
Last episode😘
Baca perlahan dan resapi.
Semoga suka dengan endingnya🙏
***
"Apa kabarmu? Waahh, beberapa tahun tidak bertemu kamu sudah hamil lagi?" tanya Ranti sambil perlahan mendekati Alina. Alina mundur dengan takut.
"Ka-kamu mau apa?" ucap Alina gugup.
"Mau apa? Apakah masih harus ditanyakan lagi?" ujar Ranti sinis.
"Jangan mendekat atau aku akan teriak!" ancam Alina.
"Hahahahahahaa....." Ranti tertawa keras.
"Kamu pikir akan ada yang mendengarkanmu? Jangan bodoh Alina," ucap Ranti dan terus mendekati Alina.
Ranti mencengkram lengan Alina dengan kasar. Alina terlihat ketakutan. Ia tidak bisa lari dengan kondisinya saat ini. Tapi bagaimana ia kabur dari wanita ini?
"Kamu harus merasakan apa yang pernah aku rasakan Alina! Kau membuatku kehilangan orang yang aku cintai. Jika aku membuatmu kehilangan bayi yang ada diperutmu saat ini bagaimana menurutmu?" ujar Ranti dan menyeringai.
"Ja-jangan. Aku mohon jangan Ranti. Tolong jangan lakukan itu. Lepaskan aku Ranti. Aku bahkan selalu baik padamu selama ini. Tapi kenapa kamu berbuat seperti ini padaku?" ucap Alina dengan tubuh gemetar. Ia hanya takut jika Ranti benar-benar menyakiti bayi yang ada di kandungannya yang bahkan beberapa hari lagi akan lahir.
Ranti berbalik dan menepuk tangannya berulang kali. Ia tertawa lepas. Ia begitu senang melihat Alina ketakutan seperti itu. Terakhir kalinya Arvin telah membuat hidupnya serasa di neraka. Ranti bertekad untuk membalas dendam bagaimanapun caranya.
"Yah, aku akui kau memang sangat baik padaku Alina. Tapi, apakah kau tahu apa yang telah suamimu lakukan padaku?" ujar Ranti sambil mengepalkan tangannya. Bahkan Arvin tak memberikan kesempatan padanya untuk hidup. Jika ia tak berhasil kabur waktu itu mungkin ia akan mati secara perlahan.
Alina perlahan menuju pintu berharap untuk kabur dari cengkraman Ranti. Dirinya tak bisa membahayakan calon anaknya. Sialnya, Ranti mengetahui gerak-gerik Alina. Ranti menarik Alina menjauh dari pintu tersebut.
"Kau tahu apa ini?" Ranti mengeluarkan suntik dan memainkannya di tangannya. Memutar-mutar suntik tersebut.
"Kau mau apa Ranti. Aku mohon lepaskan aku," pinta Alina semakin ketakutan.
"Jika aku menyuntikkan ini padamu, aku yakin tak butuh waktu lama anak yang ada di kandunganmu akan mati Alina. Mau coba sekarang?" ujar Ranti menyeringai.
"Tidak! Tolong jangan lakukan itu," Alina semakin takut.
__ADS_1
Ranti perlahan mendekat. Ia menatap Alina penuh kebencian. Yang ada dalam dirinya hanyalah ingin membalaskan dendamnya. Ia tak peduli lagi akibat yang akan ia tanggung nantinya.
Saat Ranti ingin mengarahkan suntik tersebut ke arah Alina, Alina menahan tangan Ranti dan menghempaskan tangan Ranti dengan kasar. Alina menjauh dari Ranti. Ranti menatap dan menyeringai.
"Kamu harus tenang Alina. Temukan celah untuk bisa kabur darinya," batin Alina.
Tanpa Ranti sadari, Alina diam-diam menghubungi Arvin. Ia berharap suaminya dengan cepat menemukannya. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengulur waktu.
"Mau lari? Sayangnya sudah tidak ada jalan lagi Alina," ucap Ranti kembali mendekati Alina.
"Ranti, aku mohon. Jangan lakukan ini pada anakku," ucap Alina memohon.
Ranti sudah kehabisan kesabaran. Ia ingin segera mengakhiri drama ini. Ia tak ingin gagal kali ini.
Saat Ranti ingin menusukkan suntiknya kembali, Alina mendorong dengan kasar Ranti. Sehingga Ranti jatuh tersungkur.
"Ini kesempatanku untuk kabur," gumam Alina. Ia segera berlari menuju pintu dan ingin segera pergi dari sana.
"Bertahanlah sedikit lagi sayang. Mommy tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu," ucap Alina sedikit berlari dari sana. Ia harus segera sampai di tempat suaminya.
"Sial! Alina, jangan harap kau bisa kabur dariku," ucap Ranti. Ia segera mencari Alina.
Alina merasa tak kuat. Perutnya semakin sakit. Tapi ia tak ingin menyerah begitu saja. Alina mengambil ponselnya untuk mengecek apakah tersambung dengan ponsel suaminya. Ternyata iya dan kini Arvin sedang kebingungan mencari Alina.
"Mas tolong aku. Ran-Ranti ingin mencelakai anak kita mas," ucap Alina sambil terus berjalan menjauh dari tempat tersebut.
"Kamu di mana sayang?" tanya Arvin.
"Aku di dekat ah," belum selesai menjawab, ponselnya terjatuh akibat berbenturan dengan orang lain. Bahkan ia kebingungan untuk mengambil ponselnya. Ini terlalu ramai. Bahkan ia tak tahu di mana ponselnya sekarang.
"Alina, mau lari ke mana kamu?" ucap Ranti yang tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.
Alina mengabaikan ponselnya dan terus berjalan menuju tempat ia meninggalkan suaminya tadi. Alina mengembangkan senyumnya saat melihat suaminya yang tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Mas, tolong," ucap Alina sedikit berteriak. Keringat membasahinya namun ia tak peduli. Perutnya semakin sakit. Napasnya terengah menahan sakitnya.
Arvin menemukan Alina. Ia buru-buru menghampiri istrinya itu. Namun di belakang Alina, Ranti sudah semakin dekat dengan istrinya itu sambil memegang suntik ditangannya.
Saat ingin menusukkannya di tubuh Alina, Farhan dengan cepat membungkam mulut Ranti dengan kain dan membawanya menjauh dari Alina.
__ADS_1
"Sayang, ada apa? Kamu?" ucap Arvin. Air ketuban Alina sudah pecah. Alina semakin lemas.
"Mas, sakit," ujar Alina dipelukan Arvin. Arvin buru-buru menggendong Alina menuju mobil. Sebelum melajukan mobilnya, Arvin menghubungi beberapa anak buahnya untuk mengurus keselamatan putranya.
Alina terus mengeluh kesakitan. Ia mencengkram tangan Arvin dengan kuat. Arvin berulang kali mengelus perut Alina. Dirinya tak boleh panik. Ia harus tetap tenang.
Sampai di rumah sakit terdekat, Arvin langsung membawa Alina ke UGD. Setelah ditangani oleh dokter, Alina dibawa ke ruang operasi. Dokter menyiapkan segala keperluan untuk persalinan Alina.
Di dalam ruang operasi tampak tegang. Arvin terus menemani Alina dan memberikan dukungan dan bisikan untuk membuat Alina lebih tenang.
Dokter memberikan pengarahan pada Alina. Tetapi bayinya tak kunjung keluar. Beberapa kali dorongan tetap saja bayinya susah keluar. Dokter meminta perawat segera menyiapkan alat untuk melihat bayi yang ada di kandungan Alina.
"Maaf pak. Bayinya terlilit oleh tali pusar sehingga susah untuk keluar. Kami harus melakukan operasi sesar sekarang juga mengingat kondisi bu Alina yang seperti ini," saran dokter tersebut.
Deg
Jantung Arvin seraya berhenti saat itu juga. Operasi? Ia trauma dengan namanya operasi. Arvin takut terjadi apa-apa pada istrinya.
"Pak?" panggil dokter tersebut.
Arvin tersentak. Ia menatap istrinya yang sedang kesakitan itu. Arvin tak tega melihatnya terus merasakan sakit.
"Baiklah dokter, lakukan saja apapun yang terbaik untuk mereka," ucap Arvin. Setelah menandatangani surat persetujuan, dokter langsung melakukan persiapan untuk operasi sesarnya.
Alina dibius setengah badan. Arvin terus mendampingi Alina. Ia tak mau beralih sedikitpun dari istrinya.
Setelah berjam-jam, akhirnya operasinya berhasil. Bayi perempuan yang cantik dan imut mereka telah lahir ke dunia. Arvin dan Alina menghela napasnya lega. Betapa bahagianya mereka saat ini. Meski ada sedikit drama sebelum proses kelahiran anaknya ini. Bayi perempuan yang mereka beri nama Alisya Clarissa Kirania. Lengkap sudah kini kebahagiaan mereka.
Ranti juga sudah ditangani oleh Farhan. Arvin tak akan segan lagi dengan gadis itu, karena hampir saja membahayakan nyawa istri dan anaknya.
"Selamat pak, putri bapak telah lahir," ucap dokter tersebut. Dokter tersebut memberikan kepada Arvin untuk digendong sebentar. Air mata Arvin luruh begitu saja. Betapa bahagianya ia hari ini. Arvin mendekati Alina dan tersenyum lebar.
"Terima kasih sayang. Kamu sudah melahirkan bayi secantik ini. Cantik seperti dirimu," ujar Arvin dan menciun kening Alina.
Anak adalah anugrah Tuhan yang harus dijaga. Jika dulu Alina sempat berpikiran bahwa ingin menggugurkannya, itu adalah kesalahan terbesarnya dalam hidup. Kini dengan hadirnya bayi perempuannya terasa lengkaplah sudah kebahagiaan dalam rumah tangganya.
Bayi perempuan yang sangat mereka nantikan kehadirannya. Yang sangat mereka harapkan di setiap kehamilan Alina. Tiga putra dan satu putri, harta yang paling berharga dalam kehidupannya.
***
__ADS_1
Selesai...
Terima Kasih❤❤💋