
Lima hari setelah Alina sakit, Arvin harus meninggalkan keluarga kecilnya untuk dinas ke luar kota. Seperti yang sudah ia bicarakan sama istrinya waktu itu. Dan ini membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu.
Selama Arvin dinas pula, Alina diungsikan ke rumah orang tuanya. Arvin tidak tega jika harus meninggalkan Alina di rumahnya dengan anak-anak meskipun ada pembantu di sana. Ia jauh lebih tenang jika ada keluarganya yang menjaga anak dan istrinya selama ia pergi.
Dengan berat hati ia harus bisa menyelesaikan dinasnya ini. Karena ini sudah ia pikirkan jauh-jauh hari.
Sebelum Arvin pergi, ia mengantar Alina ke kediaman Jovan, orang tua Alina. Bukannya tidak mau tinggal di kediaman orang tua Arvin, Alina lebih nyaman tinggal di rumah orang tuanya. Yang dulu juga pernah ia tempati sebagai saksi hidupnya dari kecil hingga dewasa.
Arvin menyetujuinya begitu saja. Asal Alina dan anak-anaknya nyaman, Arvin akan menurutinya.
"Aku pergi dulu sayang, jaga dirimu dan anak-anak kita baik-baik," ucap Arvin sambil mengecup kening Alina.
"Kamu juga, jangan terlalu lelah. Istirahatlah juga," ucap Alina yang merasa sedih ditinggal Arvin dinas ke luar kota.
Ini pertama kalinya Arvin turun tangan sendiri menangani beberapa meeting dan pekerjaan di luar kota. Dinas luar kota pertama kalinya setelah menikah. Memang, Arvin selalu memprioritaskan keluarganya. Itulah kenapa ia sering mengalihkan tanggung jawabnya kepada asistennya atau sekretarisnya.
Setelah berpamitan kepada orang tua, istri, dan anaknya, ia bergegas untuk berangkat hari ini juga. Semakin ia mengulur waktu semakin terbengkalai pekerjaannya.
"Mama itu senang banget kalau kamu menginap di sini," ujar Soraya sambil menata makanan di meja makan.
"Maaf ya Ma, Alina jarang ke sini," ucap Alina sambil memeluk mamanya. Soraya tersenyum dan mengusap lengan Alina.
"Nenek, Zidan mau makan. Sudah lapar," ucap Zidan yang tiba-tiba mendekat ke arah mereka.
Alina mendudukkan Zidan di kursi. Ia mengambilkan makanan untuk Zidan. Zidan makan dengan lahap.
"Kamu juga makanlah. Biar Barra mama yang jaga dulu," ucap Soraya kepada Alina. Alina mengangguk dan ikut makan.
Sore hari, Jovan pulang dari kantor. Ia merasa senang dengan kehadiran putri dan cucunya itu. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Alina karena kesibukannya di kantor. Setiap Alina berkunjung ke sinipun Jovan juga jarang di rumah.
__ADS_1
Karena merasa bosan, Alina memutuskan untuk menghubungi Dewi agar ikut bergabung ke sini. Tentu saja Dewi setuju, ia di rumah juga merasa bosan sendirian.
Malamnya Dewi baru datang bersama dengan Briant. Perut Dewi kini sudah membesar. Alina turut bahagia dengan kehamilan Dewi. Penantian yang begitu lama akhirnya membuahkan hasil.
"Umur berapa dek?" tanya Briant yang sedang menggendong Barra. Tetapi masih nampak kaku dan takut.
"Hampir 3 bulan kak," jawab Alina yang saat ini sedang menidurkan Zidan. Entah kenapa tiba-tiba Zidan merengek padanya minta tidur di pangkuan Alina.
"Nggak ingin nambah lagi gitu?" tanya Briant asal.
"Nambah, tapi nggak sekarang kak. Ingin bayi perempuan sih mas Arvinnya," jawab Alina. Briant mengangguk dan masih fokus dengan keponakannya itu.
Mereka mengobrol sangat lama sekali. Hingga kaki Alina terasa kebas karena sedari tadi memangku Zidan yang tidur. Sedangkan Barra masih bersama dengan Jovan dan Briant.
"Briant, kamu pindahin Zidan ke kamar gih, kasihan Alina dari tadi memangku Zidan pasti sudah lelah," ujar Soraya. Briant mengangguk dan mengambil alih Zidan untuk dibawa ke kamar Alina. Akhirnya, kaki Alina terbebas dan ia bisa meluruskan kakinya.
"Entahlah Ma. Dewi ikut dengan mas Briant saja," jawab Dewi sambil menunduk.
"Jangan pulang sekarang. Ini sudah malam. Tidak baik juga untuk kandunganmu," ujar Soraya menasihati. Dewi tersenyum tipis sambil mengangguk.
"Briant, apa kalian akan pulang sekarang?" tanya Soraya yang mendapati Briant sudah duduk di samping Dewi dan mengusap perut buncitnya.
"Kalau Briant pulang sekarang Ma. Kalau mama ingin Dewi menginap di sini nggak apa-apa," ucap Briant sambil memandangi Dewi.
***
Sudah satu minggu Alina berada di rumah orang tuanya. Di sini ia bisa lebih bersantai dan bermanja kepada Soraya dan Jovan. Bagaimana tidak, semua kebutuhan dirinya dan anak-anaknya sudah dicukupi oleh Soraya. Bahkan Alina sama sekali tidak melakukan pekerjaan rumah seperti yang ia lakukan waktu di rumah.
Hampir setiap malam juga dirinya melakukan panggilan video dengan Arvin. Entah sudah berapa kali Arvin mengeluh rindu kepada istri dan anak-anaknya. Namun pekerjaan di sana juga belum selesai. Ia harus menahannya dulu sekitar satu minggu lagi.
__ADS_1
Semenjak Alina tinggal bersama orang tuanya, Dewi juga ikut tinggal di sana. Tentunya juga atas izin dari Briant. Menemani Alina dan belajar jika nanti dirinya sudah menjadi ibu.
Sore ini, mereka sekeluarga sepakat untuk jalan-jalan ke mall. Memang sudah lama tidak ada waktu untuk keluarga seperti ini. Alina bahkan hampir tidak pernah keluar rumah jika bukan Arvin yang mengajaknya.
"Mommy, Zidan boleh main?" tanya Zidan yang mendongak ke arah Alina.
"Boleh sayang, tapi jangan jauh-jauh ya," ucap Alina dan Zidan mengangguk. Zidan bermain ditemani oleh Briant.
"Wi, gimana? Sudah periksa? Cewek apa cowok?" tanya Alina yang sudah duduk di kursi tak jauh dari tempat bermain Zidan. Sedangkan Barra jangan tanya lagi, ia masih nyaman bersama dengan Soraya.
"Kata dokter sih cewek Al," jawab Dewi sambil mengusap dan memandangi perutnya.
"Memang kelihatan banget sih, sepertinya kamu juga suka dandan akhir-akhir ini," ujar Alina disertai gelak tawanya.
"Nggak tahu juga. Banyak yang bilang gitu sih, tapi apapun itu yang terpenting sehat dan lancar sampai persalinan nanti," ucap Dewi dan tersenyum tipis membayangkan dirinya jika bayinya sudah keluar. Alina tersenyum dan mengusap lengan Dewi.
Setelah puas bermain, mereka memanjakan diri dengan berbelanja pakaian, tas, sepatu dan bahkan ke salon untuk merawat diri. Alina merasa bebas seperti sebelum ia menikah dulu.
Pukul 19.00 mereka baru sampai di rumah. Oke, jalan-jalan sekaligus belanja adalah hal yang paling membahagiakan. Karena merasa lelah, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Sedangkan Alina harus menidurkan dua putranya terlebih dahulu.
"Mommy, Zidan ngantuk," rengek Zidan saat Alina sedang menyusui Barra.
"Zidan tidur sendiri dulu ya. Mommy masih nyusui adik Barra sayang," ucap Alina agar Zidan mengerti keadaannya sekarang.
"Zidan tungguin," ujar Zidan dan naik ke kasur. Zidan sebenarnya sudah mengantuk sekali, namun ia hanya ingin tidur dengan dipeluk oleh Alina.
Alina merasa kasihan melihat Zidan. Namun ia juga tidak bisa meninggalkan Barra yang masih menyusu.
"Sini, mommy peluk sayang," ucap Alina dan memposisikan dirinya bersandar di ranjang. Zidan memeluk Alina dari samping.
__ADS_1