Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 21 (season 2)


__ADS_3

Barra sudah bersiap untuk pergi bekerja. Meskipun ia tidak bekerja di kantor seperti kakaknya, ia tetap senang menggeluti pekerjaan yang saat ini ia jalani. Menjadi pengacara memang tak mudah untuknya. Meskipun saat ini ia masih menjadi pengacara magang.


Untuk menjadi pengacara, ia harus menempuh magang kurang lebih selama dua tahun. Ia hanya mendampingi pengacara pembimbingnya dalam menangani kasus. Barra belum bisa menangani setiap kasus sendirian. Meskipun prosesnya sedikit rumit baginya, Barra tetap berusaha keras.


Apalagi ia dan Kayla satu kantor magang. Setiap hari bertemu pujaan hatinya, menambah semangat baginya. Kayla juga sama seperti dirinya. Mereka akan merintis pekerjaan mereka dari bawah tanpa mengandalkan kekuasaan orang tua masing-masing.


Pagi ini, ia ada janji bertemu dengan klien pengacara pendampingnya. Tentunya juga ia tidak sendirian. Ia ditemani pembimbingnya dalam hal ini.


"Mom, maaf Barra buru-buru tidak bisa sarapan bareng," ucap Barra pamit kepada Alina. Ia mencium tangan dan pipi Alina sekilas.


Alina tahu jika Barra sedang terburu-buru, pasti ada hal penting menyangkut pekerjaannya.


"Hati-hati sayang," ujar Alina. Barra tersenyum tipis. Ia beralih ke Arvin yang sedang membaca koran di ruang tengah. Ia berpamitan pada ayahnya.


Barra mulai menjalankan mobilnya. Ia terlebih dulu menjemput Kayla. Setiap hari ia lakukan. Karena mereka satu kantor.


Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di depan gerbang rumah Kayla. Ia menunggu Kayla di dalam mobil. Tak lama, setelah mendengar klakson dari Barra, Kayla keluar rumahnya. Kayla sedikit berlari menuju mobil.


"Pagi sayang," ucap Kayla. Ia baru saja duduk di kursi samping Barra.


"Pagi juga," jawab Barra. Mereka tersenyum lebar. Barra segera menjalankan mobilnya menuju kantor.


"Pasti belum sarapan kan? Nih, aku bawakan. Nanti dimakan ya," ucap Kayla sambil mengeluarkan kotak makan. Ia menaruhnya di depan.


"Terima kasih ya. Tapi lebih enak lagi kalau disuapi sama kamu," ujar Barra sambil melirik Kayla sekilas.


"Ih, apaan sih kamu. Nyetir saja yang benar," jawab Kayla. Ia sedikit malu jika Barra menggodanya seperti itu.


"Aku nggak akan makan bekal itu kalau bukan kamu yang nyuapi," ucap Barra. Kayla menyerah, ia mengambil kotak makannya lalu membukanya. Kayla mulai menyuapi Barra.

__ADS_1


Mereka sampai di parkiran kantor. Barra berjalan membukakan pintu untuk Kayla. Meski terlihat sedikit berlebihan tetapi Barra senang melakukannya.


"Terima kasih sayang," ucap Kayla. Barra benar-benar memanjakannya.


"Cium dulu," ucap Barra. Ia sedikit memajukan wajahnya.


"Jangan aneh-aneh," ucap Kayla dan melirik sekitarnya.


"Makanya cepat sayang. Nanti keburu ada yang lihat," ucap Barra kembali.


Kayla memutar bola matanya malas. Ini di depan umum, siapa saja bisa melihatnya nanti. Kenapa Barra selalu tidak berhati-hati, pikirnya. Kayla menatap Barra sejenak. Lalu beralih lagi menatap lingkungan sekitarnya.


Cup


Kayla mencium pipi Barra sekilas. Pipinya merona. Ia segera mendorong Barra dan melangkah mendahului Barra. Meskipun hanya beberapa detik, itu sudah membuat Barra bahagia. Barra segera menyusul Kayla.


"Nanti makan siang bareng ya. Nanti aku kabari lagi," ucap Barra dan ia mengedipkan sebelah matanya. Barra izin untuk masuk duluan karena sudah ditunggu pembimbingnya menemui kliennya pagi ini. Kayla hanya tersenyum tipis sambil matanya menatap Barra hingga menghilang dari pandangannya.


Kisah mereka juga tidak seromantis orang-orang yang menjalin cinta pada umumnya. Berawal dari sebuah candaan dan kini berakhir menjadi cinta sungguhan.


Memang unik Tuhan mempertemukan dua insan untuk saling jatuh cinta. Bagaimanapun pertemuan awal mereka, kini cinta dan kepercayaan yang mereka miliki akan tetap mereka jaga hingga sampai ke pelaminan. Bahkan hingga sampai mereka berumah tangga nantinya.


Waktu berjalan dengan begitu cepat. Sang mentari telah bersinar begitu panasnya. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing.


Barra baru saja selesai dengan satu kliennya. Ia menuju kantor untuk menunggu Kayla. Barra menuju ruangannya dan mengistirahatkan dirinya di sana sejenak. Beberapa saat kemudian, Barra menghubungi Kayla untuk mengajaknya makan siang.


Karena Kayla yang belum selesai dengan tugasnya, Barra memutuskan untuk menghampiri Kayla. Benerapa teman sekantornya sudah mengetahui jika mereka menjalin cinta. Tak heran, Barra lebih leluasa untuk menghampiri Kayla saat jam makan siang begini.


"Belum selesai?" tanya Barra saat sudah sampai di meja Kayla. Kayla menatap Barra sejenak.

__ADS_1


"Sebentar lagi ya. Nanggung ini," jawab Kayla. Ia tersenyum tipis.


Barra mengambil kursi kosong dan duduk di samping Kayla. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Kayla. Meskipun begitu, Kayla tidak merasa terganggu. Ia justru membiarkan Barra bersandar pada dirinya.


"Sayang, aku mau mengenalkanmu pada mommy," ucap Barra tiba-tiba. Kayla menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Barra dengan lekat.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Kayla bingung. Sebenarnya mereka sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Kayla tidak keberatan jika keluarga Barra belum mengenalnya.


"Aku ingin segera menikahimu," bisik Barra yang membuat pipi Kayla merona seketika.


"Tapi bagaimana dengan kakakmu? Bukankah kamu pernah bilang jika kamu akan menikah setelah kakakmu menikah?" tanya Kayla. Ia melanjutkan lagi tugasnya.


"Rencana awal seperti itu, tapi sepertinya aku nggak akan kuat," ucap Barra dan dirinya tertawa kecil. Kayla hanya tersenyum saja.


Hampir 20 menit Barra menunggu Kayla menyelesaikan tugasnya. Akhirnya pekerjaannya kini sudah selesai. Mereka memutuskan untuk makan siang di restoran yang beberapa hari lalu mereka berencana makan di sana tapi belum sempat.


Kayla dan Barra segera menuju restoran tersebut. Letaknya memang agak jauh dari kantornya. Namun mereka sudah izin sebelumnya jika mereka akan terlambat nantinya.


Kayla dan Barra sudah sampai di restoran tersebut. Restoran dengan nuansa perpaduan antara modern dan tradisional. Sangat nyaman dan begitu mewah. Restoran itu begitu ramai pengunjung. Untungnya, Barra sempat memesan tempat untuknya makan siang.


Sampai di dalam restoran, mereka dipandu untuk menuju meja yang sudah Barra pesan tadi. Pelayan itu dengan ramah melayani mereka.


"Bagaimana menurutmu sayang?" tanya Barra setelah hidangan yang mereka pesan tiba di depannya.


"Enak kok," jawab Kayla singkat.


"Bukan makanannya. Tapi pembicaraan kita tadi sayang. Bagaimana menurutmu?" tanya Barra kembali. Kayla tertawa kecil.


"Aku sih oke-oke saja. Asal jangan memaksa jika orang tua kamu nantinya belum menyetujui hubungan kita," jawab Kayla. Barra benar-benar beruntung mendapatkan wanita yang bisa mengerti dirinya dengan baik seperti ini.

__ADS_1


"Aku akan membicarakannya dulu dengan mommy dan papaku ya. Doakan semoga mereka segera menyetujuinya," ucap Barra. Kayla mengangguk. Mereka menikmati makanan yang sudah tersaji di depannya.


"Barra?" ucap seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Barra menoleh dan dirinya terkejut melihat seseorang yang memanggilnya.


__ADS_2