
Kini, di ruang tengah tinggal tersisa Zidan, Barra, Raffa, dan Alisya. Mereka menatap Zidan dengan lekat. Sedangkan Zidan hanya terdiam di tempat duduknya.
"Memangnya benar apa yang papa katakan tadi bang?" tanya Alisya penasaran.
"Abang khilaf, yaudah ya nggak usah menatap abang seperti itu. Abang tanggung jawab kok," jawab Zidan santai. Sebenarnya ia malu ditatap oleh ketiga adiknya seperti itu.
"Waahh, bang Zidan parah ih," ucap Alisya.
"Bang Raffa nggak punya kesempatan lagi dong," ucap Alisya. Seketika Raffa dan Zidan menatap Alisya. Alisya hanya tersenyum canggung.
"Maksudnya, kan bang Raffa pernah dekat tuh sama kak Zara. Kali aja juga suka gitu. Enggak ya?" ujar Alisya lagi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Zidan dan Raffa hanya mengernyitkan dahinya.
"Gak usah dibahas lagi," ucap Raffa. Lalu ia pergi ke kamarnya.
Alisya hanya menatap Raffa dengan bingung. Ia menaikkan kedua bahunya. Alisya juga pamit untuk ke kamarnya. Ia merasa suasananya berubah dingin.
Kini tinggal Zidan dan Barra. Mereka duduk saling berhadapan. Namun mulut mereka saling terdiam. Barra tidak marah terhadap Zidan jika harus ditunda pernikahannya. Namun ia hanya tak enak dengan keluarga Kayla. Karena sebelumnya dirinya dan keluarganya yang lebih antusias dalam pernikahan ini.
Barra beralih duduk di samping Zidan. Ia menepuk bahu Zidan dan mereka saling tersenyum. Barra menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Bang, kamu kenapa tidak sabaran sama sekali?" ujar Barra. Ia tersenyum tipis.
"Nggak usah dibahas lagi. Jadi bagaimana? Kalau kamu tidak mau diundur gak apa-apa juga. Bang Zidan biar nikahnya sederhana saja," ucap Zidan.
"Barra sih nggak apa-apa kalau harus ditunda. Tapi bagaimana dengan keluarga Kayla?" ucap Barra. Zidan menghela napasnya sejenak.
"Maafin abang ya, abang jadi mengacaukan acara pernikahanmu," ucap Zidan tulus. Barra tertawa kecil.
"Santai saja," jawab Barra.
__ADS_1
Di dalam kamar, Arvin menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia merasa pusing dengan masalah yang kini sedang ia hadapi. Arvin bingung harus mementingkan siapa dulu. Keduanya penting baginya. Arvin tak ingin mengecewakan Barra dan juga Zidan.
"Mas, kenapa tidak diadakan bersamaan saja pernikahannya? Toh mereka sama-sama menikah juga kan," ucap Alina. Siapa tahu Arvin setuju dengan idenya.
"Boleh juga, tapi mas tidak setuju sayang," ucap Arvin.
"Kenapa mas?" tanya Alina bingung.
"Kamu pikir persiapan pernikahan itu gampang? Kamu lihat sendirikan bagaimana mempersiapkan acara ini untuk Barra? Ini terlalu mendadak untuk Zidan juga. Kita juga belum bertemu dengan keluarga Zara dan membicarakan hal ini," ucap Arvin.
Arvin beralih menyandarkan kepalanya di bahu Alina. Alina mengusap rambut Arvin dengan lembut.
"Secepatnya saja kita bicarakan hal ini dengan keluarga Zara mas," ucap Alina. Arvin mengangguk. Ia meraih tangan Alina dan mengecupnya.
"Nanti coba mas bicara sama mereka ya," ucap Arvin. Alina tersenyum tipis.
Kini, mereka berempat sudah satu mobil dan mengarah ke panti asuhan Cahaya Cinta tempat Zara tumbuh dewasa. Arvin yang mengemudikan mobilnya dan Alina duduk di sampingnya. Sedangkan Zara dan Zidan duduk berdampingan di jok belakang.
"Zidan, nanti jangan bilang jika kita sudah melakukan hal itu. Aku tidak mau membuat bu Yasmin kecewa padaku," ucap Zara. Zidan menggenggam tangan Zara.
"Tidak perlu khawatir. Aku akan tetap ada di sampingmu," ucap Zidan dan ia tersenyum tipis.
Kini mereka sudah sampai di halaman depan panti asuhan itu. Mereka berempat turun dari mobil dan menuju ke dalam panti. Saat ini mereka sudah duduk di ruang tamu. Bu Yasmin menatap mereka bingung terutama pada Zara yang terlihat gugup.
"Maaf, apa yang membuat kalian datang ke sini?" tanya bu Yasmin.
"Begini, kami ingin melamar Zara untuk putra kami Zidan. Maaf jika terkesan mendadak sekali. Tetapi putra saya ini sangat tidak sabaran sekali, dia sangat mencintai Zara dan ingin segera menikahinya. Kami sebagai orang tuanya mau bagaimana lagi, hanya ini yang bisa kami lakukan. Maaf jika tidak mengabari Anda sebelumnya," ucap Arvin. Bu Yasmin merasa terkejut. Ia langsung menatap Zara.
"Tapi, Zara masih kuliah. Zara, apa kamu sungguh ingin menikah dan membina rumah tangga sekarang?" tanya bu Yasmin memastikan. Zara mengangguk pelan.
__ADS_1
"Saya akan merestui mereka pak jika Zara sudah merasa yakin dengan keputusannya. Bagaimanapun semua ini Zara yang menjalaninya," jawab bu Yasmin.
Arvin dan Alina tersenyum lega. Mereka mulai membahas acara pernikahan nanti. Namun Zara dan Zidan ingin diadakan dengan sederhana saja. Arvin juga sudah menjelaskan perihal putra keduanya yang akan segera menikah juga.
Bu Yasmin berkeinginan agar pernikahan Zara dilaksanakan enam bulan dari sekarang. Bu Yasmin berpikir jika Zara masih terlalu muda untuk menikah. Dan permintaan bu Yasmin membuat Zara dan Zidan terkejut. Zara terlihat gugup dan ia menundukkan wajahnya.
"Kenapa harus enam bulan lagi bu? Putra kami bersungguh-sungguh ingin menikahi Zara. Apa tidak sebaiknya diadakan dua minggu lagi?" saran Arvin.
"Dua minggu? Bukankah itu terlalu cepat?" ucap bu Yasmin.
"Bagaimana ini, jika terus ditunda-tunda lagi aku takut jika sampai nantinya aku hamil dan kami belum menikah, bu Yasmin pasti sangat kecewa padaku," batin Zara gelisah.
"Emm.. Kami yang akan mengurus semuanya bu. Dan mereka juga menginginkan pernikahan yang sederhana bukan? Saya rasa tidak akan ada masalah," ucap Alina.
"Saya hanya takut jika Zara terbawa emosi sesaatnya untuk segera menikah tanpa memikirkan nanti ke depannya bagaimana," ucap bu Yasmin.
"Bu Yasmin tidak perlu khawatir, karena saya sangat mencintai Zara dan kami sudah memikirkan hal ini matang-matang," ucap Zidan berusaha meyakinkan bu Yasmin.
Bu Yasmin hanya pasrah. Pada akhirnya, ia harus rela melepaskan Zara untuk membina keluarga kecilnya dengan orang yang Zara cintai. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin bu Yasmin menimang dan membesarkan Zara, kini Zara sudah akan menikah.
Dan keputusan terakhirnya yaitu mereka akan menikah satu bulan lagi secara sederhana.
***
Hari-hari berlalu. Setelah pembicaraan dengan keluarga Kayla, mereka sepakat untuk tidak menunda pernikahan.
Sedangkan Zidan dan Zara menikah lebih awal. Dengan pernikahan yang sederhana atas permintaan Zidan dan Zara sendiri. Zidan tidak ingin merusak kebahagiaan adiknya. Ia ingin pernikahan Barra berjalan sempurna tanpa adanya hambatan sedikitpun. Kemudian tentang dirinya dan Zara, lebih memilih menikah secara sederhana. Hanya keluarga dekat yang menyaksikan pernikahan mereka.
Barra dan Kayla juga tidak merasa keberatan. Lebih cepat lebih baik bagi Zidan dan Zara.
__ADS_1