Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 46 (season 2)


__ADS_3

Braakkk


Tuan Raymond menggebrak meja. Ia tidak menemukan dokumen penting miliknya. Ruangan kerja di kantornya berantakan. Tuan Raymond tidak bisa menemukan dokumen itu meskipun ia sudah mengacak seluruh isi ruangan tersebut.


"Siapa yang berani masuk ke ruangan ini?" tanya tuan Raymond marah. Ia menatap tajam ke arah Hendra, asistennya.


"Saya tidak tahu tuan. Tetapi, kemarin lusa saya sempat melihat nona Karina datang ke sini," jawab Hendra takut.


"Bodoh! Kau pikir putriku yang mencurinya? Begitu?" tanya tuan Raymond emosi. Ia mencengkram krah baju Hendra. Sedangkan Hendra hanya pasrah.


"Ada yang lebih penting daripada itu tuan. Harga saham kita terus menurun. Kemungkinan besar Zidan yang melakukan ini semua. Dia ingin menghancurkan Anda tuan," ucap Hendra.


Tuan Raymond melepas cengkraman tangannya. Ia mengepalkan tangannya. Jika benar Zidan yang melakukan ini semua, ia akan membuat perhitungan padanya.


"Lakukan sesuatu atau kita akan bangkrut, Hendra! Aku tidak mau bisnisku yang sudah aku bangun dari nol hancur begitu saja!" perintah tuan Raymond. Ia duduk di kursi kerjanya sambil menangkupkan wajahnya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana dan mencari bantuan ke mana.


"Saya akan berusaha semampu saya tuan," jawab Hendra sopan. Ia pamit pergi untuk menahan kekacauan ini sebisa mungkin.


"Karina," gumam tuan Raymond.


Ia menghubungi Karina dan menyuruhnya untuk segera ke kantor. Dengan tenang dan tanpa merasa bersalah, Karina datang ke kantor ayahnya. Ia tidak tahu pasti kenapa ayahnya menyuruhnya untuk segera datang. Apapun itu, dalam pikiran Karina mungkin menyangkut tentang dirinya dan Zidan.


"Pa, ada apa papa memanggilku ke sini?" ucap Karina saat sampai di ruangan ayahnya. Dirinya terpaku karena melihat kondisi ruangan ayahnya yang kacau.


"Pa, apa yang terjadi? Kenapa berantakan sekali?" tanya Karina bingung. Tuan Raymond menatap putrinya tajam. Ia berjalan menghampiri Karina.


"Apa kamu yang telah mencuri dokumen penting milik papa?" tanya tuan Raymond sambil menatap tajam Karina.


Karina gelagapan. Seketika ia merasa gugup. Dokumen itu memang ia ambil dan sekarang sudah ia serahkan ke tangan Zidan. Tetapi, Karina tidak berani mengakuinya. Ia ketakutan saat ini.


"Ma-maksud papa? Karina tidak pernah tahu tentang dokumen itu Pa. Karina tidak tahu apapun," elak Karina. Ia tidak ingin disalahkan atas hilangnya dokumen tersebut.


"Kau yakin? Untuk apa kau ke ruangan papa kemarin lusa Karina?" tanya tuan Raymond lagi.

__ADS_1


"Bagaimana ini. Jika aku mengaku pasti papa akan membunuhku," batin Karina takut. Ia tidak tahu harus beralasan apa lagi.


"Jawab papa!" bentak tuan Raymond. Seketika Karina semakin takut.


"A-aku... Aku tidak tahu apapun Pa. Karina tidak tahu dokumen apa yang papa maksud," jawab Karina. Sebisa mungkin ia akan menghindar dari ayahnya.


"Apa Anda mencari dokumen ini tuan?" ucap Zidan yang secara tiba-tiba masuk ke ruangan mereka. Membuat Karina dan tuan Raymond terkejut.


"Bagaimana bisa dokumen itu ada padamu?" tanya tuan Raymond. Ia berusaha merebut dokumen tersebut namun Fanny berhasil menahannya. Zidan tersenyum sinis ke arah tuan Raymond.


"Oh, jadi putri Anda belum cerita? Saya mendapatkannya dari putri Anda sendiri," ucap Zidan santai.


"Bohong! Karina tidak tahu apapun. Jangan membuat lelucon seperti ini Zidan!" tegas Karina. Ia terlihat panik. Zidan tersenyum tipis.


Tuan Raymond menatap tajam Karina. Ia tak percaya, putri yang sangat ia percaya akan menghancurkan bisnis yang ia kelola selama ini. Bisnis yang sudah menghidupinya dan keluarganya.


"Nikmatilah kehancuranmu tuan Raymond. Saya terpaksa melakukan ini karena putri Anda yang memaksa saya melakukannya. Dia telah berani mengusikku dan kekasihku," ucap Zidan dingin.


"Tidak! Zidan, jangan lakukan ini. Kamu sudah janji tidak akan melakukan apapun padaku. Jangan hancurkan bisnis kami," pinta Karina. Ia memohon kepada Zidan agar melepaskan dirinya dan keluarganya.


Zidan beralih menatap Fanny.


"Fan, selesaikan sisanya. Buat mereka menderita dan akuisisi bisnisnya!" perintah Zidan. Ia menyerahkan tanggung jawab ini kepada Fanny. Zidan berjalan pergi meninggalkan mereka.


"Dasar anak tidak tahu diuntung!"


Plaakk


Tuan Raymond menampar Karina. Ia begitu emosi dan tidak dapat mengendalikannya lagi. Bisnisnya lenyap begitu saja dan itu karena kecerobohan putrinya sendiri.


Karina tersungkur ke lantai. Ia memegangi pipinya yang habis ditampar ayahnya. Karina menangis tersedu.


"Maafkan Karina Pa. Karina tidak tahu jika akan berakhir seperti ini," ucap Karina agar ayahnya memaafkannya.

__ADS_1


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi! Kamu bukanlah putriku lagi!" bentak tuan Raymond.


Sementara di tempat lain, Zidan termenung di apartemennya. Ia mengunci apartemen dan kamarnya. Ia hanya ingin menyendiri. Sebuah kesalahan besar telah ia lakukan. Meskipun ini hanyalah rencananya, tetapi ini sudah menyakiti Zara terlalu dalam.


Zidan berbaring di ranjangnya. Ia bahkan tidak tahu, apakah Zara akan memaafkannya atau tidak. Kata-katanya begitu menyakiti Zara. Tetapi ini bukan hanya Zara yang tersakiti begitu juga Zidan.


Zidan menangis. Ia merasa hancur seperti apa yang dirasakan Zara saat ini. Zidan tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Wanita yang begitu ia cintai kini tersakiti karena ulahnya.


"Maafkan aku Zara. Maafkan aku," ucap Zidan. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


Drrtt... Drrtt... Drrtt...


Ponsel Zidan berdering. Ia segera mengambilnya. Berharap jika Zara yang menghubunginya. Namun nyatanya panggilan telepon dari Fanny. Dengan malas ia mengangkat telepon tersebut.


"Ya?" balas Zidan.


"Saya sudah menyelesaikan semuanya tuan muda. Anda sekarang di mana?" tanya Fanny.


"Baguslah. Jangan menggangguku Fan. Kamu boleh pulang sekarang. Aku baik-baik saja," jawab Zidan. Ia mematikan sambungan teleponnya.


"Aku harusnya lebih bisa mempertahankan dia. Bagaimana jika setelah ini Zara tidak memaafkanku? Bagaimana jika Zara justru semakin dekat dengan Raffa? Aaarrghh... Bodoh Zidan!! Kenapa kamu begitu bodoh!" batin Zidan. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.


Begitu juga Zara yang hanya memandang langit-langit kamar kostnya dengan tatapan kosong. Hubungannya dengan Zidan berantakan. Zara mengambil ponselnya dan membuka galeri fotonya. Ia memperhatikan beberapa fotonya dengan Zidan saat di panti asuhan. Zara menangis meluapkan kesedihannya.


Tring


Satu pesan masuk ke ponselnya. Pesan dari Raffa. Zara membukanya untuk melihat isi pesan tersebut.


'Kakak iparku tersayang. Besok harus datang di acara pertunangan abangku ya. Kak Zara harus datang tepat waktu, oke. Awas saja jika kak Zara tidak datang. Aku akan marah besar. Dari Alisya.' Isi pesan tersebut.


"Eh, sejak kapan aku jadi kakak iparnya?" batin Zara. Ia tersenyum tipis membaca isi pesan tersebut.


'Oke. Kalau tidak ada urusan, kak Zara akan datang. Salam buat tante dan orang yang di rumah.' balas Zara.

__ADS_1


Kesedihannya teralihkan oleh pesan singkat dari Alisya. Membaca pesan tersebut membuat suasana hatinya sedikit membaik.


__ADS_2