
"Mommy.. Mom... Yuhu..." Suara Alisya memenuhi rumahnya. Ini masih pagi tetapi Alisya sudah membuat heboh seisi rumahnya.
"Mommy... Mommy di mana?" ujar Alisya. Ia berjalan menuju dapur namun tidak menemukan mommy nya di sana. Alisya memutar bola matanya dengan malas. Ia beralih ke ruang tengah, juga tidak mendapati siapapun.
"Pada ke mana sih semua orang, heran deh," gumam Alisya. Ia duduk di sofa dan meraih camilan yang ada di meja. Kemudian ia memakannya dengan lahap.
Cukup lama Alisya berada di ruang tengah. Ia memilih menonton televisi sambil menunggu semua orang. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Alisya bisa lebih santai di rumah. Sampai terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.
Tak lama, Alina dan Arvin masuk ke dalam sambil membawa beberapa kantong kresek berisi sayuran dan buah-buahan.
"Halo sayang," sapa Alina dan ia berlalu menuju dapur. Arvin membantu Alina menyusun bahan makanan itu di dapur.
"Mommy dari mana?" tanya Alisya yang menuju ke dapur. Ia mengambil satu buah apel dan memakannya.
"Dari pasar sayang. Habis belanja kebutuhan dapur," jawab Alina. Ia memakai celemek dan mulai memasak. Alisya mengangguk. Ia duduk di kursi makan yang tak jauh dari dapur.
"Lalu bang Barra sama bang Raffa ke mana Mom?" tanya Alisya kembali. Alina melihat Alisya sekilas. Ia menggeleng pelan dan melanjutkan memasaknya.
"Mungkin ada urusan apa gitu," ujar Arvin. Jika sedang libur kerja begini Arvin selalu membantu Alina mengerjakan pekerjaan rumah.
Alisya memilih untuk pergi ke kamarnya. Ia ingin membersihkan diri agar terlihat lebih segar lagi. Tak lama, Alisya kembali turun dan menuju ruang tengah untuk menonton acara tv lagi.
Sedangkan Arvin sesekali menggoda Alina yang masih fokus memasak. Ia sangat suka menggoda istrinya ini ketika lagi memasak. Namun Alina berusaha acuh dan jarang menanggapi suaminya itu.
Sarapan sudah siap. Alina membereskan dapur dan mencuci alat-alat yang ia pakai untuk memasak tadi. Tentunya dibantu oleh Arvin.
Barra dan Raffa masuk ke rumah dan tubuhnya dipenuhi oleh keringat. Bisa ditebak jika mereka habis berolahraga pagi. Barra menuju ruang tengah dan duduk di samping Alisya. Sedangkan Raffa berjalan menuju meja makan untuk mengambil minum.
"Ihh bang Barra kebiasaan," ucap Alisya dan sedikit menjauh dari Barra. Barra tadi sempat menyandarkan dirinya di samping Alisya yang tubuhnya masih berlumuran keringat. Barra memang selalu iseng untuk menggoda adiknya itu. Barra tertawa kecil.
__ADS_1
"Dek, ambilkan minum dong," ucap Barra. Ia terlihat begitu lelah mungkin habis berlarian sekitar kompleks.
"Nggak mau!" jawab Alisya dan menjulurkan lidahnya ke arah Barra. Barra menghela napasnya pelan. Ia berdiri, namun tanpa disadari Alisya, dirinya memeluk Alisya. Keringatnya menempel pada baju dan tangan Alisya.
"Pergi bang, kamu bau keringat... Hiiihh..." ucap Alisya sambil melepaskan diri. Barra justru semakin tertawa keras.
Arvin menghampiri mereka. Ia menyuruh kedua anaknya untuk ke meja makan. Barra mengacak rambut Alisya dengan kasar. Alisya begitu menggemaskan. Sedangkan Alisya memanyunkan bibirnya. Ia nampak kesal kepada kakaknya itu.
Barra meninggalkan Alisya dan menuju ke meja makan. Ia memeluk Alina dan mencium pipi Alina sekilas.
"Morning Mom," ucap Barra. Alina tersenyum dan mengusap pipi Barra dengan lembut.
"Makan dulu sayang," ujar Alina. Barra segera duduk di samping Raffa.
Raffa meminta izin untuk mandi terlebih dahulu. Ia meminta agar semua orang tidak menunggunya untuk sarapan. Tetapi lain halnya dengan Barra, ia justru sarapan duluan dan bahkan dirinya belum membersihkan diri.
Disusul oleh Alisya dan Arvin. Mereka duduk di kursi masing-masing. Alina membantu Arvin untuk mengambil nasi dan lauk pauk seperti yang ia lakukan di hari biasanya.
"Barra, hari libur begini kamu nggak coba menghubungi abangmu? Siapa tahu dia punya waktu luang dan bisa kumpul bareng keluarga," ucap Alina setelah meneguk air putih di gelasnya hingga habis.
"Nanti deh Mom, coba Barra hubungi bang Zidan," jawab Barra dan tersenyum tipis.
"Kenapa nggak main ke apartemen bang Zidan saja? Kalau memang dia sibuk, kita bisa samperin dia di sana kan?" ujar Alisya ikut bicara.
"Kamu mau main ke sana?" tanya Arvin dan menatap Alisya.
"Hehe... Iya Pa. Alisya kangen sama bang Zidan," jawab Alisya. Ia menyengir ke arah Arvin.
"Ya sudah siap-siap sana, nanti abang ajak jalan sekalian mampir ke sana," ujar Barra. Ia mengacak rambut Alisya dengan gemas.
__ADS_1
"Tungguin ya. Mau mandi lagi, hehe," ujar Alisya. Ia segera berlari ke kamarnya.
Setelah itu Barra juga pamit untuk ke kamarnya. Barra memang jarang pergi mengajak Alisya keluar. Maklum, kesibukannya yang membuatnya seperti tak ada waktu untuk itu. Alisya lebih sering keluar bersama Raffa. Meskipun setiap kali habis jalan-jalan Alisya dibuat kesal oleh Raffa karena sikapnya yang terkadang dingin dan melarangnya untuk jajan sembarangan. Berbeda dengan Barra yang setiap keinginan Alisya selalu dituruti olehnya tanpa ada penolakan sedikitpun. Termasuk jajan di pinggir jalan dan sebagainya.
"Sayang.." panggil Arvin lembut. Alina sedang membereskan dan mencuci piring yang kotor.
"Iya mas?" jawab Alina tanpa menoleh ke arah Arvin.
"Nggak mau kencan juga? Mumpung libur nih," ujar Arvin.
Alina menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Arvin cukup lama sebelum ia membuka suara. Ia memandangi Arvin penuh keheranan.
"Memangnya mau kencan ke mana? Seperti anak muda saja kencan, haha," ucap Alina. Ia meneruskan lagi untuk mencuci piringnya. Arvin bangkit dan menghampiri Alina. Ia membantu membilas piring yang sudah disabun oleh Alina.
"Ya memangnya kenapa? Mau nonton atau apa gitu mungkin?" ujar Arvin santai. Alina tertawa kecil dan hanya menggeleng-geleng kepalanya. Jujur saja dengan usia mereka yang terbilang sudah tidak muda lagi rasanya membuat Alina harus berpikir ulang untuk pergi berkencan layaknya seorang remaja yang lagi kasmaran. Bukan karena malu sudah tua, tetapi ia malu kepada anak-anaknya yang sudah dewasa.
"Lihat nanti gimana deh mas," jawab Alina. Arvin sedikit kecewa dan sedih. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama seperti dulu.
Raffa berjalan menuju meja makan. Ia langsung duduk dan meletakkan ponselnya di sebelah kiri. Raffa mengambil piring yang berada di hadapannya. Raffa mengambil nasi dan lauk pauk. Kemudian memakannya dengan lahap.
Arvin menghampiri Raffa dan duduk di depannya. Ia memerhatikan putranya yang sedang makan dengan lahap.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Arvin. Ia mengambil pisang dan memakannya.
Raffa berhenti sejenak. Ia memandangi ayahnya sekilas. Raffa menggeleng pelan. Pertanda jika ia tidak ke mana-mana. Arvin menghela napasnya pelan. Tak disangka sifat Raffa begitu dinginnya.
"Sayang, putramu yang satu ini kenapa irit bicara sekali?" ucap Arvin bercanda.
Alina menatap Arvin sekilas. Sedangkan Raffa tersenyum tipis. Ia mengambil minum dan meminumnya.
__ADS_1
"Maaf Pa, kebiasaan," ucap Raffa dan kembali memakan makanannya.