
"Pagi sayang," bisik Arvin saat melihat Alina mengerjapkan matanya.
"Mas, kapan pulangnya? Kok aku nggak tahu," ujar Alina sedikit terkejut.
Arvin masih memeluk Alina dengan erat. Ia membenamkan wajahnya ke leher Alina.
"Tadi malam. Aku nggak tega untuk membangunkanmu sayang," jawab Arvin.
Alina berbalik dan menatap suaminya. Ia tersenyum tipis dan mencium sekilas bibir suaminya. Tangannya mengusap lembut pipi suaminya itu.
"Ada apa? Aku tahu aku tampan," ujar Arvin terkekeh. Alina tertawa kecil. Suaminya dari dulu memang begitu narsis. Alina memutar bola matanya malas. Bagaimanapun ia tidak ingin mengakuinya.
"Mulai deh kepedeannya," jawab Alina. Arvin tersenyum tipis. Ia meraih tangan Alina dan menciumnya. Meskipun kini tak muda lagi, baginya Alina wanita tercantik dimatanya.
"Bagaimana kalau kita berolahraga pagi dulu," ujar Arvin sambil menaik turunkan alisnya. Alina mengernyitkan dahinya. Menatap tajam suaminya.
"Nggak! Aku harus masak untuk sarapan pagi ini," ucap Alina. Ia beralih duduk dan ingin bergegas menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat Arvin menarik tangannya sehingga ia kembali terjatuh di kasurnya. Arvin memeluknya dengan erat seakan tidak mau melepasnya.
"Hari ini nggak usah masak dulu. Aku sudah pesan makanan tadi," bisik Arvin. Ia membelai lembut rambut Alina. Alina menghela napasnya pelan. Seberapapun ia berusaha menghindar, suaminya tidak akan melepasnya semudah itu.
"Aku kangen sama kamu," ucap Arvin di dekat telinga Alina. Alina tersenyum tipis. Pipinya tetap saja merona. Berapa kalipun Arvin mengucapkan kata itu, jantungnya juga berdebar lebih kencang dari biasanya.
Arvin meraih tengkuk Alina. Ia perlahan mendekatkan wajahnya. Mengecup bibir yang selalu membuatnya candu. Menyesapnya dan merasakan betapa nikmatnya memadu kasih dengan istrinya.
Di luar, Alisya baru selesai mandi dan kini sudah bersiap untuk ke sekolahnya. Ia menuju meja makan namun tidak ada Alina di sana. Setiap pagi ia selalu melihat Alina bergulat di dapur tapi tidak untuk pagi ini. Ia meraih gelas dan menuangkan air putih.
"Mommy mana dek?" tanya Barra yang baru saja keluar kamar. Alisya hanya mengangkat bahunya. Ia juga sama tidak tahunya. Barra menghela napasnya pelan. Ia menarik kursi dan duduk.
__ADS_1
"Maaf nona, ini makanan yang tuan pesan tadi," ujar pak Kariman. Barra dan Alisya menoleh bersamaan.
"Oh, terima kasih pak," ujar Alisya. Ia mengambilnya dari pak Kariman. Pak Kariman mengangguk dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Tumben papa delivery," ujar Alisya bingung.
Ia membukanya dan menggantinya di piring. Mereka berdua mulai sarapan. Raffa keluar dan duduk begitu saja di samping Alisya. Ia mengacak rambut adiknya itu dengan gemas.
"Bang Raffa apa-apaan sih. Sudah rapi juga diberantakin," ucap Alisya kesal sambil membenahi rambutnya yang berantakan. Sedangkan Raffa hanya tersenyum tipis. Ia mengambil makanan Alisya dan memakannya begitu saja.
"Ih, ambil sendiri. Ini punya Alisya. Mommy... Bang Raffa nakal," ujar Alisya sambil merebut piringnya kembali. Sedangkan Barra hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua adiknya itu.
"Abang berangkat dulu ya. Nanti sampaikan pada mommy. Belajar yang rajin. Jangan nakal," ucap Barra. Ia menepuk bahu kedua adiknya itu.
"Hati-hati..." ucap Alisya dan Raffa bersamaan. Raffa dan Alisya saling bertukar pandang dan kemudian saling membuang muka. Mereka melanjutkan sarapannya kembali. Setelah selesai, Alisya berangkat ke sekolah dan Raffa berangkat ke kampus.
Pukul 07.15 Alina dan Arvin baru keluar kamarnya. Rumahnya sudah sepi tak ada suara gaduh dari ketiga anaknya. Itu menandakan jika anak-anaknya sudah berangkat kerja dan sekolah.
Saat ini hanya Zidan yang membantunya mengelola perusahaan. Kalau Raffa masih butuh beberapa tahun lagi untuk mempercayakan perusahaannya kepadanya. Sedangkan Alisya ia bahkan belum lulus SMA saat ini.
Arvin juga sadar, semakin menua dirinya juga tidak bisa sehebat dulu waktu ia masih muda. Segala pekerjaannya juga telah menyita banyak waktunya sehingga sangat jarang memiliki waktu berdua seharian dengan istrinya.
***
Raffa sedikit terburu-buru memasuki kelasnya. Sebentar lagi ia telat jika tidak sedikit berlari. Raffa paling benci dengan namanya telat. Namun hari ini dirinya hampir saja telat masuk kuliah.
Jam pagi memang menyiksanya. Apalagi rumahnya yang lumayan jauh dari kampus, ditambah lagi jalanan Jakarta yang ramai sekali.
__ADS_1
Brakk
Raffa sedikit mendorong pintunya dengan keras. Napasnya terengah. Keringatnya bercucuran. Meskipun demikian, tak mengurangi ketampanannya dimata para wanita-wanita yang selalu mengejarnya.
"Pagi Raffa..." sapa salah satu teman wanita sekelasnya. Raffa hanya acuh. Ia tidak memedulikannya.
"Bolehkan hari ini aku duduk di sampingmu?" ucap Rinda. Ia bergelayut manja di samping Raffa.
"Maaf, silakan cari tempat duduk yang lain," ucap Raffa dengan tenang.
Kelaspun dimulai. Dosen mulai membuka pembelajaran pagi ini. Mempresensi kehadiran mahasiswanya.
"Maaf bu, saya terlambat," ucap Zara yang baru saja datang. Dosen itu menatap ke arah Zara sekilas. Kemudian menyuruh Zara untuk segera duduk. Zara mengangguk. Tempat duduknya sudah penuh. Hanya tersisa satu di samping Raffa. Dengan gugup ia berjalan menuju kursi tersebut. Ia mulai duduk di samping Raffa. Zara tersenyum canggung saat Raffa menatapnya sekilas. Ia mulai membuka bukunya dan fokus pada pembelajaran hari ini.
"Baiklah sampai di sini materi kita hari ini. Apakah ada yang ingin ditanyakan sebelum ibu mengakhiri kelas pagi ini," ujar dosen tersebut.
"Tidak bu," ucap mereka bersamaan.
Kelas pagi selesai. Masih ada jeda waktu beberapa jam untuk mata kuliah selanjutnya. Biasanya waktu luang tersebut ia gunakan untuk mengerjakan tugasnya atau mencari buku referensi di perpustakaan. Jika tidak ada tugas, ia mulai menjajakan minuman dingin di sekitar kampusnya. Zara sama sekali tak malu. Meskipun sering diejek sama teman sekelasnya.
Raffa yang tak begitu suka dengan keramaian selalu menuju perpustakaan untuk sekedar membaca buku atau mendengarkan musik lewat headphonenya. Atau terkadang juga ikut nongkrong sama teman-temannya.
Kali ini, Zara ingin mencari buku referensi untuk tugas mata kuliah kemarin lusa. Ia nampak sibuk dengan beberapa buku yang ada di genggamannya dan membaca sekilas tentang isinya.
"Ah, kenapa tinggi sekali sih," gerutu Zara sambil berjinjit untuk meraih buku yang ia inginkan. Namun tubuh mungilnya itu tak bisa menggapainya.
Raffa yang tak sengaja melihat Zara sedang kesulitan mencoba untuk membantunya. Ia hanya tidak ingin rak buku itu roboh dan bukunya terjatuh.
__ADS_1
"Eh," ujar Zara kaget melihat tangan kekar tepat berada di belakang tangannya dan mengambil buku tersebut. Raffa melemparnya ke arah Zara begitu saja dan pergi dari sana tanpa basa-basi.
"Terima kasih," ucap Zara namun Raffa tidak menghiraukannya. Zara memanyunkan bibirnya. Ia segera mengambil tempat untuk membaca buku-buku yang telah ia ambil tadi.