Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 107 (season 2)


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu. Kini Zara dan Zidan sudah tinggal di panti asuhan. Zidan terlihat lebih tenang. Istrinya kembali ceria seperti biasanya. Zara tak lagi bersedih dan mulai bisa melepas kesedihan itu. Keceriaan anak-anak di panti asuhan itu membawa dampak yang besar bagi Zara.


Meskipun Zidan harus bolak-balik dari panti asuhan ke kantornya yang jaraknya lumayan jauh, itu tak sebanding dengan kesembuhan Zara dari traumanya. Satu bulan sudah mereka tinggal di tempat itu. Dan satu bulan juga Zara mengalami perubahan yang signifikan. Setiap kali check up ke dokter, keadaan Zara berangsur membaik.


Pagi ini, Zara dan Zidan masih tertidur pulas di kamar mereka. Dengan posisi Zara membelakangi Zidan dan Zidan memeluknya dari belakang. Suara gaduh dari luar mulai membangunkan mereka. Namun Zara masih betah berada dalam ranjangnya.


Zidan mulai membuka matanya. Namun ia tak segera bangun padahal hari ini ia ada meeting penting dengan kliennya. Zidan tersenyum tipis sambil memandangi Zara dari belakang. Ia mengecup rambut Zara sekilas dan memeluknya kembali.


Zara perlahan membuka matanya. Ia berpindah posisi menghadap Zidan. Lalu ia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan suaminya. Zidan tersenyum tipis lalu mengecup puncak kepala Zara dengan singkat.


"Sayang, bangun..." ucap Zidan dengan lembut.


"Lima menit lagi," jawab Zara. Zidan menghela napasnya sejenak. Ia memberikan waktu untuk Zara lima menit lagi.


Lima menit sudah berlalu, namun Zara masih betah dalam posisinya. Zidan menepuk pelan lengan Zara agar Zara segera bangun.


"Katanya hanya lima menit? Ini sudah lebih sayang," ucap Zidan lagi. Namun Zara semakin mengeratkan pelukannya. Zidan tertawa kecil melihat tingkah Zara yang manja seperti ini.


Zara mendongak untuk menatap Zidan. Zidan langsung mencium kening dan hidung Zara. Ia tersenyum tipis sambil membelai rambut Zara.


"Zidan, kapan kita bisa program hamil kembali... Aku ingin segera memiliki bayi lagi," ujar Zara. Zidan mengernyitkan dahinya. Ia terkejut dengan apa yang Zara ucapkan.

__ADS_1


"Kita sabar dulu ya... Kata dokter kita bisa program lagi sekitar dua atau tiga bulan lagi," jawab Zidan dengan lembut sambil memainkan rambut Zara.


"Apa tidak bisa dipercepat lagi?" tanya Zara. Ia memanyunkan bibirnya. Zidan mendekatkan wajahnya ke telinga Zara.


"Ini semua demi kebaikan kamu sayang... Jangan terus menggodaku seperti ini. Kalau tidak, itu tidak akan berakhir baik padamu nanti. Sudah sepuluh menit, ayo bangun," bisik Zidan. Zara tersenyum tipis setelah mendengarnya..


Akhirnya Zara melepas pelukannya juga. Zidan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor. Zara menyiapkan baju kerja untuk Zidan. Tak lama kemudian, Zidan sudah selesai mandi dan kini ia tengah bersiap ke kantor dibantu oleh Zara.


"Sayang, hari ini aku sedang terburu-buru. Ada meeting penting dengan klien. Maaf, tidak bisa menemani kamu sarapan," ucap Zidan sambil mengancingkan lengan bajunya lalu memakai jasnya.


"Maaf, pasti gara-gara aku tadi kan kamu jadi terlambat?" ucap Zara merasa bersalah. Zidan hanya tersenyum lalu memakai sepatu kerjanya.


Ia beranjak untuk pamit pada istrinya. Zidan mengambil tas kerjanya dan memeriksanya terlebih dahulu. Lalu ia menghampiri Zara dan mencium keningnya sekilas.


Zidan masuk ke dalam mobilnya. Fanny mulai melajukan mobilnya menuju kantor. Untungnya Fanny sempat menghubungi kliennya untuk menunda meetingnya satu jam ke depan. Jadi, Zidan bisa bernapas lega tanpa kehilangan kliennya itu.


Setelah mobil suaminya menghilang dari pandangannya, Zara segera masuk ke kamarnya kembali. Ia mengambil handuk dan ingin membersihkan dirinya dulu sebelum beraktivitas. Ia tak lagi masuk kuliah. Zara sudah memutuskam untuk tidak melanjutkan lagi kuliahnya. Ia hanya ingin fokus dengan keluarga kecilnya. Bagi Zidan itu bukan masalah besar. Karena Zara bisa lebih memberikan perhatiannya kepadanya.


Selesai bersih diri, Zara menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan bagi anak-anak panti itu. Itulah yang setiap pagi ia lakukan. Namun ia juga hanya sekedar membantu saja. Tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat.


"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya bu Yasmin. Zara mengangguk tipis. Ia mengambil piring dan mengelapnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya bu, selama ini bu Yasmin selalu ada di samping Zara. Saat Zara sedih ataupun bahagia," ucap Zara. Bu Yasmin mengusap lengan Zara dengan lembut. Ia sudah menganggap Zara seperti anak kandungnya sendiri.


Sarapan selesai disajikan. Bu Yasmin memanggil anak-anak untuk segera makan sebelum berangkat ke sekolah. Mereka makan bersama dalam satu meja termasuk Zara dan bu Yasmin. Melihat betapa senangnya anak-anak itu, membuat Zsra jauh lebih baik. Ia seakan bisa melihat jika putrinya berada di antara mereka.


"Sayang, jika kamu masih hidup pasti akan selucu mereka kan? Mama rindu sama kamu nak, apakah kamu juga rindu pada mama papa di sini?" batin Zara sambil memperhatikan anak-anak panti yang sedang makan dengan lahap.


"Semoga aku bisa segera memiliki buah hati lagi," batin Zara dan beralih memandangi perutnya. Ia mengusapnya pelan dan melanjutkan makannya.


***


Usia kandungan Kayla mulai memasuki bulan ketiga. Ia sangat bahagia dan tak sabar untuk menanti kelahiran bayinya. Kayla sangat berhati-hati, apalagi kejadian Zara waktu itu membuatnya takut. Namun Kayla berusaha tetap tenang dan tidak panik. Perkembangan janinnya juga bagus. Ibu dan calon bayi sehat. Kayla tak lagi mengidam yang aneh-aneh. Namun ia lebih sering berkeinginan untuk memasak menu yang akan ia makan nanti.


Meski Barra dan Risti sudah melarang Kayla, justru semakin dilarang Kayla akan semakin sering memasak. Mau tak mau Barra mengizinkan Kayla memasak dengan syarat harus ditemani oleh ibunya. Kayla tak masalah, asal ia diperbolehkan untuk memasak.


Semenjak hamil, Kayla merasa ia lebih ingin dimanja oleh suaminya. Jika sore Barra belum pulang, Kayla akan menangis di kamarnya dan akan berhenti saat Barra tiba di rumahnya.


"Ma, mama duduk saja di situ," ucap Kayla. Ia sibuk memasak makanan kesukaannya. Risti berdiri tak jauh dari putrinya. Ia terus memperhatikan Kayla.


"Mama bantu ya sayang, kamu kan lagi hamil muda," ucap Risti tak tega melihat Kayla sibuk memasak. Kayla tersenyum tipis lalu ia melanjutkan kembali memasaknya.


"Aku hanya memasak makanan yang ringan saja Ma," jawab Kayla. Risti hanya menghela napasnya sejenak lalu beralih duduk di ruang makan.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia sudah selesai memasak. Kayla membawa makanan tersebut ke meja makam dan mulai memakannya dengan lahap. Risti hanya menggeleng pelan melihat tingkah putrinya itu.


__ADS_2