Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 49 (season 2)


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester. Setelah ini, ia akan libur selama kurang lebih tiga bulan. Banyak hal yang sudah ia rinci sebelumnya selama liburan nanti. Namun sekarang keadaannya berbeda. Zara ingin pulang ke panti asuhannya selama liburan nanti.


Hanya tinggal satu mata kuliah lagi yang belum ia selesaikan. Setelah ujian selesai, Zara langsung bersiap untuk pulang ke panti.


Saat ini, Zara duduk di kursinya. Ia menunggu kelas mulai. Lima menit kemudian, dosen pengawas untuk ujiannya kali ini sudah datang ke kelas mereka. Mereka mulai mengerjakan soal yang sudah dibagikan sebelumnya. Beberapa menit kemudian, jam berakhir. Kini semua berhambur keluar kelas untuk pulang begitu juga Zara.


Tring


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Zara membuka pesan tersebut dan membacanya.


'Temui aku di parkiran tempat biasa.' Isi pesan dari Raffa. Zara mengernyitkan dahinya. Ia langsung mengarahkan pandangannya menuju Raffa yang sedang duduk di bangkunya. Raffa tersenyum tipis.


"Aneh, kalau mau bertemu ya bertemu saja. Kenapa harus menyuruhku menuju parkiran. Apa yang akan dia lakukan? Apa dia ingin menanyakan hubunganku dengan Zidan?" batin Zara bingung.


Zara langsung menuju parkiran tempatnya bertemu dengan Raffa waktu itu. Zara tak mengerti, padahal biasanya tinggal ngobrol di kelas tapi tiba-tiba menyuruhnya untuk ke parkiran.


Zara sampai di parkiran. Ia berdiri di dekat mobil Raffa yang terparkir di sana. Memang nampak sepi parkiran ini. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Karena terkejut, Zara sempat berteriak namun segera dibungkam. Zara dibawa menuju mobil yang lainnya. Ia dipaksa masuk ke dalam dan segera berlalu dari sana.


Zara menggigit tangan yang membungkamnya. Ia mendorong kasar orang tersebut. Zara seketika menatap orang tersebut yang tak lain adalah Zidan.


"Zidan, kamu!" ujar Zara tak percaya. Zidan masih merasa kesakitan akibat digigit oleh Zara. Ia mengibaskan tangannya berulang kali.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu, kenapa susah sekali?" ujar Zidan. Zara seketika menjadi diam. Ia menatap lurus ke luar jendela mobil.


"Zara, sampai kapan kamu akan mendiamkanku seperti ini?" tanya Zidan lembut. Ia berusaha menyentuh lengan Zara. Namun Zara segera menepisnya.

__ADS_1


"Untuk apa lagi kamu menemuiku Zidan? Belum puas kamu menyakitiku?" ujar Zara.


"Jangan bilang, kamu yang menyuruh Raffa untuk mengirimkan pesan untukku dan memintaku menunggu di parkiran?" tanya Zara menyelidik.


"Siapa suruh kamu memblokir nomorku," balas Zidan.


Zara hanya diam saja. Ia memang memblokir nomor Zidan tadi malam. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan Zidan. Bahkan ia sudah mengajukan surat pengunduran diri ke kantor Zidan tadi pagi.


"Apa maksudnya ini?" tanya Zidan sambil memberikan surat pengunduran diri Zara dari kantornya.


"Aku mengundurkan diri dari pekerjaanku," jawab Zara. Zidan tertawa kecil.


"Kamu pikir semudah itu kamu akan lepas dariku, sayang? Aku tidak akan pernah menyetujui pengunduran dirimu. Jadi, tetaplah bekerja seperti biasanya," ucap Zidan.


Ia menarik tangan Zara hingga Zara jatuh ke pelukannya. Zidan memeluk Zara dengan erat. Kali ini Zara tidak menolaknya. Dan membuat Zidan semakin erat memeluk Zara.


"Aku tidak mau!" tolak Zara. Zidan menaikkan dagu Zara dengan telunjuknya dan segera mencium bibir Zara. Zara membulatkan matanya. Zidan menggigit kecil bibir Zara dan lidahnya menelusup masuk lebih dalam lagi. Perlahan, Zara mulai mengikuti permainan Zidan. Ia juga membalas ciuman tersebut.


Di parkiran, Raffa baru sampai di sana. Ia tersenyum sinis melihat Zara tidak ada di sana.


"Sudah pergi ya? Bang, aku harap kamu tidak melukainya lagi," gumam Raffa. Ia masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalanya di kursi kemudinya.


"*Untuk pertama kalinya aku dekat dengan wanita. Tapi ternyata wanita itu milik bang Zidan. Aku tidak ada hak untuk merebutnya kecuali bang Zidan tidak menginginkannya."


"Haih, aku sama sekali tidak tertarik dengan kisah seperti ini. Segera akhiri perasaanmu atau kamu sendiri yang akan tersiksa karenanya, Raffa. Zara adalah milik bang Zidan. Aku tidak seharusnya berusaha mendekatinya*," batin Raffa.

__ADS_1


Raffa menghela napasnya sejenak. Kemudian, ia melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran.


Di tempat lain, Zidan menggendong Zara di pundaknya menuju apartemennya. Zara terus meronta dan memukul punggung Zidan berharap agar melepaskannya. Namun Zidan tidak peduli. Teriakan Zara sia-sia saja.


"Tuan muda, saya harap Anda bisa menyelesaikan masalah Anda hari ini. Saya tidak akan mengganggu Anda," batin Fanny yang masih berdiri di parkiran apartemen. Setelah memastikan Zidan membawa Zara ke apartemen, Fanny meninggalkan lokasi tersebut.


Bugh


Zidan melempar Zara ke sofa dan langsung menindihnya. Ia juga menggenggam kedua tangan Zara agar tidak bisa meronta lagi.


"Zidan, kamu gila ya! Kenapa kamu membawaku ke sini!" teriak Zara. Ia sebenarnya juga takut jika Zidan berbuat nekad kepadanya.


"Ssshhh..." ucap Zidan. Ia menempelkan jari telunjuknya ke bibir Zara. Seketika Zara berhenti dengan napasnya terengah-engah. Zara menatap Zidan dalam diam.


"Jika kamu bergerak sedikit saja, aku tidak akan bisa menjamin kamu akan baik-baik saja setelah ini Zara," ancam Zidan. Zara memalingkan wajahnya. Berhadapan dengan Zidan secara langsung membuatnya gugup.


"Dia ini... Sedang menggodaku ya?" batin Zidan. Karena ekspresi Zara yang begitu menggemaskan.


"Zara, maafkan aku. Baiklah, begini saja. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Tapi kamu tidak boleh menghindariku seperti ini, oke?" ujar Zidan.


"Aku sudah bilangkan? Tidak perlu bercerita apapun padaku! Apapun yang kamu lakukan aku tidak akan peduli lagi. Zidan, kenapa kamu begitu egois? Kamu mempermainkan perasaanku yang begitu tulus mencintaimu! Lalu sekarang kamu memintaku untuk kembali lagi denganmu? Aku tidak habis pikir, CEO dari perusahaan terkenal akan bertindak seperti ini! Kamu membuatku membencimu dan sekarang kamu ingin aku mencintaimu kembali?" ungkap Zara emosi. Ia meluapkan perasaan yang ia rasakan beberapa hari ini. Rasa sedih dan kecewa yang ia tahan akhir-akhir ini.


"Kamu boleh memakiku sesuka hatimu Zara, aku tidak akan marah. Tapi tolong dengarkan penjelasanku. Setelah itu kamu boleh membenciku atau tetap mencintaiku lagi. Aku pernah bilang padamu sebelumnya kan? Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai dan ingin aku nikahi. Hanya kamu Zara," ucap Zidan dengan lembut. Tak mudah membuat Zara menerimanya kembali.


Zara menangis tersedu. Ia saat ini bingung. Ia juga ingin tahu alasan dibalik sikap Zidan yang berubah itu. Namun saat ini ia juga sulit untuk memaafkan Zidan. Ucapan Zidan waktu itu terus menghantuinya. Zara belum siap memaafkan Zidan kali ini.

__ADS_1


Zidan mengusap air mata Zara lalu bangkit dari posisinya. Jika ia berlama-lama menindih Zara, tak yakin akan bisa mengontrol dirinya sendiri. Saat ini Zidan harus bisa mendapatkan kepercayaan Zara kembali. Meskipun ia harus berjuang lebih keras lagi.


__ADS_2