Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 36 (season 2)


__ADS_3

"Nona Zara..."


"Nona?" panggil Fanny yang melihat Zara berjalan sambil melamun. Zara menoleh ke arah Fanny dengan malas.


"Eh, tuan Fanny. Ada apa?" ucap Zara terkejut. Fanny tersenyum tipis.


"Nona kenapa ada di sini? Bukankah ruangan tuan muda berada di sebelah sana," ujar Fanny.


"Hah? Memangnya ini di mana?" tanya Zara linglung. Ia mengedarkan pandangannya mengelilingi tempat tersebut.


"Astaga, kenapa bisa sampai di sini sih," batin Zara. Ternyata ia tadi berjalan menuju ruang salah satu karyawan di kantor tersebut. Zara merasa malu sendiri.


"Apa nona sedang ada masalah? Apa itu berhubungan dengan tuan muda?" tanya Fanny penasaran. Meskipun itu bukan urusannya karena itu adalah privasi Zara. Zara hanya terdiam.


"Sebaiknya nona segera menuju ke ruangan tuan muda. Anda sudah ditunggu oleh tuan muda," ujar Fanny kembali. Zara hanya tersenyum kemudian melangkah menuju ruangan Zidan. Namun sebelum Zara memasuki ruangan Zidan, ia berusaha untuk melupakan kegalauannya. Ia berusaha ceria dan tersenyum seperti sedia kala. Lalu Zara mulai membuka pintunya dan masuk ke dalam.


"Bukannya sudah berangkat dari setengah jam yang lalu? Kok baru datang?" tanya Zidan. Ia menghampiri Zara yang sudah duduk di sofa.


"Iya, tadi jalanan macet. Maaf ya sayang," jawab Zara. Ia mencubit kedua pipi Zidan dengan gemas.


"Makanlah, aku spesial membuatkan ini untuk kamu. Spesial pakai cinta bukan pakai telur," ucap Zara. Zidan tertawa kecil melihat tingkah Zara yang lucu menurutnya.


"Ayo sini, aku ingin menyuapimu," ujar Zara kembali. Entah kenapa Zidan juga hanya pasrah saat Zara menyuruhnya ini itu. Zidan merasa senang karena Zara begitu memerhatikannya. Zara menyuapi Zidan dengan makanan itu hingga habis tanpa sisa. Setelah selesai, Zara kembali murung. Memang, perasaan tidak bisa disembunyikan apalagi jika berusaha baik-baik saja.


Zidan memeluk Zara dari belakang. Ia menyandarkan dagunya ke bahu Zara. Ia tahu jika Zara saat ini sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Zidan lembut.


"Tidak ada apa-apa. Kamu kembalilah bekerja. Aku akan belajar dengan mbak Aletta lagi," ucap Zara. Namun Zidan mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Cerita dulu ada apa?" tanya Zidan penasaran. Zara menghela napasnya sejenak. Ia menoleh menatap Zidan yang masih memeluknya.


"Hanya kangen sama kamu saja," jawab Zara.


"Benarkah?" tanya Zidan menyelidik.


"Bagaimana kalau hari ini nggak usah kerja. Aku mau berduaan sama kamu saja," ujar Zidan lagi. Zara mengernyitkan dahinya.


"Mana boleh seperti itu," ucap Zara. Ia beralih menghadap Zidan. Zara memeluk Zidan kembali. Ia beruntung, Zidan begitu menyayanginya. Zara melepas kembali pelukan tersebut. Ia meminta Zidan untuk kembali bekerja. Zara beralih menuju ruangan Aletta.


Tanpa terasa, kini sudah semakin sore. Waktunya para karyawan untuk pulang begitu juga dengan Aletta. Hari ini Zara mendapatkan beberapa ilmu penting yang tidak ia dapat waktu di kampusnya. Zara termasuk orang yang cerdas. Dengan mudah ia memahami pekerjaan itu.


"Terima kasih ya mbak sudah mau mengajari Zara," ucap Zara dengan ramah.


"Sama-sama. Kalau ada kesulitan apapun bisa langsung ditanyakan. Zara tidak usah malu," jawab Aletta. Zara mengangguk senang.


Zara menuju pantry. Ia menyiapkan kopi untuknya dan Zidan. Mungkin ini hanya minuman kopi biasa, namun bagi Zidan itu adalah yang paling istimewa. Setelah selesai, Zara segera menuju ruangan Zidan.


"Semua sudah tahu beritanya belum?" bisik seorang karyawan yang baru menuju pantry. Zara berjalan pelan. Ia penasaran dengan apa yang dibicarakan karyawan itu.


"Iya, aku juga baru tahu," ucap salah seorang karyawan lagi.


"Wahh, mereka sangat cocok ya. Nona Karina begitu elegan pantas saja tuan Zidan tergila-gila dengan nona Karina," timpal mereka. Mereka tidak menyadari bahwa Zara menguping pembicaraannya.


"Apa yang mereka maksud? Bukankah berita itu sudah dihapus beberapa hari yang lalu?" batin Zara. Ia diam-diam mendekat ke arah mereka. Zara melirik postingan itu. Ia ingin tahu berita apalagi yang diunggah di media sosial mengenai Zidan dan Karina.


"Aku harus segera cek berita itu," batin Zara. Ia segera menuju ruangan Zidan. Ternyata Zidan sudah menunggu Zara di dalam. Melihat kedatangan Zara, Zidan tersenyum tipis.


"Sayang, duduklah," ucap Zidan. Zara berusaha tersenyum. Meski itu hanyalah berita hoax, ia juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

__ADS_1


Zara meletakkan secangkir kopi di depan Zidan. Setelah itu, ia buru-buru mengambil ponselnya untuk melihat berita tadi. Zidan yang tahu Zara mengambil ponselnya langsung merebut ponsel Zara. Zidan mengantongi ponsel Zara.


"Eh, kenapa diambil?" tanya Zara kesal.


"Aku nggak suka kamu main ponsel saat kita bersama," jawab Zidan santai. Yang sesungguhnya Zidan sudah melihat berita tadi. Ia berusaha menekan media yang memberitakan hal yang tidak benar tentangnya. Fanny yang sedang mengurus semua masalah itu. Zidan tidak ingin membuat Zara khawatir tentang hubungan mereka.


Karina memang semakin berani. Beberapa kali Zidan mengancamnya justru Zidan yang diancam balik oleh Karina. Kelemahan Zidan hanyalah Zara. Zidan tidak ingin membuat Zara terlibat dengan pertikaiannya dengan Karina. Namun untuk saat ini Zidan tidak bisa berbuat banyak. Ia harus bersabar sedikit lagi dan mungkin akan menyakiti dirinya juga Zara.


Zara melipat dadanya di depan dadanya. Ia memanyunkan bibirnya. Rasa penasarannya begitu besar. Dan ketika ia ingin mengorek informasi itu, Zidan menyita ponselnya.


"Jangan pasang wajah seperti itu. Menggemaskan tahu nggak?" ucap Zidan mencairkan suasana. Ia mencubit hidung Zara dengan kuat.


"Aduh, sakit sayang," ucap Zara. Ia memukul lengan Zidan. Zidan menarik Zara dan memeluknya.


"Kamu percaya sama aku kan?" tanya Zidan dengan lembut.


"Iyalah. Memangnya kenapa?" tanya Zara.


"Aku akan menikahimu sebentar lagi," ujar Zidan. Zara menatap Zidan dengan tajam.


"Secepat itu?" tanya Zara tidak percaya.


"Kenapa? Tidak percaya jika aku bisa melakukan itu semua?" tanya Zidan santai.


"Bukan begitu, aku saja belum kenal dengan keluarga kamu. Dan mungkin, mereka belum tentu bisa menerimaku kan," ucap Zara pelan. Zidan menangkup wajah Zara.


"Kamu tenang saja. Orang tuaku bukan orang seperti itu. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya?" ucap Zidan yakin. Pipi Zara memerah. Ia senang jika Zidan serius terhadapnya.


"Aku ingin sekali membawamu menemui orang tuaku Zara, tapi untuk saat ini waktunya belum tepat. Barra sedang merencanakan pernikahannya. Jika aku tiba-tiba datang untuk mengenalkanmu, pasti mereka akan menyuruh kita segera menikah juga. Aku hanya ingin papa dan mommy fokus dulu terhadap pernikahan Barra," batin Zidan.

__ADS_1


__ADS_2