Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 61 (season 2)


__ADS_3

Malam harinya, setelah makan malam semua berkumpul di ruang tengah. Tak terkecuali Zara dan Zidan. Zidan juga tidak malu lagi jika ia ingin berduaan dengan Zara. Duduk di samping Zara dan bermanja.


Mereka saling mengobrol santai sambil menonton acara tv kesukaan mereka.


"Sayang, mommy sama papa ke kamar duluan ya, mau istirahat. Kalian jangan terlalu malam tidurnya nanti," ucap Alina. Mereka mengangguk.


Alina dan Arvin bergegas menuju kamarnya. Alina segera merebahkan dirinya di atas kasur kemudian disusul oleh Arvin yang juga berbaring di sampingnya. Karena faktor usia membuat mereka mudah lelah dan ingin cepat istirahat.


"Untuk persiapan pernikahan Zidan bagaimana?" tanya Arvin sambil membenahi posisi bantalnya agar nyaman.


"Sudah hampir selesai, lagipula hanya pernikahan sederhana sajakan?" jawab Alina. Arvin mengangguk. Ia menarik Alina masuk dalam pelukannya.


"Tidurlah, kamu sudah bekerja keras hari ini sayang," bisik Arvin kemudian mengecup kening Alina sekilas.


"Kamu juga mas," balas Alina. Lalu mereka memejamkan matanya.


Di ruang tengah, Alisya merasa sudah mengantuk, ia pamit untuk ke kamar terlebih dahulu. Tak lupa juga Zara ikut bersamanya, karena Zara merasa canggung jika berhadapan dengan tiga pria meskipun nanti akan menjadi bagian keluarganya.


Barra beralih duduk di samping Raffa. Ia menepuk bahu Raffa sekilas dan bersandar di sofa.


"Raffa, bagaimana? Sudah punya pandangan belum?" tanya Barra sambil terkekeh. Raffa mengernyitkan dahinya.


"Pandangan apa?" tanya Raffa bingung. Barra menghela napasnya sejenak.


"Wanita yang akan kau jadikan pacar," bisik Barra.


"Tidak ada!" jawab Raffa singkat. Barra merangkul Raffa.


"Ayolah, wajah setampan ini masa iya tidak punya pacar. Rugi dong, haha," ujar Barra bercanda. Zidan yang mendengarnya hanya menatap mereka dan tersenyum tipis.


"Biasa saja," balas Raffa. Zidan tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Raffa. Adiknya yang satu ini memang pendiam dan dingin.


"Ayolah, sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini? Kata mommy, Viona lagi berusaha mendekatimu? Mau aku ajari bagaimana caranya mendekati wanita, hem?" ucap Barra. Ia menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Tidak suka! Dia terlalu berisik," jawab Raffa. Ia kemudian berlalu meninggalkan Barra dan Zidan. Raffa paling tidak suka diganggu oleh abangnya.


"Aih, tetap saja dingin," gumam Barra. Zidan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Zidan berdiri dan ingin kembali ke kamarnya.


"Mau ke mana?" tanya Barra.


"Ke kamar, apa kamu mau di situ sampai pagi?" ujar Zidan sambil berjalan ke kamarnya. Barra tidak ingin kembali ke kamarnya terlebih dulu. Ia ingin menonton acara tv sebentar. Lagipula ia juga belum mengantuk.


Malam semakin larut, kini sudah pukul 23.00. Zara terbangun dari tidurnya. Ia duduk dan menatap Alisya sebentar. Alisya masih terlelap dalam tidurnya. Ia tidak bisa tidur hari ini. Zara tiba-tiba saja merasa lapar. Ia mengendap menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.


"Siapa yang masih terjaga di ruang tv?" guman Zara. Zara berjalan menuju ruang tengah untuk melihat siapa yang masih berada di ruangan itu.


"Loh, kak Barra belum tidur?" tanya Zara yang melihat ternyata Barra masih asik menonton televisi. Barra menoleh menatap Zara.


"Eh, iya. Ini lagi asik nonton. Kenapa kamu juga tidak tidur?" tanya Barra balik.


"Aku lapar, jadi mau ke dapur. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa aku makan," jawab Zara. Barra hanya mengangguk.


Zara bergegas ke dapur. Ini sudah larut malam. Jika ia memasak sesuatu pasti akan membangunkan mereka yang sudah tertidur. Zara mencari-cari sesuatu di dalam kulkas.


"Sssttt... Jika kamu berisik, mereka akan bangun sayang," bisik orang tersebut. Zara mengenali suara ini. Ia adalah Zidan.


"Lepaskan dulu," ujar Zara. Zidan melepas tangannya yang menutupi mata Zara. Zara bangkit dan kini menatap Zidan.


"Kamu menakutiku Zidan. Aku pikir tadi maling," ucap Zara sedikit kesal. Zidan tersenyum. Ia menarik Zara ke meja makan.


"Lagi cari apa? Tumben belum tidur," ujar Zidan. Zara menghela napasnya pelan.


"Aku lapar," ucap Zara memelas.


"Mau aku buatkan sesuatu?" tanya Zidan menawarkan diri. Zara tersenyum lebar. Ia mengangguk dengan cepat. Zidan mengusap puncak kepala Zara sekilas.


"Tunggu di sini ya," ucap Zidan. Ia bergegas menuju dapur untuk memasak makanan.

__ADS_1


Zara memperhatikan Zidan yang sedang fokus memasak. Ia tersenyum lebar. Zara merasa beruntung mendapatkan laki-laki baik yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Laki-laki yang bertanggung jawab dan sabar menghadapinya.


"Begini ya rasanya kalau sudah punya suami, hehe," gumam Zara sambil terus memperhatikan Zidan.


Tiga puluh menit kemudian, Zidan sudah selesai memasak. Ia terlihat cukup lihai dalam memasak. Zidan membawa hasil karyanya ke meja makan. Tak lupa juga ia mengambil nasi.


"Makanlah," ucap Zidan.


"Hanya ini yang terlintas dipikiranku tadi. Nggak apa-apa kan?" tanya Zidan lagi. Ia hanya memasak capcay dan menggoreng udang.


"Ini sudah cukup. Terima kasih sayang," ucap Zara. Ia setengah berdiri dan mencium pipi Zidan sekilas. Seketika pipi Zidan memerah.


Zara mulai memakan makanan itu dengan lahap. Zidan senang jika Zara menyukai masakannya. Ia bahkan sudah lama tidak memasak, ia tak yakin jika masakannya cocok dilidah Zara.


"Sayang, apa kamu tahu, kamu adalah orang pertama yang memakan masakanku," ujar Zidan. Zara mendongak menatap Zidan sekilas.


"Oh iya? masakan seenak ini belum pernah ada yang mencicipinya?" tanya Zara. Zidan menggeleng pelan.


"Sayang sekali, padahal enak banget," gumam Zara. Ia terus memakan makanannya dengan lahap. Hingga tanpa terasa makanan tersebut habis tanpa sisa.


"Jangan memperhatikanku seperti itu Zidan," ucap Zara salah tingkah. Zidan tersenyum lebar.


Setelah selesai makan, Zidan mengajak Zara ke halaman belakang. Ia hanya ingin berduaan dengan Zara malam ini. Kini mereka sudah duduk di kursi. Zidan menarik Zara ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut puncak kepala Zara dan sesekali menciumnya.


"Zidan, apakah boleh seperti ini? Bagaimana jika tante melihat?" tanya Zara sambil mendongak menatap Zidan. Zidan mengecup hidung Zara sekilas.


"Kenapa? Kita sudah mau menikah kan? Apa yang perlu ditakutkan," jawab Zidan santai.


Mereka tak banyak membicarakan sesuatu. Zidan dan Zara saling menikmati moment yang jarang mereka lakukan akhir-akhir ini.


"Sayang," panggil Zidan dengan lembut. Namun Zara tidak menyahutnya.


Zidan menatap Zara yang ternyata terlelap tidur. Zidan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Apakah sangat nyaman hingga kamu ketiduran? Haha," ujar Zidan. Ia mencubit hidung Zara dengan gemas.


Karena semakin dingin, Zidan membawa Zara masuk ke dalam rumah. Ia menggendong Zara menuju kamarnya. Zidan membaringkan Zara dengan pelan di atas kasurnya dan menyelimutinya. Zidan mencium kening Zara sekilas dan beranjak pergi dari kamar. Ia menuju ke kamar Barra dan tidur di sana.


__ADS_2