Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 100 (season 2)


__ADS_3

Barra dan Kayla segera menuju ke rumah sakit setelah mendapat kabar tadi pagi dari Alina. Hari ini mereka izin untuk tidak masuk kerja. Kini, mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Barra dan Kayla tidak tahu tentang persoalan orang tua Zara. Karena tidak ada yang cerita padanya dan juga ia jarang berkunjung ke rumah orang tuanya.


Barra masih menerka tentang kejadian yang menimpa Zara. Padahal Zara adalah tipe orang yang berhati-hati apalagi semenjak ia hamil ini. Barra juga tidak menyangka Zara mengalami keguguran diusia kandungannya yang sudah menginjak bulan kelima.


"Mas, semoga kak Zara baik-baik saja ya. Dan mereka bisa ikhlas dengan semua kenyataan ini," ucap Kayla. Ia melirik ke arah suaminya.


"Iya sayang. Semoga mereka kuat menghadapi cobaan ini," balas Barra. Kayla tersenyum dan mengangguk tipis.


Tak lama setelah itu, Barra dan Kayla sampai di rumah sakit. Mereka segera menuju ke ruangan di mana Zara dirawat. Karena sebelumnya Alina sudah memberitahunya di mana Zara berada. Barra membuka pintunya dan melihat Zidan sedang memperhatikan Zara dengan lekat. Bahkan Zidan sampai tidak menyadari keberadaan mereka berdua. Barra dan Kayla memasuki ruangan tersebut dan berjalan menghampiri Zidan.


"Bang?" ucap Barra. Zidan tersentak dan langsung menatap ke arah belakangnya. Di sana sudah ada Barra dan Kayla yang berdiri sambil tersenyum. Zidan berdiri dan langsung memeluk adiknya itu dengan erat.


Saat ini Zidan sudah bisa menguasai emosinya. Jika kemarin setiap memeluk orang-orang terdekatnya selalu tak kuasa menahan tangisnya, namun hari ini Zidan jauh lebih kuat menghadapi kenyataan pilu ini.


Barra membiarkan Zidan untuk memeluknya sejenak. Ia tahu, saat ini abangnya sedang dirundung masalah. Sebagai seorang adik yang besar bersama dalam satu rumah, ia tahu bagaimana kesedihan Zidan saat ini walaupun dia tidak menampakkannya di depannya.

__ADS_1


"Terima kasih ya telah datang ke sini," ucap Zidan saat melepas pelukannya. Barra menepuk bahu Zidan cukup keras dan tersenyum lebar. Ia berusaha menguatkan Zidan. Zidan tersenyum dan mengangguk tipis.


"Bagaimana keadaan kak Zara?" tanya Kayla. Ia beralih menatap Zara yang masih berbaring di atas ranjang pasien. Zidan menatap Zara. Ia beralih lebih mendekat ke arahnya.


"Belum sadarkan diri juga. Namun kata dokter keadaannya semakin membaik. Mungkin dia butuh istirahat untuk menenangkan dirinya dulu. Dokter juga bilang jika Zara akan segera sadar, mungkin besok atau besok lusa," jawab Zidan. Ia menatap Zara dan menatap adik serta adik iparnya secara bergantian.


"Bang, maaf baru bisa jenguk hari ini. Aku baru dapat info dari mommy tadi pagi. Semoga kak Zara segera sadar dan pulih seperti sedia kala," ucap Barra. Zidan tersenyum sambil mengangguk.


"Emm... Bang Zidan pasti belum makan kan? Ini, Kayla bawakan makanan," ucap Kayla. Ia meletakkan makanan tersebut di atas meja kecil yang berada di samping ranjang Zara. Zidan tersenyum tipis. Sebenarnya ia tak berselera untuk makan.


Zidan membawa Barra dan Kayla untuk duduk di sofa. Mereka mengobrol sambil memperhatikan Zara dari sana. Banyak hal yang mereka bicarakan. Mengingat karena mereka juga jarang bertemu apalagi mengobrol lama seperti ini.


Hingga sampai pukul 10.00 pagi Barra dan Kayla belum beranjak dari sana. Bahkan Zara sudah diperiksa untuk kedua kalinya, namun belum ada tanda-tanda Zara untuk membuka matanya. Keadaan Zara semakin stabil. Dokter juga sudah memberitahu jika tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan pada kondisi Zara. Hanya menunggu Zara sampai sadar.


"Bang, kami pamit pulang dulu ya. Kami doakan semoga kak Zara segera sadar dan pulih seperti sedia kala," pamit Barra. Zidan mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah kepergian mereka, Zidan kembali murung sambil duduk di samping Zara. Zidan mengusap pelan pipi Zara sambil menatapnya dengan lekat.


"Sampai kapan kamu menghukumku seperti ini sayang? Bangunlah, apa kamu tidak merindukanku," ucap Zidan pelan. Ia kembali meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama tidurnya, aku kangen sama kamu," ucap Zidan lagi. Lalu ia beranjak untuk mengecup kening Zara cukup lama.


Di kediaman Mahindra, Diana keluar dari kamarnya karena mendengar suara isak tangis Syifa. Diana belum mengetahui perdebatan antara anak dan suaminya tadi pagi. Ia berjalan pelan menuju kamar Syifa untuk memastikan apakah itu Syifa atau bukan.


"Syifa? Apakah kamu di dalam sayang?" tanya Diana sambil mengetuk pintunya. Karena pintu kamar itu dikunci sehingga Diana tidak bisa masuk ke dalam untuk mengeceknya.


"Mama jahat! Papa jahat! Kalian semua jahat pada Syifa!" teriak Syifa dari dalam kamarnya. Diana mengernyitkan dahinya. Ia bingung apa maksud dari putrinya itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Diana panik.


"Pergiiii!!" teriak Syifa. Ia melempar barang hingga mengenai pintu kamarnya dan membuat Diana kaget. Diana semakin bingung dengan tingkah Syifa. Lalu ia mencoba menghubungi suaminya untuk menanyakan apa yang terjadi pada putrinya itu. Namun lagi-lagi Anton tidak menceritakan apa yang terjadi tadi. Ia menyuruh Diana agar menjauh dari kamar Syifa hingga dirinya pulang. Diana menuruti suaminya dan memilih untuk menunggu di ruang tengah sambil membaca majalah.


Beberapa jam kemudian, Anton pulang dari kantornya. Ia langsung menyuruh Diana untuk bersiap karena mereka akan menjenguk Zara di rumah sakit.


"Mas, ada apa dengan Syifa? Kenapa dia sangat marah sekali? Bahkan ia tidak mau membukakan pintunya. Apa sebaiknya kita coba lihat ke sana?" ucap Diana khawatir. Anton hanya tersenyum tipis. Ia menghela napasnya panjang. Jika Anton menceritakan kejadian sebenarnya, ia yakin Diana tidak akan sekhawatir ini pada Syifa. Mungkin juga Diana akan lepas kendali dan justru membahayakan Diana.


"Dia hanya marah karena papa tidak memberinya uang jajan lebih. Ayo kita ke rumah sakit saja menjenguk anak kita," ujar Anton. Ia merangkul Diana dan pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Tapi mas, tidak mungkin Syifa semarah itu kalau hanya tidak diberi uang jajan tambahan," ucap Diana saat mereka sudah berada di dalam mobil. Anton hanya melirik Diana sekilas dan kembali fokus pada kemudinya. Ia tidak ingin membahas Syifa dulu.


"Kenapa sikap mas Anton aneh sekali? Apa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku?" batin Diana menerka-nerka. Tidak mungkin itu hanya masalah sepele. Dilihat dari sikap Anton dan Syifa, pasti ada yang Anton tutupi darinya, pikir Diana.


__ADS_2