Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 101


__ADS_3

Seperti biasa, bangun pagi Alina mengurus keluarganya terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Setelah memasak, ia membangunkan Zidan dan Barra terlebih dahulu. Baru kemudian membangunkan suaminya.


Sembari menunggu suaminya siap, ia membantu Barra untuk mandi dan menyiapkan perlengkapan Zidan untuk ke sekolah. Alina semakin mahir mengurus keluarganya.


Selesai memandikan Barra, Alina menuju meja makan yang sudah ada Zidan di sana. Sedangkan Arvin baru selesai dari kamar mandi. Memang kadang kala Arvin susah untuk bangun pagi.


"Sayang, tolong jaga Barra sebentar ya. Mommy mau panggil papa dulu," ujar Alina kepada Zidan. Zidan mengangguk.


Alina menuju kamarnya, Arvin baru saja memakai kemejanya. Ia melihat Alina masuk ke kamar tersenyum tipis. Alina mengambil alih dan membantu mengancingkan kemeja suaminya itu. Arvin mendekatkan tubuhnya dengan Alina. Sedangkan Alina masih fokus dengan kemeja dan kini beralih memakaikan dasi untuk Arvin.


"Mas, sudah ditunggu anak-anak di bawah. Kasihan Zidan kalau nanti telat ke sekolahnya," ujar Alina. Karena tangan Arvin yang tak tinggal diam.


"Biarin. Sekali telat nggak akan dihukum kok," jawab Arvin. Alina menatap tajam Arvin.


"Ayo mas," ucap Alina dan mengambil jas suaminya. Arvin memakainya dengan dibantu oleh Alina.


"Ke mana sayang?" bisik Arvin.


"Sarapan! Sudah ah jangan menggoda terus," ujar Alina sedikit kesal. Arvin mencium kening istrinya dan tak lupa mengelus perut istrinya.


Arvin menggandeng tangan Alina dan mereka sama-sama turun ke bawah menuju meja makan.


"Pagi sayang," sapa Arvin dan mencium kening Zidan dan Barra secara bergantian.


"Pagi pa," ucap Zidan dan Barra bersamaan.


"Mom, pa. Zidan berangkat duluan ya. Zidan sudah selesai sarapan. Hari ini ada tes pagi," ucap Zidan dan mencium tangan orang tuanya secara bergantian.


"Hati-hati sayang," ujar Alina. Alina mengantar Zidan sampai depan rumah.


"Mas, kamu sih bangunnya lama. Zidan jadi berangkat diantar sopir lagi kan," ujar Alina yang sudah duduk di samping Barra.


"Loh kok jadi mas sih yang salah. Ini jiga masih pagi. Zidannya saja yang terlalu disiplin sayang," jawab Arvin santai.

__ADS_1


"Papanya yang malas bangun. Mulai besok harus bangun lebih pagi lagi. Biar Zidan berangkatnya sama kamu mas," ucap Alina menegur suaminya.


Arvin hanya mengangkat bahunya. Ia menghabiskan sarapannya dan minum segelas air putih. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi.


"Aku berangkat dulu sayang. Jangan marah-marah dong. Kan kamu tahu sendiri alasan mas sulit bangun pagi," ucap Arvin sambil mengedipkan sebelah matanya. Alina bergidik ngeri. Bagaimana tidak telat banguj pagi, hampir setiap malam Arvin minta jatah terus ke Alina.


Alina sedikit salah tingkah. Pipinya juga merah merona. Pagi-pagi sudah digoda oleh suaminya.


"Hati-hati ya mas. Jangan lupa nanti sekalian jemput Zidan, ucap Alina. Arvin mengangguk. Ia berangkat ke kantor.


Hanya tinggal dirinya yang belum siap-siap untuk bekerja. Setelah selesai mencuci piring kotor dan membersihkan meja makan, Alina menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap. Hari ini ia sudah ada janji dengan kliennya yang sempat tertunda kemarin. Ditambah lagi satu klien baru untuk membahas kerja sama baru.


Ketika mau berangkat ke rumah Dewi, ia mendadak mendapat pesan jika Dewi sedang sakit dan tidak bisa membawa Barra. Mau tak mau ia harus membawa Zidan ke restoran bersamanya.


"Adek hari ini ke restoran sama mommy mau gak?" tanya Alina sambil menggendong Barra menuju mobil.


"Mau main tama kak Naula," jawab Barra.


"Yaudah, tama mommy aja," balas Barra. Alina mengembangkan senyumnya.


Alina ke restoran diantar oleh pak Kariman. Namun ia sempat bingung, hari ini ada meeting tetapi tidak mungkin mengajak putranya juga. Yang ada Barra akan mengacau dan membuat pekerjaannya tertunda.


Alina sampai di restoran. Barra ia biarkan berjalan sambil tangannya menggenggam jemari Alina. Semua karyawan menyapanya dengan hormat.


"Alina," panggil Danis yang berada di belakang Alina. Alina berbalik, dan Barra bersembunyi di belakangnya.


"Kamu? Ngapain kamu ke sini?" Ucap Alina kesal.


"Kamu belum memaafkan aku?" tanya Danis sedikit memelas.


"Apa kamu tidak dengar kemarin aku bilang apa padamu? Aku sudah memaafkanmu! Tapi jangan pernah lagi menampakkan dirimu di depanku! Mengerti tidak?" ucap Alina semakin kesal. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan laki-laki ini. Lebih baik ia menghindarinya daripada dirinya terkena masalah.


Danis menundukkan wajahnya. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja.

__ADS_1


"Apakah dia putramu?" tanya Danis yang menyadari ada anak kecil yang bersembunyi di belakang Alina.


"Bukan urusan kamu ya! Kalau kamu tidak pergi sekarang, aku akan panggil satpam untuk mengusirmu!" ancam Alina. Namun Danis hanya tersenyum. Ia berjongkok di depan Alina. Barra semakin takut dan bersembunyi.


"Hai jagoan," sapa Danis.


"Pak satpam, tolong usir orang ini dan jangan biarkan dia masuk ke sini lagi!" perintah Alina. Pak satpam langsung mengangguk dan membawa Danis keluar.


"Alina kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini! Tolong maafkan aku Alina," teriak Danis yang semakin menjauh dari tempat Alina berdiri. Alina tak menanggapi ucapan Danis. Ia menggendong putranya dan masuk ke dalam ruangannya.


"Oh jadi laki-laki yang tadi malam itu pak Danis," gumam Rani yang tak sengaja mendengar dan melihat pertengkaran Alina dengan Danis.


"Nggak bisa! Pasti Danis akan ke sini lagi nanti. Lalu bagaimana aku menghindarinya," gumam Alina. Ia melamun sampai suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Masuk!" ucap Alina.


"Maaf mbak Alina, klien kita sudah menunggu di luar," ucap Rani. Alina mengangguk dan menyuruh Rani untuk mempersilakan tamunya masuk. Alina berdiri dan mengangguk untuk menyambut kliennya.


"Selamat pagi nona Alina. Saya adalah Lisya, sekretaris dari nyonya Lauren," sapa Lisya memperkenalkan diri.


"Iya, saya Alina. Mari silakan duduk," balas Alina dan mereka duduk di sofa. Alina memberikan berkas agar Lisya membaca dan menelitinya sebelum tanda tangan kontrak. Sedangkan Alina masih memberikan pengertian kepada Barra agar tidak rewel untuk sementara waktu.


"Baik nona, kami sudah selesai membacanya. Saya rasa tidak ada masalah dari kontrak kita kali ini," ucap Lisya. Namun fokus Alina terpecah antara pekerjaannya dan Barra.


"Eh, iya. Sekretaris Lisya bisa langsung tanda tangan saja," ucap Alina. Seharusnya mereka berbincang sedikit mengenai rencana selanjutnya. Tetapi kali ini Alina tak bisa konsentrasi sama sekali.


"Saya sudah menanda tanganinya nona," jawab Lisya.


Alina masih fokus melihat anaknya yang tak jauh dari tempatnya.


"Nona? Apakah kita bisa melanjutnya kerja sama ini?" tanya Lisya yang merasa dicuekin.


"I-iya. Maafkan saya," jawab Alina. Hampir saja ia kehilangan kerja samanya kali ini. Alina menandatanganinya dan mengobrol santai sebelum pertemuan itu berakhir.

__ADS_1


__ADS_2