Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 34 (season 2)


__ADS_3

"Kamu nggak lagi membohongiku kan?" ujar Zara yang masih dalam dekapan Zidan.


Zidan melepas pelukannya. Ia memegang bahu Zara dan menatap Zara dengan lekat.


"Untuk apa aku bohong? Aku benar-benar sayang sama kamu Zara," ucap Zidan serius. Zara tersenyum. Ia memeluk Zidan kembali.


Zidan mendorong Zara hingga ke dinding. Ia mengurung Zara. Zidan mencium bibir Zara dan tangannya kembali menekan tombol liftnya.


"Kenapa ditekan lagi?" tanya Zara yang melepas ciuman tersebut.


"Karena aku ingin berduaan sama kamu," jawab Zidan. Ia kembali mencium bibir Zara. Zara mengalungkan tangannya dileher Zidan. Mereka hanyut dalam perasaan mereka masing-masing.


Ting


Tanda lift tersebut terbuka. Zara mendorong Zidan dengan pelan. Ia takut jika ada yang mengetahui mereka berciuman di dalam lift. Untungnya lift yang mereka pakai lift khusus CEO. Jadi, tak ada yang mengantri dan melihat mereka di dalam ruangan tersebut.


"Mau ke mana?" tanya Zidan yang menahan tangan Zara agar tetap di sana.


"Mau keluar, memangnya mau apa lagi?" tanya Zara bingung. Zidan menghela napasnya pelan. Ia melepas genggaman tangannya dan membiarkan Zara keluar lebih dulu. Ia menghubungi Fanny untuk menanyakan apakah Karina masih ada di kantornya atau tidak. Untungnya Fanny berhasil mengusir wanita gila itu.


Sejak kejadian tadi, Zara terlihat banyak diam. Biasanya ia akan bertanya sesuatu yang ingin ia ketahui tentang pekerjaannya. Namun Zara tak berkata apapun sejak ia masuk ke ruangan itu.


Zidan menghampiri Zara. Ia duduk di samping Zara.


"Masih marah?" tanya Zidan lembut.


"Nggak. Siapa juga yang marah. Aku hanya nggak mood aja hari ini," jawab Zara malas.


"Mau dibelikan bunga dan coklat agar mood nya kembali membaik?" tanya Zidan.


Zara menatap Zidan. Ia tak butuh itu, saat ini ia ingin berdiam diri dulu. Zara tertawa kecil sambil menatap Zidan.

__ADS_1


"Buat apa? Aku nggak suka kaya gitu," jawab Zara.


"Terus, maunya apa dong? Aku juga nggak suka lihat kamu diam seperti ini," ujar Zidan.


Zara terdiam sejenak. Ia semakin mendekatkan dirinya pada Zidan. Ia menatap Zidan dengan tajam dan membuat Zidan jadi salah tingkah. Jantungnya berdetak lebih kencang.


"Kalau aku maunya kamu, bagaimana?" tanya Zara pelan. Seolah ia sedang menggoda Zidan. Zidan menelan salivanya dengan kasar. Hanya ditatap dan didekati wanita yang ia sukai saja ia sudah gugup.


"Kamu yakin?" tanya Zidan. Ia tersenyum tipis. Zara mengangguk pelan. Tatapan itu sungguh menggoda bagi Zidan. Zidan menarik Zara dan membawa Zara ke pangkuannya. Zara sempat terkejut namun ia berusaha tenang.


"Kenapa suka sekali menggodaku? Kalau aku kehilangan kendaliku bagaimana, hem?" ujar Zidan. Ia mencubit hidung Zara dengan gemas.


"Aduh, aduh, sakit tahu. Iya-iya aku nggak akan menggodamu lagi," ucap Zara. Ia tertawa geli melihat ekspresi Zidan.


Mereka saling diam. Tatapan mereka saling bertemu. Zidan dan Zara tersenyum tipis. Zara menangkup pipi Zidan dan mencium bibirnya berulang kali. Lalu ia memeluk Zidan sangat erat.


***


Beberapa menit dalam perjalanan, mereka akhirnya sampai di kediaman orang tua Kayla. Arvin dan Alina sudah keluar dari mobil begitu juga dengan Barra. Mereka bertiga lantas melangkah menuju rumah Kayla yang sudah disambut oleh orang tua Kayla.


"Selamat datang di rumah kami," ucap Risti, ibu Kayla.


"Saya Alina dan ini suami saya," ucap Alina memperkenalkan diri.


"Tidak perlu sungkan. Barra sudah sering membicarakan kalian, ayo silakan masuk. Saya akan panggilkan suami saya dulu," ucap Risti. Arvin dan Alina saling pandang. Mereka masuk dan duduk di ruang tamu.


Kayla menuju ruang tamu. Ia menyalami Alina dan Arvin. Lalu duduk di samping Barra. Tak lama setelah itu, orang tua Kayla datang. Mereka berkumpul di ruang tamu.


"Kayla sudah banyak cerita tentang rencananya yang akan menikah dengan putra tuan. Kalau dari keluarga kami pribadi, semuanya terserah dari tuan Arvin saja," ucap Marvel, ayah Kayla.


"Bagaimana jika acara pertunangannya diadakan tiga minggu lagi. Lalu untuk acara pernikahan, kemarin Barra meminta agar diselenggarakan empat bulan setelahnya. Apakah Kayla keberatan sayang?" ucap Alina. Karena dari pihak Kayla maupun Barra juga tidak ingin terburu-buru. Empat bulan persiapan dirasa itu cukup untuk mereka.

__ADS_1


"Kayla ngikut saja dengan keputusannya. Apapun itu, Kayla akan menerimanya," ujar Kayla dan ia tersenyum tipis.


"Untuk acaranya apakah ada rencana ingin diselenggarakan di mana?" tanya Arvin. Ia juga tidak ingin egois mengatur semua acara itu sendiri. Meskipun ia sangat ingin acara itu digelar di rumahnya.


"Kalau tuan Arvin ada usulan juga boleh. Sebenarnya kami juga tidak memaksa untuk diadakan di rumah kami," jawab Marvel.


"Jangan salah paham. Bukannya kami menolak diadakan di sini, tetapi di manapun acara itu dilaksanakan yang terpenting adalah intinya. Kami juga termasuk orang yang sibuk, kami takut jika nantinya kurang maksimal untuk persiapannya," jelas Risti. Mereka terdiam sejenak. Memilih tempat acara yang cocok.


"Mas, apa boleh kalau diadakan di rumah kita saja?" bisik Alina. Arvin juga sempat punya pikiran seperti itu tadi.


"Bagaimana kalau di rumah kami?" ujar Arvin mengutarakan pendapatnya.


"Kami terserah tuan Arvin saja," jawab Risti sopan.


Setelah mendapat kesepakatan bersama, Barra maupun Kayla bisa bernapas lega. Mereka tak menyangka jika akan berjalan selancar ini. Tiga minggu lagi mereka akan resmi menjadi tunangan. Dan empat bulan kemudian mereka akan resmi menjadi suami istri, jika semuanya selancar hari ini.


Mereka makan siang bersama. Orang tua masing-masing juga saling mengenal dan bercanda bersama. Selesai makan, Arvin dan Alina pamit untuk pulang. Namun Barra masih ingin di tempat Kayla. Beberapa hari tidak bertemu dengan Kayla karena kesibukan masing-masing membuatnya rindu.


Arvin dan Alina memilih untuk pulang dengan naik taksi. Setelah ini, Alina akan disibukkan dengan persiapan acara pertunangan. Ia tak menyangka akan secepat ini mengurus semua itu.


"Mas, rasanya baru kemarin aku gendong Barra, tapi sekarang dia sudah mau menikah," ujar Alina sedikit sedih. Arvin menatap Alina sekilas.


"Sudah waktunya menikah, mau bagaimana lagi," jawab Arvin santai. Alina memukul lengan Arvin.


"Lagi sedih juga, jawabnya gitu," ujar Alina. Ia memanyunkan bibirnya.


"Benarkan yang aku katakan tadi sayang? Ada yang salah?" ujar Arvin. Dirinya tertawa kecil.


"Sudahlah, jangan sedih begitu. Makanya suruh putra sulungmu untuk segera cari calon istri, biar di rumah ada yang menemani kamu sayang. Biar nggak sedih lagi," ucap Arvin. Ia merengkuh Alina ke dalam pelukannya.


"Diakan juga putramu. Kasih tahu dong mas biar cepat menikah," ucap Alina. Arvin hanya mengangguk.

__ADS_1


Arvin tidak memaksa Zidan agar cepat menikah karena ia tahu semakin Zidan dipaksa ia akan semakin keras kepala. Dan selama ini pula, Zidan tidak pernah dekat dengan wanita lain.


__ADS_2