
Hari ini adalah hari paling bahagia bagi Barra dan Kayla. Mereka sudah lama menunggu datangnya hari di mana mereka akan mengesahkan dan menjalin hubungan yang lebih serius lagi. Acara ini digelar pukul 09.00.
Barra dan Kayla sedang bersiap agar penampilan mereka nanti sempurna. Meskipun hanya keluarga dekat dan teman dekat saja yang diundang untuk menyaksikan pertunangan ini, mereka tetap bahagia.
Alina sudah sibuk dari pagi. Ia tidak ingin ada sesuatu yang terlewatkan sedikit saja. Ia mengecek persiapannya sekali lagi. Hari ini harus sempurna.
Rombongan keluarga Kayla sudah datang. Yang umumnya harusnya pertunangan diadakan di kediaman sang wanita, tetapi hari ini berbeda. Meskipun begitu, mereka tidak mempermasalahkan hal itu.
Mereka disambut hangat oleh Alina dan Arvin. Begitu juga dengan Barra, Raffa, dan Alisya. Kayla tampil begitu cantik dengan dress panjang warna biru langit serasi dengan Barra. Biru adalah warna kesukaan Barra dan Kayla. Kayla terlihat anggun menggunakan gaun tersebut.
Sedangkan Zidan sampai detik ini belum juga datang. Padahal semalam Alina sudah mengingatkan Zidan akan acara penting ini.
Zidan masih terlelap dalam tidurnya. Semalam ia tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan Zara. Ia sampai lupa jika hari ini adalah hari penting bagi adiknya.
Alina nampak gusar. Ia melihat ke arah pintu utama. Alina menanti kehadiran Zidan. Alina tahu jika Zidan dalam masalah. Semalam Zidan sempat bercerita padanya. Alina khawatir terjadi sesuatu pada Zidan hingga Zidan tidak bisa hadir di acara ini.
"Raffa, apa abangmu sudah mengangkat teleponnya?" tanya Alina gusar.
"Belum Mom," jawab Raffa. Ia menggeleng pelan kepalanya.
"Kamu coba telepon terus ya. Mommy hanya takut terjadi sesuatu pada abangmu. Mommy mau menyambut para tamu terlebih dahulu," ujar Alina. Raffa mengangguk.
Alina bergegas menyambut para tamu yang hadir hari ini. Meskipun ia khawatir, ia harus tetap terlihat bahagia di depan tamunya.
"Kak Zara..." ucap Alisya. Ia sedikit berteriak saat melihat Zara memasuki rumahnya. Zara hanya tersenyum manis. Meskipun hanya memakai pakaian sederhana, Zara tetap terlihat manis dan cantik. Bahkan sedikit berbeda dari biasanya.
Alisya berlari menghampiri Zara. Entah sejak kapan Alisya juga dekat dengannya. Alisya merasa seperti mempunyai seorang kakak perempuan. Yah, mungkin karena perbedaan usia mereka yang tidak terlalu jauh. Berbeda dengan Kayla, yang lebih dewasa darinya.
"Ayo ikut aku, aku kenalkan kepada abangku dan calon kakak ipar," ucap Alisya. Ia menarik tangan Zara menuju tempat Barra dan Kayla.
__ADS_1
"I-iya. Hati-hati Alisya!" ucap Zara karena Alisya menariknya sedikit kasar. Alisya sudah tidak sabar mengenalkan mereka.
"Halo bang Barra, halo kak Kayla," sapa Alisya saat mereka sudah berada di tempat Barra dan Kayla.
"Hai, Mommy mana dek?" tanya Barra. Ia memperhatikan sekelilingnya.
"Mommy lagi sibuk. Oh iya, perkenalkan ini kak Zara," ucap Alisya.
"Pacarnya bang Raffa," bisik Alisya. Ia memang belum tahu perihal hubungan Zara dengan Zidan. Barra dan Kayla saling pandang. Mereka tersenyum satu sama lain.
"Eh, bukan kok. Aku hanya temannya saja. Alisya hanya mengada-ngada," ucap Zara meluruskan. Ia tidak mau terjadi kesalahpahaman terlalu jauh.
"Beneran juga nggak apa-apa kok," ujar Barra. Mereka semua tertawa. Zara berjabat tangan dengan Kayla dan Barra. Mereka saling mengenalkan diri. Zara yang awalnya canggung kini sedikit lebih santai dan semakin akrab dengan mereka.
Setelah itu, Alisya mengajak Zara menemui Arvin dan Alina. Setelah bertemu dengan mereka, Alisya membawa Zara berkeliling sambil mencicipi hidangan yang tersedia.
Sedangkan di apartemen, Zidan baru membuka matanya. Ia memegangi keningnya karena merasa sedikit pusing. Zidan menatap ke arah ponselnya yang dari tadi berbunyi. Panggilan telepon dan pesan dari Raffa. Zidan segera bangkit karena ia teringat hari ini adalah acara tunangan Barra. Zidan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap.
Selesai bersiap, Zidan menelepon Fanny agar menjemputnya di apartemen. Ia tidak bisa mengemudi sendirian dalam kondisinya yang kurang baik seperti ini. Setelah Fanny tiba di apartemen Zidan, ia segera berangkat menuju rumahnya.
"Oh iya kak, sebenarnya aku masih punya satu abang lagi loh," ucap Alisya. Zara menatap Alisya.
"Oh ya?" balas Zara tak percaya. Alisya mengangguk.
"Nanti aku kenalkan, oke?" ujar Alisya. Ia mengedipkan sebelah matanya. Zara hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Bang Zidan," ucap Alisya saat melihat Zidan baru saja datang. Zara yang mendengarnya langsung mengarahkan pandangannya ke pintu.
Deg
__ADS_1
Jantung Zara berpacu. Zidan saat ini memasuki rumah sambil tersenyum tipis menyambut para tamu undangan. Ia berjalan ke arah Alina dan Arvin. Zara memperhatikan Zidan yang tak jauh dari sana. Sedangkan Zidan belum mengetahui kehadiran Zara di sana.
"Kak Zara, ayo! Itu abang aku yang aku maksud. Kita ke sana sebentar," ucap Alisya. Ia menarik Zara yang masih bengong.
"Eh, i-iya, pelan-pelan Alisya," ujar Zara panik.
"Bang Zidan kenapa lama sekali? Mommy sangat panik tahu," ujar Alisya saat mereka sudah sampai di tempat Zidan dan Alina berada. Sedangkan Zara masih berdiri mematung.
"Maaf, bang Zidan ada sedikit masalah tadi," balas Zidan. Ia mengusap rambut Alisya dengan lembut.
"Oh iya bang, aku kenalin sama kak Zara, ayo," ucap Alisya. Ia menarik tangan Zidan menuju tempat Zara berdiri. Tatapan Zidan dan Zara beradu. Zidan tak menyangka Zara akan hadir di acara ini hari ini. Sedangkan Zara tak percaya jika Zidan adalah kakak dari Alisya. Yang selalu ia ceritakan padanya.
"Ehem," Alisya berdehem dan menyadarkan lamunan mereka berdua.
"Zara, kamu di sini?" tanya Zidan lembut. Zara menundukkan kepalanya. Ia meremas ujung bajunya.
"Iya, tante yang mengundangku," jawab Zara.
"Mereka saling kenal? Kenapa suasananya begitu kaku? Apakah ada masalah di antara mereka sebelumnya?" batin Alisya. Alisya memperhatikan mereka berdua secara bergantian. Zidan yang menatap lekat Zara sedangkan Zara menundukkan wajahnya.
"Kak, aku tinggal sebentar ya. Kalian berdua silakan mengobrol dulu," ujar Alisya pelan. Ia buru-buru pergi dari sana. Zara panik karena Alisya meninggalkannya dengan Zidan. Zidan menarik tangan Zara menuju kamarnya. Zidan tak peduli Zara meronta ingin lepas dari Zidan.
Acarapun mau dimulai. Barra dan Kayla menempati tempatnya. Disaksikan keluarga besar dan para sahabatnya, Barra resmi meminang Kayla. Mereka akan menikah empat bulan setelah ini.
"Apakah kamu mau menikah denganku? Menerima segala kekuranganku dan bersedia mengarungi sisa hidupmu bersamaku, Kayla?" tanya Barra.
"Aku mau Barra. Aku mau hidup bersamamu hingga ajal menjemputku. Aku bersedia menikah denganmu," jawab Kayla.
Suara gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan itu saat ini. Acara berjalan lancar. Barra dan Kayla saling bertukar cincin. Setelah itu, para tamu mulai menikmati jamuan yang sudah disiapkan.
__ADS_1