
Seperti biasanya, bangun pagi Zara langsung menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri. Lalu ia menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Meskipun Diana sudah melarangnya, tetap saja Zara bersikeras untuk membantu.
Hari ini ia izin tidak masuk kuliah karena ibunya ingin membawa Zara ke butik langganannya dan mempersiapkan pesta yang diadakan keluarganya. Dua hari tanpa suaminya, rindunya pada Zidan semakin membara. Entah mengapa ayahnya tidak mengizinkan mereka untuk bertemu beberapa hari ke depan. Zara tidak mengerti, apa alasan dibalik semua ini. Padahal, hubungannya sudah disetujui oleh Anton. Lalu apalagi yang membuat Anton tidak ingin mempertemukan putrinya dengan suaminya sendiri? Pikiran Zara berputar-putar namun tak menemukan alasan yang masuk akal.
"Nona, biar bibi saja yang menyelesaikan ini. Kalau tuan lihat, bibi akan dipecat," ucap bi Tia yang berusaha mengambil alih pekerjaan Zara.
"Tidak apa-apa bi. Zara merasa bosan jika tidak melakukan aktivitas apapun," jawab Zara. Bi Tia menghela napasnya. Sama sekali berbeda dengan Syifa, sifat Zara justru membuat orang di sekitarnya merasa kagum. Bi Tia menyerah, ia membiarkan Zara untuk membantunya memasak.
Beberapa saat kemudian, sarapan sudah tersaji di meja makan. Zara bergegas ke kamar orang tuanya untuk membangunkan mereka. Saat Zara akan mengetuk pintunya, ternyata pintu tersebut sudah terbuka. Diana dan Anton keluar kamar mereka dan terkejut dengan kehadiran Zara di depan pintu kamarnya.
"Astaga, kenapa berdiri di sini sayang?" ucap Diana. Zara tersenyum.
"Aku kira mama sama papa belum bangun, jadi Zara berniat membangunkannya," ujar Zara.
"Kamu itu lagi hamil, kenapa naik turun tangga terus?" tanya Anton.
"Tidak apa-apa Pa," jawab Zara.
Mereka menuruni tangga dan berjalan ke ruang makan. Tak lama kemudian, Syifa datang. Ia segera duduk di samping Zara.
"Kenapa belum bersiap?" tanya Diana saat melihat Syifa masih menggunakan baju tidurnya.
"Hari ini Syifa tidak masuk sekolah ya Ma, Syifa kurang enak badan," jawab Syifa.
"Ya sudah, kamu istirahat saja di rumah," balas Diana. Syifa tersenyum dan mengangguk. Mereka mulai sarapannya.
Selesai sarapan, Anton segera pergi ke kantornya. Hari ini ia berniat untuk bertemu dengan Zidan secara pribadi. Anton ingin memastikan jika Zara tidak akan disakiti olehnya. Namun Anton menemui Zidan secara rahasia tanpa ada yang tahu meskipun itu istrinya sendiri. Anton akan memastikannya sendiri dan akan merestui sepenuhnya jika ia merasa yakin Zidan bisa menjaga Zara dengan baik.
__ADS_1
Selesai mengantar Anton sampai di teras rumah, Diana kembali menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada Zara dan Syifa yang sedang duduk bersantai.
"Syifa, apa badanmu sudah baikan? Mau mama panggilkan dokter?" tanya Diana. Ia duduk di samping Syifa dan memeriksa suhu tubuh Syifa.
"Tidak panas kok," guman Diana.
"Mmm.. Ma, tidak perlu panggil dokter. Syifa sudah lebih baik kok. Tadi hanya pusing saja," jawab Syifa sedikit gugup. Sebenarnya ia tidak sakit. Hanya saja Syifa tidak ingin Zara diresmikan sebagai putri mereka.
Diana mengajak Zara ke butik untuk memesan gaun pesta nanti. Meskipun Zara menolaknya tetap saja Diana punya seribu cara untuk membuat Zara setuju. Disopiri oleh Ochie, Zara dan Diana menuju ke butik langganan keluarga Mahindra.
Syifa memastikan bahwa Diana dan Zara pergi dari sana. Syifa mulai menyusun rencananya untuk menggagalkan pesta itu. Syifa tidak ingin bersaing apalagi berbagi. Selamanya, putri dari keluarga Mahindra hanya Syifa seorang, pikirnya.
Syifa menuju ke kamar Zara. Ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membatalkan pesta penyambutan tersebut.
"Tidak, jangan di kamar, pasti akan ada yang curiga nanti," ucap Syifa yang berjalan mondar-mandir di dalam kamar Zara. Ia keluar lagi dan menuju ke dekat tangga. Syifa punya ide dari sana. Ia mengambil minyak dan mengoleskannya pada pegangan tangga itu. Agar tidak ada yang curiga atau mencurigainya.
***
Anton telah sampai di kantor Zidan bersama dengan asistennya. Ia segera menuju ke ruang tunggu khusus yang telah disediakan. Mereka diantar oleh resepsionis yang telah ditunjuk oleh Zidan.
"Silakan tuan tunggu di sini dulu, tuan Zidan sedang ada rapat di ruangan sebelah," ucap resepsionis tersebut. Anton hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam. Ia memperhatikan ruangan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Zidan dan Fanny datang ke ruangan itu. Zidan menyapa Anton dengan hormat. Ia menyuruh asistennya untuk keluar lebih dulu karena mereka ingin membicarakan hal pribadi.
"Apa kabar papa mertua?" sapa Zidan. Anton mengernyitkan dahinya. Ia tersenyum sinis.
"Tidak perlu basa-basi. Aku ke sini hanya ingin memberikan surat ini," ucap Anton. Zidan segera mengambil dan membacanya. Seketika ia menatap Anton dengan tajam.
__ADS_1
"Apa maksud Anda dengan ini semua?" tanya Zidan dingin. Itu adalah surat perceraian yang sudah disiapkan oleh Anton. Di situ juga sudah tertera tanda tangan Zara. Entah kapan ia memintanya pada Zara.
"Masih belum paham? Aku tidak ingin putriku ada hubungannya dengan keluarga Mahardika!" jawab Anton sinis. Zidan mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.
"Tapi saat ini dia sedang mengandung. Anda tega memisahkan kami berdua?" ucap Zidan tidak terima. Anton tertawa keras.
Zidan berdiri dan menuju ke tempat Anton duduk. Ia mencengkram krah baju Anton dan menatapnya dengan tajam.
"Hei, santai saja. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putriku. Apa itu salah?" ucap Anton dengan santai.
"Salah besar bapak Antonio Mahindra yang terhormat! Jika Anda berani melakukannya, maka saya akan melupakan hubungan Anda dengan Zara! Saya tidak akan membiarkan Anda merusak hubungan kami!" ancam Zidan. Justru itu tidak membuat Anton takut. Ia tersenyum senang melihat ekspresi dari Zidan.
Anton melepas cengkraman Zidan pada krah bajunya. Ia berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Zidan. Ia tersenyum tipis sambil menatap Zidan. Zidan menatapnya dengan bingung. Ia terus memperhatikan setiap gerak-gerik Anton.
"Apa kamu sangat mencintainya?" tanya Anton.
"Saya sangat mencintai Zara. Saya rela melakukan apapun demi Zara," ujar Zidan pelan. Lagi-lagi Anton tersenyum tipis.
"Jika kamu rela melakukan apa saja, kenapa masih tidak setuju jika aku menyuruhmu untuk bercerai?" tanya Anton lagi.
"Kau jangan main-main denganku! Aku bisa melakukan apapun, namun tidak akan pernah aku menyetujui perceraian itu!" ucap Zidan dengan lantang.
"Baiklah jika kau tidak mau, aku juga tidak tertarik lagi dengan hubungan kalian. Aku permisi dulu," ucap Anton. Ia berjalan menuju pintu ruangan itu. Namun sebelum keluar, ia berbalik untuk menatap Zidan.
"Ngomong-ngomong, surat itu palsu kok. Mana mungkin Zara akan tanda tangan semudah itu. Aku tidak akan lagi mengganggu hubungan kalian. Bahagiakanlah Zara selamanya," ucap Anton. Lalu ia pergi dari sana dengan asistennya. Satu tugasnya telah selesai. Meskipun awalnya ia menolak, namun kebahagiaan Zara adalah hal yang paling penting.
Zidan masih terdiam di ruangan itu. Ia tak percaya dengan apa yang Anton katakan tadi. Kini, ia sangat bahagia. Tak ada lagi masalah yang mengganggu kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1