Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 83


__ADS_3

Akhir pekan ini, Arvin sengaja meliburkan diri untuk mengajak Alina dan anak-anaknya ke rumah orang tuanya. Sudah lama mereka tidak berkunjung ke sana. Bahkan hampir tidak pernah sejak pernikahannya.


Meskipun hubungan Arvin dan Mahardika kini sudah mulai membaik. Dan Mahardika yang sudah mulai menerima Alina sebagai menantunya, Arvin tetap saja belum bisa mempercayai ayahnya itu seratus persen. Karena ia tahu segalanya sifat dari ayahnya ini.


Untuk menghindari berbagai macam pertikaian antara Arvin dan Mahardika, ia sengaja tidak berkunjung ke rumah orang tuanya. Ia justru memilih lebih sering menengok keluarga Alina. Jadi, jika Lita merindukan anak dan cucunya, ia yang lebih sering berkunjung ke rumah Arvin.


Meskipun hubungan antara anak dan ayah ini kurang baik, Arvin juga tidak bisa membenci ayahnya. Bagaimanapun, ayahnya adalah laki-laki yang penting dalam hidupnya. Butuh waktu agar Arvin bisa membuka hatinya agar lebih peduli kepada ayahnya itu.


Kali ini, Arvin akan berusaha membangun kedekatan antara ayah dan anak lagi. Ia juga tidak bisa terus-terusan mendiamkan ayahnya. Suatu saat nanti, ia pasti butuh sosok ayah yang selama ini selalu keras terhadapnya. Itupun Mahardika lakukan demi kebaikan Arvin sendiri.


Mobil Arvin sampai di halaman kediaman orang tuanya. Arvin sendiri yang mengemudikan mobilnya. Dengan Alina yang duduk di sampingnya dan menggendong Barra. Zidan berada di belakang memainkan game yang ada diponselnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, mereka keluar mobil dan masuk ke dalam rumah. Betapa senangnya Lita, akhirnya mereka datang mengunjunginya.


"Neneeekkk..." teriak Zidan sambil berlari ke arah Lita.


"Nak, kalian datang ke sini? Astaga, mama sangat senang sekali," ujar Lita yang melihat kedatangan anak dan menantunya.


Alina berjabat tangan dengan Lita dan menciun punggung tangannya. Begitu juga Arvin dan Zidan.


"Ayo sini," ajak Lita ke ruang keluarga. Mereka duduk di sana.


"Bagaimana kabar kalian? Sehatkan?" tanya Lita.


"Sehat Ma, bagaimana kabar mama sama papa?" tanya Arvin.

__ADS_1


"Kamu tahu, papamu sebenarnya ingin bertemu dengan kalian. Tapi papamu malu dan merasa tidak enak kepada kalian. Mama berharap kamu bisa memaafkan papamu Vin. Papamu sangat kesepian ingin bertemu dengan cucunya," ungkap Lita sedih.


Alina mengusap punggung tangan Lita dan tersenyum manis ke arahnya. Alina juga merasa bersalah karena jarang datang ke sini. Bagaimanapun juga ini adalah rumah orang tuanya.


"Maaf ya Ma. Kami benar-benar sibuk dan baru hari ini bisa datang menjenguk mama," ucap Alina merasa bersalah.


Di tengah pembicaraan mereka, bibi membawakan minuman dan camilan untuk mereka. Lita mengambil alih Barra yang sedang tertidur. Barra memang jarang rewel. Membuat Alina bisa meninggalkan Barra memasak dengan tenang kala di rumahnya.


"Nenek, adik Barranya pinter, tidak nangisan," ujar Zidan yang mendekat ke arah Lita.


"Oh ya? Waahh, adiknya pintar ya," ucap Lita dan tersenyum ke arah Zidan.


Zidan bercerita tentang aktivitasnya di rumah kala bersama dengan adiknya itu. Membuat Lita tertawa kecil karena Zidan terlihat begitu senang.


"Ma, papa di mana?" tanya Alina yang tidak melihat Mahardika di sana.


Arvin merasa bersalah mendengar pengakuan dari mamanya itu. Tidak seharusnya ia memutuskan hubungannya dengan ayahnya. Keputusannya hari ini untuk berkunjung ke sini memang tepat. Ia harus menyelesaikan permasalahan antara keduanya.


"Mama tenang saja. Nanti Arvin akan coba bicara dengan papa," ucap Arvin dan beralih duduk di samping mamanya.


Sambil menunggu Mahardika pulang, mereka menghabiskan waktu dengan nonton film. Tetapi, niat awal ingin nonton film justru berakhir menonton kartun. Mereka harus mengalah kalau Zidan sudah merengek minta diputarkan kartun.


Sore hari Mahardika baru pulang ke rumah. Ia berjalan memasuki rumahnya dengan langkah ringan. Mahardika mengernyitkan dahinya kala mendengar suara bayi di rumah itu. Mahardika berjalan pelan menuju ruang keluarga yang di sana sudah ada istri, anaknya, menantunya dan kedua cucunya.


"Vin," ucap Mahardika yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Mereka menatap ke arah Mahardika. Alina segera berdiri dan berjabat tangan serta mencium punggung tangan mertuanya itu. Untung saja, Mahardika tak bersikap dingin kepada Alina seperti yang selama ini ia lakukan. Arvinpun juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Alina.


"Vin, papa mau bicara pada kalian berdua," ujar Mahardika dan berjalan menuju ruang kerjanya yang diikuti oleh Arvin dan Alina.


Sesampainya di dalam ruangan, Mahardika masih diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Arvin dan Alina saling pandang.


"Papa mau bicara apa?" tanya Arvin memecah keheningan. Mahardika menghela napasnya sebelum membuka suara.


"Papa hanya ingin minta maaf kepada kalian. Papa tahu apa yang papa lakukan dulu sangat melukai kalian, tapi papa benar-benar menyesal," ungkap Mahardika merasa menyesal. Tatapannya kosong lurus ke arah depan.


"Arvin dan Alina sudah memaafkan papa. Maafkan kami juga pa," ucap Arvin dan mendekati Mahardika.


Mahardika tersenyum dan merentangkan tangannya lebar-lebar. Arvin memeluk Mahardika dengan erat begitu pula Mahardika. Arvin bisa merasakan betapa bahagianya ia kini. Kecanggungan antara keduanya kini sudah sirna.


"Sini sayang, peluk papa mertuamu juga," ujar Mahardika yang menatap ke arah Alina. Alina tersenyum dan memeluk Mahardika. Ia menitikkan air matanya. Akhirnya, ia bisa diterima dan diakui sebagai menantu di keluarga ini. Alina sungguh bahagia.


"Maafkan papa ya nak," ucap Mahardika lagi kepada Alina.


Alina menggelengkan kepalanya. Ini bukan salah ayah mertuanya. Bagaimanapun semuanya sudah berlalu. Alina juga sudah memaafkan semua yang dilakukan Mahardika padanya dulu.


Alina keluar lebih dulu. Ada beberapa hal yang harus Arvin dan Mahardika selesaikan secara pribadi. Entah apa itu, yang jelas Alina tidak ingin terlalu tahu dengan urusan pribadi mereka. Karena Alina tidak ingin ikut campur jika Arvin tidak ingin melibatkan Alina.


Alina menuju ruang keluarga. Alina tersenyum ke arah Lita dan segera menghampirinya. Alina memeluk Lita. Kegelisahan yang ia rasakan selama ini sudah terselesaikan dengan baik.


Setelah selesai dari urusan antara ayah dan anak. Kini mereka berada di meja makan. Tak ada lagi beban pikiran di antara mereka. Semua sudah terselesaikan dengan baik.

__ADS_1


Karena waktu semakin malam, mereka memutuskan untuk segera pulang. Besok Zidan harus sekolah dan Arvin kebetulan ada rapat penting.


Setelah pamit kepada orang tuanya, mereka segera pulang ke rumah. Alina dan Arvin merasa lega. Kini mereka tidak canggung atau apapun kalau ingin berkunjung ke rumah orang tua Arvin.


__ADS_2