
Pagi yang cerah menyambut hari yang bahagia. Sinar sang surya telah memasuki kamarnya melalui celah-celah jendela. Namun Alina sama sekali tak merasa terganggu.
"Sama abang saja dek, mommy lagi sakit."
"Gak mau! Mau tama mommy!"
"Sama abang saja ya?"
"Tama mommy, huuwaaa.."
"Mommy lagi sakit dek."
"Huuwaaaa..."
"Kita tunggu di sana saja ya."
"Gaaakkk!!"
Alina mengerjap kala mendengar suara gaduh di luar kamarnya. Dirinya masih mengantuk tapi suara berisik itu telah mengusik telinganya.
Alina beringsut untuk duduk dan bersandar. Suaminya sudah tidak ada di sampingnya. Pastinya sudah lebih dulu bangun. Tapi di mana suaminya itu. Bahkan Alina tak mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandinya.
Alina melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya. Ia yakin jika Barra sedang rewel minta bertemu dengannya. Ia membuka pintu tersebut dan nampak dua putranya yang sedang menunggunya di depan pintu kamarnya.
"Maafkan mommy sayang," ucap Alina dan berjongkok di depan mereka. Alina memeluk kedua putranya bersamaan. Ia mencium kening Zidan dan Barra secara bergantian.
"Mommy sudah sembuh?" tanya Zidan yang sudah menggendong Barra. Mereka menuruni tangga menuju meja makan.
"Sudah sayang. Terima kasih ya sudah mau menjaga adik Barra dengan baik selama mommy sakit," ungkap Alina dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"No mommy, Zidan yang harusnya minta maaf karena membuat mommy sakit lagi." Nampak kekhawatiran di wajah Zidan.
"Bukan sayang, Zidan tidak boleh berpikiran seperti itu lagi ya. Kalau tidak, mommy akan marah sama Zidan dan nggak mau bicara lagi sama Zidan," ancam Alina. Ia tidak ingin Zidan mengkhawatirkannya secara berlebihan.
Zidan mengangguk. Mereka sudah sampai di meja makan. Hari ini menu yang sangat spesial. Untuk pertama kalinya Arvin menyiapkan sarapan untuk mereka. Karena biasanya juga dihandle oleh Alina atau bi Narsih.
"Loh mas? Ini semua kamu yang nyiapin?" tanya Alina yang melihat Arvin masih memakai celemek. Alina menggaruk kepalanya yang tak gatal. Arvin tersenyum tipis sambil melepas celemek yang ada di tubuhnya.
"Pagi sayang. Yuk sarapan. Sini, Barra biar sama mas. Kamu makanlah yang banyak," ujar Arvin dan mengambil alih Barra. Arvin juga membantu Alina duduk di kursi.
Mereka mulai sarapan. Arvin menyuapi Barra. Sedangkan Alina makan dengan lahap begitu juga Zidan.
"Mas nggak ke kantor?" tanya Alina di tengah-tengah makannya.
"Nanti sayang," ucap Arvin dan tersenyum manis kepada Alina.
Setelah selesai, Zidan pamit untuk berangkat sekolah. Ia diantar oleh pak Kariman karena Arvin belum siap. Arvin menyodorkan satu gelas susu untuk Alina. Ia juga tak lupa memberikan vitamin yang diberikan dokter kemarin.
Arvin mandi dan bersiap untuk ke kantor. Sekalian ia akan ke rumah orang tuanya untuk mengabarkan kabar bahagia ini. Karena ia tidak mungkin membawa serta Alina ke sana.
Arvin menuruni tangga dan berjalan menuju ruang tengah di mana Alina dan Barra berada. Ia mencium kening Alina dan mengambil alih Barra.
"Aku berangkat dulu ya. Jika ada apa-apa kabari mas, oke?" pamit Arvin sambil menggenggam tangan Alina. Ia mengecupnya sekilas.
"Iya mas. Hati-hati ya," balas Alina.
Arvin mengangguk dan keluar menuju mobilnya. Untuk sementara waktu Barra ia titipkan kepada Briant sampai usia kandungan Alina 2-3 bulanan. Karena Barra yang semakin aktif dan itu akan sangat melelahkan untuk Alina.
***
__ADS_1
"Sayang, selamat ya atas kehamilanmu yang kedua ini," ujar Lita yang sudah berada di ruang tamu.
Alina sedikit bingung. Siapa yang mengabari mama mertuanya ini. Padahal ia belum cerita apapun. Bi Narsih saja baru tahu kabar ini tadi pagi. Dan dengan cepat kabarnya tersampaikan ke rumah mama mertuanya.
"Dari mana mama tahu Alina hamil lagi ma?" tanya Alina penasaran.
Lita tersenyum sambil tangannya mengeluarkan beberapa makanan yang ia bawa dari rumah. Katanya itu makanan sehat untuk ibu hamil.
"Tadi Arvin sempat datang ke rumah untuk memberitahu mama. Makanya mama langsung datang ke sini untuk memastikannya," jawab Lita senang.
Oh, ternyata suaminya ini sudah memberitahu mama mertuanya. Jadi ia tidak perlu lagi datang ke sana secara langsung.
"Bagaimana? sudah berapa bulan?" tanya Lita sambil menyodorkan makanan yang sudah ia siapkan tadi. Alina merasa canggung jika Lita terlalu perhatian seperti ini. Tapi tak menutup kemungkinan jika ia merasa senang dengan perlakuan Lita padanya.
"Baru tiga minggu Ma. Ini saja harus banyak-banyak istirahat. Sampai Barra harus dititipkan sama kak Briant," ucap Alina. Lita mengangguk paham.
"Ini makanlah. Mama siapkan sendiri khusus untuk menantu kesayangan mama dan juga untuk calon cucu mama ini," ujar Lita dan mereka tertawa kecil.
Alina menerimanya dan mulai mencicipinya. Kebetulan sekali ia sudah merasa lapar. Entah kenapa kehamilannya kali ini ia semakin banyak makan. Alina memakannya dengan lahap. Apapun yang ia ingin makan masuk begitu saja. Lita yang memperhatikan Alina terkekeh sendiri.
Makanan yang tersaji di depan Alina kini sudah habis dalam sekejap. Ia bahkan sampai lupa jika mama mertuanya sedari tadi memperhatikannya. Begitu nikmatnya masakan dari mama mertuanya itu. Namun baru beberapa menit saja, Alina merasakan mual yang tak tertahankan. Ia buru-buru menuju kamar mandi. Lita yang panik juga menyusul Alina, ia takut terjadi apa-apa pada menantunya. Meskipun itu adalah hal yang wajar bagi ibu hamil.
Alina memuntahkan semua yang ia makan tadi. Baru ia merasa lega karena apa yang ia makan sukses masuk ke perutnya, kini ia harus merasakan mual itu lagi. Tubuh Alina terasa lemas dan wajahnya berubah pucat. Lita masih menemani Alina sambil memijat tengkuknya. Lita menuntun Alina menuju kamarnya agar istirahat. Bi Narsih membawakan Alina minuman hangat agar perutnya lebih nyaman.
"Apa tadi pagi juga mual seperti ini sayang?" tanya Lita sambil menyelimuti Alina. Ia duduk di tepi ranjang.
"Tidak Ma. Bahkan tadi pagi Alina juga sarapan tapi tidak mual seperti ini," jawab Alina dengan lemas.
"Istirahatlah. Biar mama menghubungi suamimu dulu," ujar Lita sambil mengeluarkan ponselnya. Ia ingin menghubungi Arvin karena tak tega dengan kondisi Alina.
__ADS_1
Alina menahan tangan mama mertuanya yang hendak menekan nomor Arvin untuk menghubunginya. Alina menggeleng pelan. Berharap Lita mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya.
"Tidak perlu Ma. Alina istirahat saja," ucap Alina. Ia memejamkan matanya. Lita hanya menghela napas pelan sambil menatap menantunya itu. Lita sungguh tak tega dengan kondisi Alina saat ini.