
Zara sampai di kostnya. Ia langsung berbaring di kasurnya. Zara menangis dan menyembunyikan wajahnya di bantalnya. Kamar tersebut dipenuhi isak tangisnya siang itu.
"Kenapa harus berbohong padaku?" ucap Zara lirih. Tangannya mencengkram bantalnya dengan kuat. Zara terus menangis hingga ia terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan di tempat lain, Zidan dan Karina baru sampai di kantor. Zidan langsung menuju ruangannya. Karina masih membuntutinya dari belakang.
"Fan, kamu urus wanita itu," ucap Zidan sambil menepuk bahu Fanny. Ia menuju ruangannya sendiri.
"Baik tuan muda," jawab Fanny sopan.
"Nona, mari ikut saya sebentar," ucap Fanny ramah. Karina mau tak mau menyetujui untuk ikut bersama Fanny. Ia mengurungkan niatnya untuk ikut masuk ke ruangan Zidan.
Di dalam ruangan, Zidan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia memijat pelipisnya sejenak. Pikirannya terngiang oleh balasan pesan dari Raffa tadi siang.
'Kalau bang Zidan tidak bisa menjaga Zara, aku akan bertindak dan merebut Zara darimu bang. Aku serius dengan ucapanku.' Isi pesan Raffa.
Zidan mengepalkan tangannya. Jika bukan karena Karina, ia tidak akan menyakiti Zara seperti ini. Ia sengaja menjauhkan Zara darinya agar Karina tidak dapat mencelakainya.
"Maafkan aku sayang. Aku janji, setelah ini selesai, aku akan menebus kesalahanku padamu," gumam Zidan. Dirinya tak kuasa melihat Zara sedih seperti tadi. Namun ia harus melakukannya demi hubungannya ke depannya nanti.
"Karinaa! Haaaahhh!!" ucap Zidan dan meninju meja yang ada di depannya. Zidan menundukkan wajahnya.
Klek
"Tuan muda, apa Anda baik-baik saja?" tanya Fanny yang baru masuk ke ruangan Zidan. Zidan menatap Fanny sekilas. Lalu ia kembali menyandarkan dirinya.
"Aku baik-baik saja Fan. Tapi bagaimana dengan Zara?" tanya Zidan pelan.
Fanny menghela napasnya sejenak. Ia berjalan menghampiri Zidan dan berdiri di sampingnya.
"Kenapa harus dengan cara ini? Ini akan menyakiti Anda dan nona Zara. Kita bisa langsung menekan mereka agar tidak mengganggu tuan muda lagi," saran Fanny.
"Kamu tidak mengerti sifat Karina, Fan. Aku akan memastikan keselamatan Zara terlebih dahulu. Setelah itu kita baru bertindak. Tuan Raymond bukan orang yang mudah dihadapi," ucap Zidan.
__ADS_1
Fanny hanya mengangguk pasrah. Ia sama sekali tak tahu urusan hati. Namun sangat disayangkan jika tindakan Zidan kali ini pasti akan berpengaruh besar pada hubungannya.
"Semoga baik-baik saja," batin Fanny.
Hari semakin sore. Zara terbangun dari tidurnya. Ia langsung mengecek ponselnya. Ia kembali meletakkan ponselnya dengan rasa kecewa.
"Ternyata dia juga tidak menghubungiku untuk menjelaskannya. Zidan, sebenarnya apa yang kamu inginkan?" gumam Zara. Ia bersandar pada ranjangnya sambil memeluk bantal.
Akhirnya, Zara memilih untuk mandi. Ia beranjak dari kamarnya lalu menuju kamar mandi. Ia segera membersihkan diri.
Selesai mandi, ia duduk di tepi ranjangnya. Ia memikirkan cara bagaimana untuk bertanya kepada Zidan. Rasa penasarannya terus saja menghantuinya. Akhirnya, ia mengirim pesan untuk mengajak Zidan bertemu di kafe dekat kampusnya.
'Ada waktukah? Aku ingin bertemu denganmu di kafe X. Bisa?' Isi pesan Zara. Beberapa saat kemudian, Zidan membalas pesannya.
'Bisa kok. Aku segera menuju kafe X. Tunggu aku ya. Aku sayang kamu.' Balasan Zidan.
Membaca pesan itu, Zara teringat dengan Zidan yang sedang makan siang dengan Karina. Ia tersenyum getir. Zara bersiap dan segera menuju kafe X.
Zidan langsung menghampiri Zara. Ia mencium kening Zara sekilas lalu duduk di depan Zara.
"Kenapa memilih di sini? Pindah yuk," ucap Zidan.
"Tidak perlu! Di sini saja cukup," jawab Zara ketus. Zidan mengernyitkan dahinya.
"Zidan, aku tadi tidak sengaja melihatmu jalan bersama Karina. Apa kalian ada hubungan sesuatu?" tanya Zara tanpa basa-basi.
"Kamu sudah tahu ya? Maaf sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ada alasan lain yang belum bisa aku ceritakan padamu. Kamu percaya sama aku kan?" ucap Zidan lembut. Ia meraih tangan Zara dan menggenggamnya.
"Apa alasannya? Karena kamu jatuh cinta padanya? Atau kamu ingin meresmikan hubunganmu dengan Karina?" tanya Zara dengan nada tinggi. Ia saat ini sedang marah.
"Tidak seperti itu," jawab Zidan pelan.
"Lalu apa Zidan? Kenapa kamu jalan sama dia? Bahkan kamu juga berbohong padaku," ucap Zara keras. Ia menatap Zidan dengan lekat.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa jelaskan padaku kan?" ucap Zara. Ia tertawa sinis.
Zara beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah pergi. Namun Zidan menahan tangan Zara.
"Zara tunggu! Kamu harus percaya padaku. Aku melakukan ini demi hubungan kita," ucap Zidan berharap Zara mempercayainya. Zara berbalik dan menatap Zidan dengan tajam. Ia tak tahu lagi harus berkata apa agar Zidan mau menjelaskan hal sebenarnya.
"Jangan hubungi aku dulu. Aku butuh waktu sampai kamu mau menjelaskannya padaku," ucap Zara. Ia melepas cengkraman tangan Zidan dan pergi meninggalkan Zidan begitu saja. Zidan menatap Zara sedih. Ingin sekali ia merengkuh Zara dan menceritakan semuanya. Namun apa dayanya, ia tidak bisa melakukan itu sekarang.
Beberapa saat kemudian, Zidan sampai di rumahnya. Ia berjalan gontai memasuki rumahnya. Tak ada semangat seperti biasanya.
Alina yang melihat Zidan langsung menghampirinya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada putranya.
"Zidan? Ada apa?" tanya Alina lembut. Zidan langsung memeluk mommy nya. Alina mengusap punggung Zidan dengan lembut. Sesaat kemudian, Zidan melepas pelukan itu.
"Tidak ada apa-apa Mom. Zidan ke kamar dulu," ucap Zidan. Ia beralih menuju kamarnya. Namun ia menghentikan langkahnya sejenak. Ia berbalik dan menatap Alina.
"Mom, jika Zara ke sini jangan cerita soal Zidan ya. Anggap saja mommy tidak tahu tentang Zidan dan Zara untuk sementara ini. Zidan belum cerita pada Zara mengenai ini semua," ucap Zidan. Ia berbalik lagi melangkah menuju kamarnya.
"Apa hubungan mereka ada masalah?" gumam Alina. Ia menuju dapur kembali.
Arvin baru pulang dari kantor. Ia langsung mencari keberadaan Alina. Kali ini Arvin tidak menemukan Alina di dapur. Ia mencari ke kamarnya. Benar saja, Alina baru selesai mandi dan kini berada di depan cermin riasnya.
Arvin mengembangkan senyumnya. Ia langsung menghampiri Alina dan memeluknya dari belakang. Ia menciumi pipi Alina dengan gemas.
"Mas, sudah ah. Aku lagi menyisir rambut," ucap Alina dan mendorong pelan wajah Arvin.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh mengganggu istri sendiri?" ucap Arvin. Ia beralih duduk di sofa dan melepas jas serta dasinya. Ia meletakkannya secara asal.
"Oh iya mas. Aku mau tanya mengenai Zidan. Apa yang terjadi dengannya? Tadi aku lihat dia pulang dengan wajah lesu," ucap Alina. Siapa tahu suaminya itu mengetahui sesuatu. Arvin terdiam sejenak. Ia menarik Alina agar bersandar pada dirinya.
"Yah, mungkin ada masalah dengan hubungan percintaannya. Tidak perlu ikut campur urusan mereka," ujar Arvin. Karena ia tahu Zidan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan ayahnya. Meskipun Arvin ingin membantu namun ia tak bisa melakukan banyak hal.
"Apa tidak apa-apa jika kita diam saja? Aku takut mas," ujar Alina khawatir. Arvin hanya tersenyum dan semakin merengkuh erat tubuh Alina. Ia menciumi kening Alina berulang kali.
__ADS_1