Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 70 (season 2)


__ADS_3

Pukul 13.00, Barra dan Kayla sudah bersiap untuk acara resepsi mereka. Meskipun penampilan mereka kali ini sederhana dari acara pernikahan tadi, tetapi Kayla tetap terlihat anggun.


Semua sudah berkumpul di aula. Acara ini dipandu oleh MC selaku pembawa acara pada siang hari ini. Tamu undangan berhamburan saling memberikan selamat kepada kedua mempelai. Hari ini semua orang bahagia.


Kayla mulai merasa pegal karena berdiri terus untuk menyambut para tamu. Namun ia harus bertahan demi kelancaran acara ini. Acara terus berlanjut hingga pukul 17.00.


Kini Barra dan Kayla duduk di kursi pelaminan. Tamu undangan berangsur pulang setelah acara selesai. Namun tetap saja, masih ada beberapa temannya yang datang dan memberikan ucapan selamat.


"Kay, selamat atas pernikahanmu. Aku mendoakan semoga kalian bahagia selalu," ujar salah satu teman kampus mereka. Kayla langsung berdiri kala mengetahui siapa yang berdiri di depannya dengan menampilkan senyuman manis itu.


"Andika," ujar Kayla. Barra menatap Andika tidak suka. Bagaimana tidak, Andika adalah mantan Kayla yang cukup lama menjalin hubungan dengan Kayla. Mereka pacaran dari semester dua dan putus saat mereka semester enam. Setelah putus dari Andika, Kayla tidak lagi berpacaran hingga ia bertemu dengan Barra dan memutuskan untuk menikah.


Andika tersenyum. Ia mengulurkan tangannya untuk memberikan ucapan selamat kepada Kayla.


Andika beralih tempat di depan Barra. Ia menepuk bahu Barra dan memeluknya. Meskipun Andika adalah mantan Kayla, ia tetap hadir dan turut mendoakan pernikahan mereka berdua.


"Barra selamat ya," ujar Andika. Barra hanya mengangguk tipis. Setelah itu, Andika pamit untuk segera undur diri. Ia tidak bisa lama-lama di acara ini. Kayla dan Barra duduk kembali.


"Kenapa kamu undang dia sih?" ucap Barra tidak suka. Kayla menatap Barra dan tersenyum tipis.


"Nggak apa-apa juga kan? Lagipula aku sama dia sudah tidak pernah berhubungan lagi," balas Kayla.


"Ya tapi aku tidak suka," ucap Barra jutek.


"Orangnya juga sudah pergi, ngapain marah? Kamu lihat sendirikan tadi dia hanya mengucapkan selamat pada kita?" jawab Kayla. Ia menatap Barra dan menggenggam tangan Barra dengan lembut. Barra melirik Kayla. Ia mengecup punggung tangan Kayla. Mereka tersenyum tipis.

__ADS_1


Acara demi acara telah mereka lewati. Akhirnya selesai juga. Barra dan Kayla langsung pamit untuk ke kamar karena merasa sangat lelah.


Sampainya di dalam kamar, Barra langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Ia benar-benar lelah hari ini. Tetapi, disisi lain ia juga merasa bahagia. Kayla sudah resmi menjadi istrinya.


Kayla langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian sekaligus membersihkan diri. Setelah selesai, ia keluar dan membangunkan Barra yang sempat tertidur.


"Sayang, mandi dulu yuk," ucap Kayla pelan. Barra mengerjap dan membuka matanya. Ia tersenyum sambil menatap Kayla. Tangannya menyentuh pipi Kayla dan membelainya dengan pelan. Barra bangkit dan langsung menyambar bibir Kayla dengan rakus. Ia merebahkan Kayla di atas kasur dan langsung menindihnya. Barra melepas ciumannya dan menatap Kayla dengan lekat.


"Kamu mandilah dulu," ucap Kayla. Barra lagi-lagi tersenyum. Ia mengecup leher Kayla dan meninggalkan jejak merah di sana. Setelah itu ia bangkit dan langsung menuju kamar mandi.


Sedangkan di sisi lain, Zidan dan Zara sedang menikmati suasana sore hari dari balkon kamar mereka. Zara berdiri di dekat pagar sedangkan Zidan berada di belakangnya. Sangat jarang mereka menikmati suasana yang begitu tenang dan sejuk. Angin sore yang menerpa mereka kala itu membuat mereka nyaman untuk berlama-lama di sana.


"Mau tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan?" tanya Zidan. Zara menatap Zidan dengan bingung.


"Biar kita punya banyak waktu untuk bersama. Kalau di rumah pasti ada saja yang mengganggu kita. Terlebih lagi kamu pasti tidak nyaman juga berada di kamar berlama-lama," ucap Zidan. Setelah menikahpun mereka tidak punya waktu untuk bulan madu. Karena keadaan Zara yang sudah mengandung dan khawatir jika bepergian jauh.


"Memangnya boleh? Bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Zara memastikan. Zidan membalikkan tubuh Zara. Kini mereka saling berhadapan.


"Gampang, nanti aku akan menyuruh Fanny untuk menghandle semua pekerjaan," balas Zidan. Ia menaik turunkan alisnya.


"Aku lebih ingin berkunjung ke panti dan tinggal di sana untuk beberapa hari. Tapi kalau kamu setuju dan tidak keberatan untuk itu," balas Zara pelan. Sudah lama semenjak ia hamil sama sekali tidak berkunjung ke pantinya. Kini tiba-tiba ia merindukan suasana panti tersebut.


"Baiklah, tapi kita tinggal di sini dua atau tiga hari ya. Setelah itu kita ke panti," ujar Zidan. Zara mengangguk senang. Ia memeluk Zidan. Karena langit sudah mulai gelap, Zidan dan Zara memutuskan untuk kembali ke kamar.


Pukul 19.00, mereka semua makan malam bersama. Semua sudah dipersiapkan oleh pelayan hotel. Baik makanan maupun tempat untuk mereka.

__ADS_1


Kini mereka sudah duduk mengelilingi meja makan. Setelah memastikan anggota keluarganya lengkap, mereka mulai menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Begitu juga dengan orang tua Kayla yang ikut bergabung dalam makan malam itu.


"Barra, mungkin setelah ini mommy sama papa akan langsung pulang. Jika kalian masih ingin di sini dulu tidak apa-apa," ucap Arvin. Ia melirik Barra dan Kayla kemudian beralih memandang Alina. Barra mengangguk pelan.


"Pa, Zidan sama Zara juga akan menginap di sini dulu. Mungkin untuk dua atau tiga hari ke depan," ucap Zidan.


"Terserah kalian saja. Tapi Raffa dan Alisya harus pulang sama papa ya. Takutnya nanti ganggu yang ingin bulan madu," ucap Arvin. Alina menatap Arvin dengan lekat. Mereka menahan tawanya.


"Ehem, baiklah kita lanjutkan makannya," ucap Arvin. Mereka kembali menikmati makanannya.


Selesai makan bersama, mereka mengobrol santai. Alina dan Arvin bersyukur kini satu persatu anak-anaknya sudah berumah tangga. Melihat mereka tumbuh dewasa rasanya menjadi kebahagiaan mereka tersendiri.


Waktu semakin larut. Arvin, Alina, Raffa, dan Alisya pamit untuk pulang. Karena Alisya yang harus sekolah dan Arvin juga harus bekerja. Kini tinggalah dua pasangan kakak beradik yang masih tinggal di hotel tersebut dan juga orang tua Kayla. Tak lama setelah itu, orang tua Kayla pamit untuk pulang juga.


"Bang, kami ke kamar duluan ya," pamit Barra. Ia menepuk bahu Zidan. Mereka berlalu meninggalkan Zara dan Zidan yang masih terduduk di kursi mereka.


"Sayang, kita jalan-jalan sebentar yuk," ucap Zara. Zidan mengangguk dan mengajak Zara jalan-jalan.


Sampai di kamar, Barra dan Kayla terduduk dengan canggung. Jika tadi mereka masih bisa bercanda dan mengobrol santai, saat ini suasananya berbeda. Mereka merasa lebih gugup daripada menghadapi ujian skripsi waktu itu. Barra dan Kayla sama-sama malu-malu.


"Sayang," ucap Barra. Ia lebih mendekatkan dirinya dan menyentuh pipi Kayla dengan lembut. Kayla tersenyum manis. Ia sudah mempersiapkan diri untuk malam pertama mereka.


Barra perlahan memajukan wajahnya. Ia mencium bibir Kayla dengan lembut. Menyalurkan segala rasa yang berada dalam hatinya.


"Malam ini, jadilah milikku seutuhnya sayang," bisik Barra setelah melepas ciuman mereka. Jantung Kayla semakin terpacu kencang. Perlahan Barra membaringkan Kayla dengan masih menciumnya. Kini Barra semakin liar, namun Kayla berusaha mengimbangi suaminya. Meskipun ini yang pertama bagi mereka, Kayla tidak ingin mengecewakan Barra. Akhirnya, mereka tenggelam dalam lautan cinta yang begitu dalam. Menyelam dalam keindahan cinta mereka. Hanyut dalam indahnya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2