Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 71 (season 2)


__ADS_3

Pagi harinya, Kayla terbangun saat merasakan tangan kekar yang melingkari perutnya. Dengan mata yang masih terpejam, ia meraba tangan tersebut. Kayla mengerutkan dahinya untuk menerka tangan siapa yang melingkari perutnya tersebut. Ia lupa bahwa Barra yang kini tidur di sampingnya. Kayla perlahan membuka matanya dan melihat ke arah tangan kekar tersebut. Kayla langsung teringat dengan kejadian semalam bersama dengan suaminya. Ia sedikit mendongak untuk melirik Barra yang berada di belakangnya. Barra masih nyaman tertidur dalam posisinya.


Kayla tak bisa bergerak. Ia memilih untuk berdiam diri sebentar, lalu nanti membangunkan suaminya. Untung saja saat ini mereka berada di hotel. Jika tidak, entah apa yang akan dipikirkan mertuanya saat mendapati sang menantu barunya bermalas-malasan. Kayla mengusap lembut tangan Barra. Ia terlalu nyaman dalam posisi itu. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Kasur yang berantakan dan pakaian yang berserakan di lantai. Kayla tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut.


Setengah jam kemudian, Kayla mencoba membangunkan Barra. Ini sudah pukul 07.00. Perutnya sudah demo minta untuk diisi makanan. Kayla beralih dan kini mereka saling berhadapan. Tangan Kayla mengusap pipi Barra dengan lembut.


"Sayang, bangun yuk," ucap Kayla lembut. Barra hanya menggeliat saja. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Kayla. Kayla menghela napasnya pelan. Ia memainkan rambut suaminya sambil menunggu suaminya terbangun dengan sendirinya.


Cup


Cup


Barra mengecup leher Kayla. Ia perlahan membuka matanya dan kini mereka saling memandang. Barra menatap Kayla cukup lama.


"Pagi sayang," ucap Barra. Kayla tersenyum manis. Ia beralih untuk duduk dan bersandar di ranjang. Begitu juga dengan Barra.


Barra menyandarkan kepalanya di bahu Kayla. Ia ingin bermalas-malasan hari ini. Mereka sudah izin tidak masuk kerja selama satu minggu. Sebelum memulai aktivitas seperti biasanya, mereka ingin meluangkan banyak waktu untuk mereka berdua. Barra menggenggam tangan Kayla dan mengecupnya sekilas. Lalu ia beralih mengecup pipi Kayla sekilas.


"Aku lapar," ujar Kayla sambil berbisik. Barra menatap Kayla dan tersenyum tipis.


"Mau makan di sini atau di luar?" tanya Barra.


"Keluar aja ya sambil jalan-jalan," balas Kayla. Ia menampilkan senyum seimut mungkin. Barra mengecup bibir Kayla sekilas. Ia menggendong Kayla menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Eh, aku bisa jalan sendiri Barra... Turunin aku..." ujar Kayla. Namun Barra tetap menggendong Kayla menuju kamar mandi.


Lain Barra, lain juga dengan Zidan. Semalam Zara meminta Zidan membelikan sesuatu di tengah malam. Selang beberapa jam lagi, Zara meminta lagi ingin dibelikan sesuatu yang lain. Bukannya Zidan tidak ingin menuruti, namun Zara memintanya pukul 03.00 dini hari. Sehingga Zidan tidak tidur semalaman demi membujuk Zara. Pukul 05.00 Zidan baru bisa memejamkan matanya karena Zara yang terus menangis. Keputusannya untuk tinggal di hotel sedikit ia sesali.


Zara terbangun karena ia merasa lapar. Ia menggoyangkan tubuh Zidan yang masih terpejam.


"Sayang, aku lapar," rengek Zara. Namun Zidan masih terlelap dalam tidurnya.


"Sayang... Aku lapaaaarr," ucap Zara kembali. Zidan menggeliat. Ia membuka matanya dan menatap Zara.


"Kamu panggil pelayan ke sini saja ya. Atau panggil Fanny, aku masih ngantuk Zara," ucap Zidan agar Zara mau mengerti jika dirinya benar-benar masih mengantuk. Zara terlihat sedih. Entah kenapa suasana hatinya cepat sekali berubah-ubah.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Mendengar suara tangis Zara, Zidan mengalah. Ia langsung bangun dan duduk di samping Zara. Ia mengusap air mata Zara dengan lembut. Mendengar tangisan Zara seketika kantuknya menghilang entah ke mana.


"Maaf sayang. Ya sudah, kamu mau makan apa? Aku mandi dulu ya, setelah ini kita cari makan, oke?" ucap Zidan melemah. Ia tidak kuasa jika melihat Zara menangis. Dadanya ikut sesak setiap kali Zara menangis.


"Ya sudah mandi dulu, aku juga belum mandi," balas Zara. Ia memanyunkan bibirnya. Zidan tertawa kecil melihat tingkah Zara yang seperti anak kecil. Zidan mengusap rambut Zara dengan lembut. Ia merengkuh Zara agar masuk ke pelukannya.


"Seperti inikah pengaruh hormon ibu hamil? Suasana hatinya sering berubah-ubah. Sabar Zidan," batin Zidan menguatkan dirinya sendiri. Zidan menciumi puncak kepala Zara. Zara mendongak menatap Zidan.


"Ayo, katanya mau mandi," rengek Zara kembali. Ia memanyunkan bibirnya sambil menatap Zidan. Zidan langsung menerkam bibir Zara. Ia tidak bisa menahannya untuk tidak mencium Zara. Zara juga membalas ciuman itu. Zidan perlahan membaringkan Zara kembali.

__ADS_1


"Satu kali saja, aku ingin melakukannya sekarang sayang. Maaf," bisik Zidan dan langsung menciumi Zara. Zara terpaksa menunda sarapannya dan melayani Zidan pagi ini.


***


Seperti biasa, Alina sedang menyiapkan sarapan pagi. Rumahnya terasa sepi, tidak ada lagi celotehan keempat anaknya di pagi hari. Tidak ada Zara yang sering membantunya menyiapkan sarapan. Alina juga memaklumi hal itu. Ia juga pernah muda dan merasakan masa-masa itu.


Tak seperti biasanya, Arvin sudah bangun dan kini menuju ke dapur. Melihat sekitarnya yang sepi, Arvin tersenyum lebar dan segera menghampiri Alina. Ia mendekap Alina dari belakang dan mencium tengkuk Alina sekilas.


"Mas, kebiasaan deh kamu," gerutu Alina. Ia mencoba melepas pelukan Arvin namun tidak bisa. Arvin tersenyum tipis.


"Biarin, ini juga lagi sepi. Kalau ada anak-anak mana berani," balas Arvin santai. Alina menghela napasnya sejenak. Ia menghentikan masaknya. Alina beralih menghadap Arvin.


"Mau apa sih? Suka banget ganggu istrinya yang lagi masak," ucap Alina sedikit kesal. Ia menatap Arvin.


"Suka saja ganggu kamu masak seperti ini. Romantis tahu," ujar Arvin. Ia menyelipkan anak rambut Alina ke belakang telinga Alina. Alina masih terdiam di tempatnya. Sedangkan Arvin sudah membela-belai rambut Alina. Ia memperhatikan Alina sambil tersenyum tipis.


"Pagi mommy, papa," ucap Alisya yang sudah duduk di kursinya. Ia mengambil gelas dan menuangkan air minumnya. Arvin dan Alina langsung menoleh ke arah Alisya. Lalu mereka saling bertukar pandang dan terlihat canggung. Arvin menghampiri Alisya dan duduk di depannya.


"Sejak kapan duduk di sini?" tanya Arvin santai.


"Dari tadi, papa sama mommy asik berduaan sih," ucap Alisya. Alina melanjutkan kembali memasaknya yang sempat tertunda. Tak lama setelah itu, Raffa juga ikut bergabung dengan mereka. Beberapa saat kemudian, sarapan sudah tersaji di meja makan. Mereka mulai makan dengan tenang.


Selesai sarapan, Raffa pamit untuk bekerja, sedangkan Alisya pamit untuk sekolah. Alisya berangkat bersama dengan Raffa. Karena pak Kariman yang sedang tidak enak badan. Setelah mengantar Alisya sampai di sekolah, Raffa segera menuju restoran untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum kembali pada rutinitas kuliahnya.

__ADS_1


"Sayang, hanya tinggal kita berdua di rumah. Bagaimana kalau kita lakukan sesuatu?" ucap Arvin menyeringai saat Alina baru selesai mencuci piring. Alina mengernyitkan dahinya. Arvin langsung menggendong Alina menuju kamar mereka.


__ADS_2