Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 84


__ADS_3

Mereka sampai di rumah pukul 19.30. Zidan sudah tertidur di kursi belakang karena tadi siang ia sama sekali tidak tidur. Arvin dan Alina keluar mobil. Alina masuk terlebih dahulu ke dalam rumah sedangkan Arvin menggendong Zidan. Arvin membaringkan Zidan dengan pelan di kamarnya dan tak lupa menyelimutinya. Kemudian ia menuju kamarnya sendiri yang sudah ada Alina dan Barra.


Alina merasa lelah hari ini. Perjalanan yang lumayan jauh dan harus menggendong Barra terus-terusan membuat pundaknya terasa pegal. Setelah berhasil menidurkan Barra di keranjang bayi, Alina merenggangkan otot-ototnya untuk mengurangi rasa lelahnya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sampai di dalam kamar, Arvin mendekat ke arah Barra dan menciumnya sekilas. Arvin tersenyum dan mengusap pelan pipi Barra yang mulai gembul.


Arvin merebahkan dirinya di ranjang dengan posisi telentang. Tangannya ia tarik ke atas dan memejamkan matanya. Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Arvin membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke sana.


Arvin tersenyum kecil melihat istrinya yang baru mandi dan hanya menggunakan handuk sebagai penutup tubuhnya. Alina belum menyadari bahwa Arvin sudah ada di dalam kamar. Dengan santainya ia memilih baju tidur dan memakainya di sana.


Saat berbalik, Alina terkejut karena suaminya itu tengah memandanginya dari atas ranjangnya. Dengan tatapan yang tak bisa Alina artikan. Alina sama sekali tak merasa malu. Ia bahkan acuh dan kembali ke dalam kamar mandi untuk menaruh handuknya.


"Mas, gak mandi dulu?" tanya Alina yang kini sudah duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Arvin tetap diam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alina. Ia terus menatap Alina dengan lekat.


Merasa tak ada jawaban dari suaminya, Alina menoleh untuk menatap Arvin. Alina menghela napasnya pelan dan melanjutkan menyisir rambutnya yang panjang.


Setelah memakai hand body ke seluruh tangan dan kakinya, Alina beringsut menuju ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Mas?" panggil Alina yang sedari tadi Arvin hanya diam saja.


Arvin mendekat ke arah Alina dan memeluknya dari samping. Menghirup aroma wangi dari tubuh Alina.


Alina hanya mengusap-usap lengan Arvin dan tangan yang satunya memainkan ponselnya. Ia bertukar pesan kepada Dewi untuk menanyakan kabarnya.


"Chatting sama siapa sih?" tanya Arvin yang merasa diabaikan.


"Sama selingkuhan nih," jawab Alina asal sambil tangannya mengetik membalas pesan dari Dewi.


Arvin mengernyitkan dahinya dan langsung menatap Alina. Tangannya meraih ponsel Alina yang belum selesai mengetik isi pesan. Arvin menatap layar ponsel Alina dan tersenyum tipis. Ia meletakkan ponsel Alina di atas nakas.


"Kok ditaruh di situ? Kan aku belum selesai chattingan sama Dewi mas," ujar Alina yang ingin meraih ponselnya kembali namun ditahan oleh Arvin.

__ADS_1


"Tidur sayang. Istirahat!" jawab Arvin dan memeluk Alina kembali. Mau tidak mau ia harus membiarkan pembicaraannya dengan Dewi lewat online.


"Sayang, kalau misal aku mengurus bisnis ke luar kota kamu keberatan gak?" tanya Arvin dan kini menatap Alina. Alina diam sejenak. Ia nampak berpikir sesuatu.


"Penting ya?" tanya Alina kembali. Arvin mengangguk.


"Berapa lama?" tanya Alina dan membenarkan posisinya agar lebih nyaman. Kini mereka dalam posisi miring dan berhadapan.


"Eemm.. Dua minggu mungkin," jawab Arvin sambil tangannya memainkan rambut Alina.


"Kalau memang penting ya nggak apa-apa sih mas. Atau nanti aku dan anak-anak tidur di rumah mama saja selama mas pergi," ucap Alina.


"Tapi aku nggak tega sayang," ujar Arvin dan sedikit memanyunkan bibirnya.


Alina menghela napasnya pelan. Matanya menatap lekat Arvin dan tangannya mengusap lembut pipi Arvin. Ia mengecup bibir Arvin sekilas.


"Aku bisa jaga diri kok mas," ucap Alina mencoba meyakinkan Arvin.


"Mas," ucap Alina lirih.


"Ya?" jawab Arvin.


"Aku kok tiba-tiba ingin makan mie kuah sih," ujar Alina dan kini menatap Arvin. Arvin mengernyitkan dahinya.


"Jangan-jangan kamu?" ucap Arvin menggantung.


"Apa mas?" tanya Alina bingung.


"Lagi ngidam ya?" tanya Arvin sambil memajukan wajahnya mendekat ke arah Alina.


"Apaan sih mas, jangan mengada-ngada deh," jawab Alina lalu mendorong wajah Arvin dengan pelan. Malam ini ia benar-benar ingin makan mie kuah yang sangat pedas.

__ADS_1


Alina beranjak dari ranjangnya. Ia menuju ke bawah untuk membuat mie kuah yang sangat ia inginkan. Membayangkannya saja membuat air liurnya meluap. Arvin mengikuti Alina sampai ke dapur. Ia menatap istrinya dengan aneh.


"Biar aku buatkan, kamu duduklah!" suruh Arvin mengambil panci yang dipegang Alina.


"Oke, cabainya banyakin ya. Harus yang pedas," ucap Alina dengan senang. Arvin hanya menjawab dengan kedipan matanya. Alina menunggu di meja makan.


Jika tuan dan nyonyanya sedang berada di dapur atau manapun, otomatis bi Narsih maupun Mira tidak akan mengganggu mereka. Walaupun misalnya memasaknya belum selesai, tetap saja bi Narsih akan pergi dan mengerjakan pekerjaan yang lain.


Tak butuh waktu lama untuk memasak mie kuah pesanan Alina. Arvin terlihat sangat lihai memasak mie kuah. Alina mengembangkan senyumnya menatap suaminya yang kini sedang berada di dapur. Mie kuah sudah siap dan baunya tercium sampai di tempat Alina.


Arvin menuju meja makan sambil membawa semangkuk mie kuah. Ia meletakkannya tepat di depan Alina.


"Hanya satu?" tanya Alina yang memang hanya ada satu mangkuk saja.


"Memangnya kamu mau berapa mangkuk sayang?" tanya Arvin sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Mas nggak mau ya?" tanya Alina sambil mengaduk-aduk mie nya. Arvin menggelengkan kepalanya pelan.


Alina mengangkat bahunya. Biar saja jika Arvin tidak mau, yang terpenting saat ini ia hanya ingin makan mie kuah tersebut. Alina menikmati mie itu dengan lahap. Bahkan Arvin belum pernah melihat Alina makan selahap ini. Hanya semangkuk mie dengan kuah pedas rasanya seperti makan makanan restoran bintang lima.


"Mas beneran nggak mau nih?" tanya Alina lagi untuk memastikan.


"Lihat kamu makan dengan lahap saja aku sudah kenyang sayang," ucap Arvin. Ia menyodorkan segelas air putih yang ia tuang tadi. Alina meneguknya hinga setengahnya.


Alina merasa kenyang. Ia mengusap perutnya karena terasa penuh. Ia sangat puas, mie yang dibuat suaminya itu tidak mengecewakan lidahnya.


"Mas nggak marah aku makan mie instan seperti ini?" tanya Alina menatap ke arah suaminya.


"Selama kamu suka aku tidak akan melarang. Tapi tetap saja, jangan sering-sering makan mie instan. Awas saja," ujar Arvin sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Alina. Alina tersenyum kecil mendengar peringatan dari suaminya.


Setelah itu, mereka kembali ke kamar untuk istirahat.

__ADS_1


__ADS_2