidan. Kemudian ia mematikan sambungan teleponnya.


Dadanya semakin terasa sesak. Zidan berbohong padanya. Jelas-jelas Zara tahu Zidan ada di depan matanya bersama wanita lain. Namun ia tidak bisa melabraknya begitu saja. Tanpa terasa, air matanya luruh. Namun Zara segera mengusapnya. Zara sudah tak berselera untuk tetap berada di sana.


"Kamu bohong sama aku Zidan. Kenapa? Kamu takut jika aku tahu kamu jalan dengan perempuan lain?" gumam Zara. Ia tersenyum getir. Zara melangkah keluar dari kafe tersebut.


Zidan dan Karina menuju ruang VIP. Zidan sebenarnya hanya terpaksa menemani Karina makan siang. Semua yang diminta Karina ia setujui begitu saja. Zidan ingin segera pulang dan terlepas dari wanita itu.


Zara berjalan pelan menyusuri jalanan. Tatapannya kosong, ia masih terngiang dengan apa yang sempat ia lihat tadi.


"Sebenarnya kamu itu beneran cinta sama aku gak sih?" ucap Zara kesal. Ia mengacak rambutnya sendiri.


Tin

__ADS_1


Suara klakson mobil secara tiba-tiba dan mengagetkannya. Zara berbalik dan menatap siapa yang berada di dalam mobil itu.


"Raffa?" ucap Zara pelan. Ia mengernyitkan dahinya.


"Masuklah," ucap Raffa.


Namun Zara masih terdiam mematung. Ia merasa canggung untuk menyetujuinya. Meskipun ia dan Raffa tidak ada hubungan apapun, Zara enggan untuk pergi berdua dengan Raffa. Saat ini ia sudah punya pacar. Bukankah ini akan menimbulkan kesalahpahaman untuknya dan Zidan.


Raffa yang tak sabar menunggu Zara, ia keluar mobil dan menarik Zara agar masuk ke mobilnya. Sesaat Zara tersadar dan langsung meronta.


"Ti-tidak mau! Maaf, aku ada keperluan," ucap Zara asal. Ia tidak ingin mengecewakan kepercayaan Zidan padanya.


"Ke mana? Aku antar," ucap Raffa.


"Eh, itu.. Anu.." ujar Zara gugup. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Zara segera berlari menjauhi Raffa. Raffa tersenyum tipis. Raffa bersandar pada mobilnya dan memperhatikan Zara yang sedang berlari menghindarinya.


"Dasar bodoh! Kalau bukan karena pesan dari bang Zidan, mana mungkin aku bisa tahu kamu ada di sini. Bang Zidan juga, sudah tahu pacarnya ada di kafe itu tapi masih bersikap tenang saja," gumam Raffa. Ia masuk kembali ke mobilnya. Ia mengikuti Zara perlahan untuk memastikan jika Zara baik-baik saja.


Setelah memastikan Zara pulang dengan selamat, Raffa segera melajukan mobilnya kembali menuju rumah. Ia tadi harus berputar menuju jalanan dekat kafe yang ada di sekitar kampus demi menemui Zara. Meskipun ia gagal membawa dan menghibur Zara, setidaknya ia tahu Zara baik-baik saja.


Di ruang VIP kafe itu, Karina begitu antusias. Ini pertama kalinya Zidan mengajaknya makan bersama. Meskipun ini jauh dari kata romantis, dengan adanya Zidan di dekatnya, Karina begitu bahagia.


"Heh, aku yakin sebentar lagi Zidan akan menerimaku. Sikapnya begitu lembut hari ini. Pasti saat ini Zidan sudah jatuh cinta padaku, hehe," batin Karina senang.


"Sayang, kenapa hanya diam saja? Aku suapi ya," ujar Karina. Zidak dengan terpaksa menerima suapan Karina.


"Sudahkan? Ayo kita pulang sekarang," ucap Zidan datar.


"Kenapa buru-buru? Aku ingin berlama-lama denganmu di sini," ujar Karina.

__ADS_1


"Kamu tahu kan aku banyak kerjaan?Jika kamu tidak ingin pergi, biar aku pergi sendiri!" ujar Zidan tegas. Zidan berdiri dan melangkah keluar ruangan itu. Sedangkan Karina hanya memanyunkan bibirnya. Terpaksa Karina mengikuti Zidan.


__ADS_2