Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 72 (season 2)


__ADS_3

Satu minggu berlalu.


Waktu semakin cepat berlalu. Satu minggu sudah Barra dan Kayla berada di hotel tersebut untuk menikmati bulan madu mereka. Meskipun hanya di tempat yang tak jauh dari rumah mereka, namun Barra dan Kayla tetap senang. Mereka sangat menikmati setiap momen berduaan sebelum kembali ke rutinitas.


Sedangkan Zidan dan Zara sudah lebih dulu meninggalkan hotel sekitar dua hari yang lalu. Karena Zara yang terus meminta untuk segera ke panti asuhan. Mau tidak mau Zidan juga harus menuruti Zara. Ia tidak ingin Zara sedih lagi karenanya. Selagi apa yang diminta Zara masih dalam batas wajar, Zidan dengan senang hati mengabulkannya.


Barra dan Kayla sudah berkemas dan bersiap untuk pulang ke rumah. Mereka juga sudah sepakat untuk tinggal bersama orang tua Kayla. Walaupun hanya sementara sampai mereka punya rumah sendiri untuk ditinggali.


"Sudah siap?" tanya Barra. Kayla mengangguk. Mereka berjalan beriringan keluar kamar hotel. Barra dan Kayla akan tinggal beberapa hari di rumah Arvin sebelum pindah ke rumah orang tua Kayla. Sekalian juga ia pamit kepada keluarganya.


Barra dan Kayla langsung menuju ke kediaman Arvin. Mereka naik taksi online, karena Barra yang tak membawa mobilnya. Setelah beberapa saat, kini ia sampai di kediaman Arvin.


Setelah membayar taksi online tadi, Barra dan Kayla langsung masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya.


"Mommy," ucap Barra. Alina yang lagi membersihkan area ruang tamu langsung menatap ke sumber suara. Alina sangat bahagia, akhirnya Barra dan menantu barunya pulang juga.


"Apa kabar sayang?" tanya Alina. Ia memeluk Barra dan Kayla bergantian.


"Baik Mom. Di mana papa dan yang lainnya?" tanya Barra.


"Papamu sedang bekerja. Raffa berada di restoran dan Alisya masih sekolah," balas Alina. Mereka pamit untuk ke kamar sebentar, setelah itu kembali lagi ke ruang tengah untuk mengobrol dengan Alina sambil melepas penatnya.


Alina melanjutkan lagi membersihkan rumahnya dengan dibantu oleh Kayla untuk pertama kalinya. Meskipun baru sampai di rumah, Kayla tidak merasa lelah. Justru ia akan merasa tidak enak hati jika hanya duduk berdiam di rumah tanpa melakukan apapun. Sedangkan mertuanya sibuk bekerja membereskan rumah.


"Kay, kalau capek istirahat saja. Mommy bisa selesaikan sendiri kok," ucap Alina dengan lembut. Ia tidak ingin membebani menantunya.

__ADS_1


"Tidak apa Mom. Kayla suka kok membantu mommy," balas Kayla. Ia mengambil alih sapu yang dipegang Alina dan melanjutkan menyapunya. Sedangkan Alina menyelesaikan yang lainnya.


Di tempat lain, Zara sudah berada di panti asuhan. Ia duduk bersama dengan anak-anak panti di taman bermain. Kelucuan mereka membuat Zara tenang dan nyaman. Ayana berlari dan langsung menghampiri Zara. Ia berdiri tepat dihadapan Zara yang sedang duduk.


"Kak Zara, apa benar kak Zara akan memiliki dedek bayi?" tanya Ayana dengan polos. Zara tersenyum dan menyentuh pipi Ayana dengan lembut.


"Iya, doakan semoga dedek bayinya sehat ya," ucap Zara. Ayana mengangguk yakin.


Ia sendirian menjaga anak-anak. Karena Zidan yang harus bekerja agar perusahaannya tetap berjalan lancar. Meskipun Zidan harus bolak-balik dari panti sampai ke kantornya dengan jarak yang lumayan jauh.


Waktu sudah hampir menunjukkan jam makan siang. Sudah lama juga Zara dan anak-anak panti itu berada di taman bermain area panti. Meskipun tempatnya rindang dan sejuk, Zara harus tetap banyak beristirahat. Apalagi perutnya yang semakin membuncit. Ia akan mudah lelah dan emosinya tidak stabil.


"Sayang, kita kembali ke panti yuk," ucap Zara. Anak-anak tersebut langsung berlarian untuk masuk ke dalam panti, termasuk Ayana. Zara hanya memperhatikan mereka sambil tersenyum lebar.


"Zara," panggil bu Yasmin. Zara yang sudah berada di ambang pintu langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap bu Yasmin yang berdiri di belakangnya.


"Ibu? Ada apa bu?" tanya Zara.


"Bisa bicara sebentar?" tanya bu Yasmin. Zara mengangguk. Mereka menuju ke ruangan bu Yasmin. Sampainya di ruangan bu Yasmin, bu Yasmin menutup pintunya dan tak lupa menguncinya. Ia ingin berbicara hal pribadi dengan Zara.


Zara menatap bu Yasmin bingung. Ia tidak tahu apa yang akan ditanyakan oleh bu Yasmin padanya sehingga begitu privasi. Zara duduk di sofa dan disusul oleh bu Yasmin yang duduk di samping Zara. Bu Yasmin memandangi Zara dan tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah masih sering mual?" tanya bu Yasmin memulai pembicaraan.


"Tidak bu, Zara sudah merasa lebih baikan," balas Zara.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu," ucap bu Yasmin dan mengusap punggung tangan Zara yang ia letakkan di atas pahanya. Setelah itu suasana menjadi hening. Zara dan bu Yasmin tak lagi saling bicara.


"Ada yang ingin ibu tanyakan sejak dulu. Tapi ibu ragu untuk bertanya padamu Zara," ucap bu Yasmin. Ia menatap Zara sekilas. Zara mengernyitkan dahinya.


"Jika ibu ingin bertanya, tanya saja. Zara pasti akan menjawabnya," ujar Zara.


"Apa alasan utama Zara ingin segera menikah? Dari yang ibu lihat, sepertinya dulu kalian sangat tergesa-gesa?" tanya bu Yasmin.


Deg


Jantung Zara berpacu kencang. Ia tak menduga sebelumnya jika bu Yasmin akan bertanya seperti ini. Zara bingung antara memberitahukan alasan sebenarnya atau tidak. Tetapi ia juga tidak ingin berbohong dengan bu Yasmin. Wajah Zara sedikit pucat karena takut dan gugup. Meskipun itu sebuah kecelakaan, namun Zara takut jika bu Yasmin akan memarahinya dan membencinya.


"Zara?" panggil bu Yasmin dan menyadarkan lamunan Zara. Tiba-tiba saja air mata Zara luruh begitu saja. Antara sedih dan takut, entahlah. Perasaannya bingung.


"Maaf bu, Zara sudah mengecewakan ibu," ucap Zara sambil memeluk bu Yasmin. Ia semakin menangis. Bu Yasmin yang tak paham dengan kondisi Zara juga merasa bingung. Ia mengusap lembut rambut Zara.


"Apa yang sudah Zara lakukan sehingga sampai sedih seperti ini?" tanya bu Yasmin.


"I-itu... Zara dan Zidan sudah... Sudah melakukan kesalahan besar sehingga kami harus segera menikah bu," ucap Zara pelan. Bu Yasmin memejamkan matanya.


"Kenapa tidak cerita sama ibu? Apa Zara sudah tidak menganggap ibu sebagai ibumu lagi?" tanya bu Yasmin. Ia terus mengusap rambut Zara dengan lembut. Zara masih berada dalam pelukan bu Yasmin.


"Zara takut, Zara takut ibu marah dan kecewa dengan Zara," balas Zara. Bu Yasmin menghela napasnya pelan. Bagaimanapun itu sudah terjadi. Bu Yasmin hanya sedikit kecewa karena Zara tidak bercerita padanya.


"Jangan ulangi lagi. Apapun masalah Zara, ceritalah pada ibumu nak, janji?" ucap bu Yasmin. Zara mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. Meskipun bukan ibu kandung, bu Yasmin sungguh menyayangi Zara layaknya putri kandungnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2