
"Pa! Mana? Katanya papa mau bantuin Karina dekat dengan Zidan. Tapi nyatanya?" ucap Karina dengan emosi.
"Kamu sabarlah sebentar. Papa yakin sebentar lagi Zidan akan menjadi milikmu," ujar tuan Raymond. Ia menyeringai.
Saat ini, Karina dan tuan Raymond sedang berada di kantornya. Sejak kemarin lusa, Karina terus mendatangi kantor papanya. Ia terus menanyakan perihal Zidan dan kapan Karina akan mendekati Zidan. Namun sampai sekarang, tidak ada usahanya yang berhasil satupun.
"Karina harus nunggu sampai kapan lagi Pa? Jika papa tidak bisa membantu Karina, biar Karina sendiri yang mendekati Zidan!" ucap Karina lantang. Tuan Raymond hanya tersenyum tipis melihat sikap putrinya yang tak sabaran.
"Kalau kamu ada cara lain, lakukanlah!" ucap tuan Raymond santai. Karina tersenyum puas. Memang ini yang ia nantikan dari dulu. Langsung berurusan dengan Zidan dan bukan hanya lewat ayahnya.
"Terima kasih Pa. Karin janji, kali ini Karin akan berhasil mendapatkan Zidan," ucap Karina penuh percaya diri.
Karina mulai menyusun rencana untuk mendekati Zidan. Ia tidak bisa tinggal diam saja seperti yang ia lakukan selama ini. Karina begitu terobsesi oleh Zidan. Bagaimanapun caranya ia tidak peduli. Ia hanya punya satu tujuan, yaitu menjadi nyonya Zidan.
"Kalau begitu, Karin permisi dulu Pa. Daahh," ujar Karina. Ia akan mulai mendekati Zidan besok.
Keesokannya, Karina sengaja datang ke kantor Zidan. Ia ingin lebih dekat lagi dengan Zidan. Karina berdandan secantik mungkin dan memakai pakaian yang lumayan seksi.
Karina berjalan menuju resepsionis. Ia bertanya tentang Zidan namun jawaban dari mereka membuat Karina emosi. Akhirnya Karina mengaku bahwa ia adalah pacar Zidan, resepsionis tersebut langsung berwajah pias. Mereka saling bertatap dan memohon ampun kepada Karina. Mereka langsung mempersilakan Karina untuk masuk ke ruangan Zidan.
"Hai Zidan," sapa Karina. Ia perlahan masuk ke dalam ruangan Zidan. Zidan terkejut dengan kedatangan Karina. Ia menatap Karina dengan tatapan tidak suka.
"Zidan, aku sangat merindukanmu," ujar Karina. Ia bergelayut di samping Zidan.
"Apa kita pernah dekat sebelumnya?" tanya Zidan sinis. Mereka hanya bertemu sekali saat pesta ulang tahun Karina. Itupun terpaksa ia lakukan demi menjaga hubungannya dengan tuan Raymond.
__ADS_1
"Kenapa kamu galak sekali. Kita memang belum sedekat itu, tapi aku yakin kita akan lebih dekat lagi setelah ini," ujar Karina percaya diri. Tangannya mengusap bahu Zidan dengan lembut. Berharap Zidan tersentuh dan mendekatinya. Tetapi, bukannya tersentuh Zidan justru merasa risih.
"Nona, apa kau tidak punya pekerjaan sama sekali? Kau mengganggu pekerjaanku!" ucap Zidan tegas.
"Sialan! Kenapa mereka membiarkan wanita ini datang ke sini," batin Zidan geram.
Zidan melirik Fanny. Fanny seolah tahu apa yang harus ia lakukan. Fanny keluar ruangan sebentar untuk memanggil security. Namun saat Fanny baru membuka pintu ruangan itu, Zara sudah berdiri di luar ruangan. Ia tersenyum saat melihat Fanny di depannya.
"Selamat siang tuan Fanny," sapa Zara dengan sopan. Namun Fanny terkejut hingga dirinya terpaku di tengah pintu cukup lama. Zara menatap Fanny dengan aneh.
"Gawat, bagaimana jika nona salah paham dengan tuan muda? Bagaimana ini?" batin Fanny bingung.
"Tuan Fanny? Ada apa?" tanya Zara karena Fanny hanya berdiam di tempat saja.
"Tidak ada apa-apa nona. Si-silakan masuk," ucap Fanny. Ia mempersilakan Zara masuk. Fanny pamit untuk keluar sebentar. Sedangkan Zara masih bingung dengan sikap aneh Fanny hari ini.
Zara masuk. Namun ia berdiri mematung di ambang pintu. Zidan dan Karina menoleh ke arah pintu. Karina mengernyitkan dahinya karena ia tidak tahu siapa wanita itu. Sedangkan Zidan terkejut dengan kedatangan Zara. Ia takut Zara salah paham padanya. Yang terlihat di mata Zara saat ini adalah mereka terlihat begitu mesra. Sedangkan kejadian yang sesungguhnya, Zidan berusaha menjauhkan tangan Karina dari tubuhnya. Zidan ingin mengusir wanita itu namun Karina terlalu keras kepala.
"Oh, maaf saya telah mengganggu Anda. Saya permisi," ucap Zara. Ia keluar dan menutup pintunya kembali.
"Zara, tunggu!" ujar Zidan. Namun Karina justru semakin bergelayut di lengan Zidan.
"Lepasin!" Zidan melepas pagutan tangan Karina dengan kasar. Ia berjalan keluar ruangan untuk mencari Zara.
"Siapa wanita itu? Kenapa Zidan mengabaikanku hanya demi wanita kampungan itu!" ujar Karina kesal. Ia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Sedangkan Zara menuju lift. Ia berniat menuju kantin untuk menjernihkan dirinya. Meskipun Zara cemburu, tetapi ia harus tetap tenang. Saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba Zidan masuk begitu saja.
"Zara, aku bisa jelaskan semua ini. Itu tidak seperti yang kamu lihat dan kamu pikirkan," ucap Zidan.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" tanya Zara datar.
Zidan mendekati Zara. Ia menggenggam tangan Zara dan menatap Zara dengan intens.
"Aku tahu kamu saat ini sedang marah karena melihat kejadian tadi," ucap Zidan dengan lembut. Tak dipungkiri bahwa Zara marah pada Zidan. Namun Zara tidak mau mengakuinya.
"Aku tidak mengenalnya. Dia hanya anak dari kolegaku yang berusaha mendekatiku," ucap Zidan.
Namun Zara teringat sesuatu. Bukankah wanita tadi adalah wanita yang sempat ia lihat beritanya di koran waktu itu. Wanita yang diakui media sebagai pacar dari CEO muda, Zidan putra.
"Bukankah dia pacar kamu?" tanya Zara kesal. Zidan mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti apa yang Zara maksud. Namun sebelum Zidan menjelaskan lagi pintu lift itu terbuka. Zara buru-buru keluar dari lift itu. Tetapi, Zidan menarik Zara kembali. Ia memencet tombol liftnya lagi.
"Kamu tahu dari mana kalau dia pacar aku?" tanya Zidan.
"Oh, jadi benar dia pacar kamu?" ucap Zara. Sebenarnya tadi ia tidak begitu marah pada Zidan. Tetapi setelah teringat jika wanita itu adalah wanita yang waktu itu diberita, tiba-tiba saja amarahnya menaik.
"Pacar? Pacar aku cuma kamu Zara. Bagaimana mungkin aku ada hubungan dengan wanita lain selain kamu," jelas Zidan. Zara menatap tajam ke arah Zidan. Sepertinya Zidan tidak berbohong padanya.
"Aku pernah membaca berita itu. Dan kalian terlihat begitu mesra di salah satu acara pesta," ucap Zara lirih. Ia menundukkan kepalanya. Zidan terdiam sejenak. Ia kembali mengingat-ingatnya. Bahkan ia tidak tahu tentang berita itu.
"Percayalah kepadaku Zara, itu hanya demi urusan bisnis saja. Waktu itu aku hanya menemaninya di acara ulang tahunnya karena papanya yang memintanya. Aku juga tidak bisa menolaknya waktu itu. Tapi setelah itu aku tidak pernah menjalin hubungan lagi dengan dia," ucap Zidan. Zara terdiam. Ia mencerna setiap kata yang diucapkan Zidan.
__ADS_1
Zidan merengkuh Zara masuk ke dalam pelukannya. Ia tahu jika saat ini Zara berusaha memahami apa yang ia ucapkan tadi. Zidan sudah melupakan semua hal yang terjadi di acara pesta waktu itu. Ia juga tidak tahu, jika ada berita yang memberitakan dirinya dan Karina berpacaran.