Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 95


__ADS_3

Sudah dua bulan Alina bekerja di restorannya. Kini ia lebih tenang meninggalkan Barra ketika sedang bekerja. Ia menitipkan Barra pada Dewi. Karena beberapa kali Alina ke rumah Soraya tetap saja Barra tidak mau ditinggal oleh Alina. Akhirnya ia membawa Barra lagi ke restorannya.


Ia tanpa sengaja bertemu dengan Briant di restorannya. Tentunya bersama dengan Dewi dan Naura. Awalnya Alina ragu saat Dewi menawarkan diri untuk menjaga Barra ketika Alina sedang bekerja. Alina takut Barra akan merepotkan Dewi dan kakaknya. Namun karena ia selalu kerepotan antara mengurus pekerjaan atau anaknya, ia menyetujui usulan Dewi tersebut.


Dewi sama sekali tak keberatan. Ia justru senang bisa menjaga Barra karena Naura jadi ada teman bermainnya. Meskipun tempat tinggal Briant lumayan jauh dari rumah dan tak searah dengan restorannya.


Kalau bertanya soal dirinya kenapa tidak mempekerjakan pengasuh, jawabannya karena Barra tak terbiasa dengan orang asing. Beberapa kali ia terpaksa memecat pengasuh yang baru ia pekerjakan lantaran putranya ini yang sulit beradaptasi. Bagaimanapun Alina tak bisa memaksa Barra.


Akhir-akhir ini juga Alina merasa sering pusing dan nafsu makannya bertambah. Bahkan beberapa orang mengatainya semakin gemukan. Alina merasa aneh, bahkan ia tak merasa jika berat badannya bertambah.


Ia berpikir jika dirinya terlalu banyak bekerja sehingga sering mengeluh pusing. Sudah satu minggu ini Alina mengeluh demikian. Namun jika Arvin ingin membawanya ke rumah sakit, Alina selalu menolak dengan alasan mual mencium aroma yang ada di rumah sakit itu.


Merasa jengah karena khawatir dengan kesehatan Alina, akhirnya ia menelepon dokter pribadinya untuk datang ke rumah mengecek kesehatan istrinya itu.


Dan kabar baik datang di tengah-tengah mereka. Dokter Santoso mengatakan jika kemungkinan Alina sedang mengandung. Namun untuk lebih jelasnya, dokter Santoso menyarankan agar Alina memeriksakan diri ke rumah sakit.


Ya, memang Alina baru menyadari bahwa dirinya sudah lama sekali tidak datang bulan. Bahkan ia tak menyadari akan hal itu. Mendengar kabar tersebut, Arvin langsung memeluk Alina dan menciumi puncak kepala Alina. Alina juga merasa tak percaya. Kini di dalam rahimnya tumbuh calon buah hati mereka.


"Kali ini turuti saran mas ya. Kita ke dokter untuk cek kandungan," ujar Arvin senang. Alina mengangguk. Ia mengusap perutnya yang masih rata. Berharap apa yang dikatakan dokter Santoso benar adanya.


Sorenya, mereka pergi ke rumah sakit dan sekalian ia menjemput Barra nantinya. Sedangkan Zidan tidak ikut karena sedang belajar. Minggu depan Zidan sudah ujian semester.


Alina menggenggam erat tangan Arvin. Meskipun ini bukan yang pertama, tetapi ia merasa gelisah dengan hasilnya nanti. Jangan sampai ini mengecewakan mereka berdua. Karena Alina sama sekali tak merasa pusing dan mual seperti kehamilannya yang sebelumnya.

__ADS_1


"Silakan bu, saya periksa sebentar," ujar dokter tersebut. Yang tak lain adalah dokter yang menanganinya kala kehamilannya yang pertama.


Setelah selesai diperiksa, Alina turun dari brankar dibantu oleh Arvin. Mereka duduk berhadapan dengan dokter tersebut. Melihat kegelisahan antara Arvin dan Alina, dokter tersebut tersenyum tipis.


"Tidak perlu khawatir pak. Hasilnya positif. Tapi bu Alina harus istirahat yang cukup ya, karena di usia kandungan yang baru tiga minggu ini sangat rentan sekali," ucap dokter itu sambil menulis resep untuk Alina.


Arvin dan Alina saling bertukar pandang. Arvin memeluk bahu Alina dan mencium pipi Alina sekilas. Betapa bahagianya ia saat ini. Bahkan mereka lupa jika ada dokter di depannya yang sedang melihat kemesraan mereka.


"Ehm, ini resep untuk bu Alina. Jika ada keluhan bisa datang ke sini ya bu. Bulan depan cek lagi untuk memantau perkembangan janin ibu. Sekali lagi saya mengucapkan selamat atas kehamilannya," ujar dokter tersebut dan tersenyum ke arah mereka. Seraya ikut senang dengan kehamilan Alina saat ini.


Mereka pamit kepada dokter tersebut. Arvin tak sabar untuk memberikan kabar baik ini kepada keluarga besarnya.


"Semoga kali ini perempuan ya sayang," ujar Arvin saat mereka berjalan menuju parkiran. Entah kenapa Arvin dari awal kehamilannya menginginkan bayi perempuan.


"Iya mas, semoga saja," jawab Alina dan tersenyum lebar ke arah suaminya.


"Eh, tumben jemputnya berduaan. Sini masuk," ucap Dewi yang sedang membukakan pintunya untuk mereka berdua. Karena biasanya hanya Alina yang menjemput Barra sepulang kerjanya.


"Kenapa? Kok kelihatannya senang banget?" tanya Dewi yang menatap mereka dengan aneh.


Dewi mempersilakan Arvin dan Alina duduk. Barra yang mengetahui Alina datang langsung berlari sambil berteriak memanggil mommy nya. Dengan sigap Arvin meraih Barra dan menggendongnya. Ia takut terjadi apa-apa dengan kehamilan Alina.


"Anak papa.. Hari ini bermain apa saja, hm?" tanya Arvin sambil menciumi pipi Barra dengan gemas. Barra tertawa lepas karena merasa geli. Sedangkan Naura selalu malu-malu jika ada orang yang datang ke rumah. Naura selalu bersembunyi di belakang Dewi.

__ADS_1


"Main kejal-kejalan pa. Main boneka juga," jawab Barra dengan polos. Mereka semua tertawa mendengar kelucuan Barra.


"Kak Briant, Dewi, kami ke sini juga mau mengabarkan sesuatu kepada kalian," ujar Alina senang. Ia menarik dan menghembuskan napasnya dengan pelan. Sedangkan Briant dan Dewi saling memandang dan mengangkat bahunya. Tidak tahu kabar apa yang akan Alina sampaikan kepada mereka.


"Jadi begini kak... Alina hamil lagi," ucap Alina malu-malu. Bahkan pipinya merah merona.


Mendengar kabar yang begitu baik membuat Dewi menutup mulutnya seakan tak percaya. Ia memeluk Alina dengan erat. Ia juga turut bahagia. Begitu juga Briant.


"Selamat Alina, aku ikut senang dengan kabar ini," ucap Dewi yang masih memeluk Alina.


"Terima kasih ya," jawab Alina senang.


"Vin, aku mengucapkan selamat untukmu, semoga kali ini dapat yang perempuan ya," ujar Briant diikuti gelak tawanya.


"Terima kasih kakak ipar," ujar Arvin dan mereka saling tertawa.


"Sialan kamu!" gerutu Briant. Karena ia tidak suka dipanggil kakak ipar oleh Arvin. Begitu juga Dewi. Ia tidak ingin Alina memanggilnya demikian.


Setelah cukup lama mereka mengobrol dan Barra sudah mulai lelah, mereka pamit untuk pulang.


"Hati-hati ya. Apa mama sudah tahu kabar baik ini?" tanya Briant yang mengantar mereka sampai ambang pintu.


"Belum kak. Mungkin lusa kita akan ke sana," jawab Alina.

__ADS_1


"Kami pamit ya. Daah Naura sayang," ucap Alina sambil mencium gemas pipi Naura. Dewi melambaikan tangannya melihat mereka pergi dari sana.


"Apa kamu juga tidak ingin nambah satu lagi sayang," bisik Briant dan seketika mendapat tatapan tajam serta cubitan diperutnya. Briant meringis. Apa salahnya ia bertanya seperti itu?


__ADS_2