
Dua bulan kemudian...
Saat ini Alina sedang berada di ruang persalinan. Ia akan segera melahirkan putrinya itu. Setelah semalaman Alina tak bisa tidur akibat kontraksi yang begitu hebat, kini ia kembali berjuang di ruang persalinan.
Arvin dengan setia menemani sang istri. Meskipun Alina sedikit bisa mengatur dirinya sendiri agar lebih tenang, tetap saja eluhan dari Alina tak dapat dihindarkan.
Dokter sedang mempersiapkan keperluan untuk persalinan. Alina harus menunggu beberapa menit sebelum ia benar-benar berjuang melahirkan buah hatinya.
Dokter memberikan arahan kepada Alina. Alina melakukan sesuai intruksi dari dokternya. Sedangkan Arvin terus mengusap kening Alina dengan lembut sambil menggenggam salah satu tangan Alina dengan erat.
Suara tangis bayi memecah keheningan ruangan ini. Setelah beberapa kali dorongan dari Alina. Kini buah hatinya lahir dengan selamat. Arvin tersenyum lega dan tak hentinya menciumi kening Alina.
"Selamat pak, bu, putra bapak sudah lahir," ujar dokter tersebut dan meletakkan bayi itu di atas dada Alina.
"Bukankah harusnya putri dok?" tanya Alina bingung.
"Maaf, mungkin waktu itu saya salah memberikan informasi. Hal seperti ini wajar terjadi kok bu. Waktu USG dilihatnya perempuan tapi waktu lahiran justru laki-laki atau sebaliknya," terang dokter tersebut.
Bukankah beberapa kali cek bayinya juga perempuan? Kenapa saat lahir justru berubah laki-laki? Padahal terlihat dengan jelas bahwa waktu itu adalah bayi perempuan. Dokter beberapa kali juga mengatakan hal yang sama.
Alina menatap Arvin. Arvin hanya tersenyum dan menggeleng kepalanya pelan.
"Nggak apa-apa sayang," ujar Arvin dengan lembut.
"Tiga jagoan nggak masalah. Atau sekalian bikin tim kesebelasan," celetuk Arvin disertai gelak tawanya pelan darinya.
"Tapi mas, kita bahkan sudah menyiapkan segala keperluan untuk bayi perempuan kita loh," balas Alina. Bukannya ia tak suka jika anaknya yang lahir adalah laki-laki. Tapi mulai dari pakaian, kamar dan keperluan lainnya sudah didesain untuk putrinya itu.
"Nggak masalah. Itu untuk anak kita yang selanjutnya saja," jawab Arvin dengan santai.
Setelah dibersihkan, kini mereka dipindahkan di ruang perawatan. Oke, nambah satu jagoan lagi juga tidak buruk.
__ADS_1
Setelah persalinan yang berlangsung hampir delapan jam kini Alina merasa lega. Walaupun tidak sesuai perkiraan, yang terpenting dirinya dan bayinya sehat. Bayi tampan sedikit cantik yang berhasil Alina lahirkan dan diberi nama Raffa Alvaro.
Arvin sengaja memberitahukan kepada keluarganya setelah bayi tersebut lahir. Berbeda dengan persalinan Alina yang pertama dulu. Jika dulu Arvin dirundung rasa takut yang berlebihan, tadi ia sudah lebih dari tenang.
Alina sedang menyusui bayinya. Sedangkan Arvin masih mengurus administrasi. Soraya dan Jovan datang lebih dulu. Mereka langsung ke ruangan Alina. Mereka sudah tidak sabar melihat cucunya. Walaupun tak langsung datang dan harus menyesuaikan jadwal dari Jovan dulu baru bisa menjenguk Alina dan cucunya.
"Kenapa nggak ngabarin mama sebelumnya? Kan mama bisa menemani kamu sayang," ucap Soraya yang mendekat ke arah Alina yang sedang menyusui.
"Iya Ma, kami minta maaf. Semalam waktu ke rumah sakit ingin menghubungi mama tapi takut ganggu mama," jawab Alina.
"Di mana suami kamu?" tanya Jovan sambil duduk di sofa.
"Mengurus administrasi Pa," jawab Alina.
"Ini kamu beri nama siapa sayang?" tanya Soraya.
"Namanya Raffa Ma," jawab Alina dan tersenyum tipis.
"Eh, iya Ma. Yang keluar ternyata laki-laki, hehehe," jawab Alina dan tersenyum tipis.
Soraya mengangguk. Tak lama setelah itu, Arvin datang ke ruangan tersebut. Arvin dan tuan Jovan mengobrol santai entah apa yang mereka bahas. Sedangkan Soraya menemani Alina sambil sesekali membelai lembut pipi Raffa. Hingga tak terasa sudah pukul 13.00. Soraya dan Jovan pamit untuk pulang.
***
Tiga hari kemudian, Alina sudah pulang ke rumah. Karena Alina kekeh tak mau dirawat di rumah sakit terlebih dahulu. Ia merasa nyaman jika istirahat di rumah.
"Horeee.. Barra punya adik..." ujar Barra kegirangan. Dirinya dengan senang menyambut kedatangan Alina dan adik barunya itu.
Alina dan Arvin hanya tersenyum tipis melihat tingkah lucu Barra. Sedangkan Zidan masih sekolah. Anaknya yang satu itu memang rajin.
"Mommy, Barra mau lihat adik baru," ucap Barra sambil menarik-narik ujung baju Alina.
__ADS_1
"Iya sayang. Sebentar ya," jawab Alina dengan lembut. Ia segera menuju kamarnya dan disusul oleh Arvin dan Barra.
"Mommy, adiknya namanya siapa?" tanya Barra dengan antusias. Hampir sama dengan respon Zidan waktu pertama kali melihat adik barunya.
"Namanya adik Raffa sayang," ucap Alina sambil meletakkan bayinya di ranjang.
"Barra tidak boleh nakal loh. Harus nurut sama bang Zidan. Kan Barra sudah punya adik," ucap Arvin sambil mengelus puncak kepala putranya yang sebentar lagi akan masuk taman kanak-kanak itu.
"Iya papa," jawab Barra.
Alina beranjak keluar kamarnya. Ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Sebentar lagi Zidan pulang sekolah. Ia harus segera menyiapkan makan siang itu.
Sedangkan Arvin dan Barra masih asik di kamar. Bercerita sambil menjaga Raffa. Raffa seolah mengalihkan dunia Barra yang biasanya merengek pada Alina meminta ditemani bermain.
Tak lama setelah itu, terdengar suara mobil datang. Yang artinya Zidan sudah pulang dari sekolahnya. Zidan langsung berlari kala melihat Alina yang sedang berada di dapur.
"Mommy, kapan pulang?" tanya Zidan yang kini sudah memeluk Alina. Tiga hari tidak menemui mommy nya membuat Zidan rindu dengan sosok mommy nya itu.
Alina menghentikan masaknya dan berbalik. Alina menangkup wajah Zidan sesaat. Ia mencium kening putranya itu.
"Baru tadi pagi sayang. Kenapa? Zidan sudah kangen ya?" balas Alina. Zidan mengangguk dengan antusias.
Alina menyuruh Zidan untuk ganti pakaiannya terlebih dahulu. Zidan mengangguk patuh dan segera menuju ke kamarnya. Belum lima langkah kakinya meninggalkan tempat, Zidan berbalik lagi menatap Alina.
"Adek Barra mana Mom?" tanya Zidan yang begitu sadar belum menemui Barra. Karena setiap Zidan pulang, Barra pasti merecokinya hanya karena ingin meminta jajan padanya.
"Tuh di kamar sama Raffa sayang. Ada papa juga di sana," jawab Alina yang kembali memasak.
"Mom, apa Zidan boleh melihat adik Raffa?" tanya Zidan hati-hati.
"Kenapa tidak boleh sayang. Kamu gantilah dulu seragammu setelah itu boleh lihat adik barumu," ujar Alina dan tersenyum tipis. Zidan mengangguk dengan girang dan segera menuju kamarnya.
__ADS_1
Alina kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda. Beberapa hari ke depan, ia akan mengurus semua pekerjaan rumah sendiri. Karena bi Narsih izin cuti pulang ke kampung halamannya untuk beberapa waktu. Alina tak merasa keberatan. Ia bahkan sudah terbiasa melakukan pekerjaannya sendiri.