
"Minggir, saya mau mencari Alina!" ucap Danis dengan tegas. Ia menepis tangan satpam yang berjaga di depan dan menerobos masuk.
"Ada apa? Kenapa ribut sekali?" tanya Rani yang datang menghampiri Danis.
"Di mana Alina? Saya ingin menemuinya!" ucap Danis sedikit menunggu.
"Maaf tuan mengecewakan Anda. Bu Alina sudah lama resign. Saya adalah pimpinan baru di sini," jawab Rani dengan tegas.
Danis menatap tajam ke arah Rani. Memperhatikan setiap sudut tubuh Rani.
"Bukankah kamu pelayan yang waktu itu?" tanya Danis dengan tatapan menyelidik.
"Benar, saya adalah pelayan yang waktu itu. Jika tidak ada hal lain silakan kembali. Jangan mengganggu ketenangan pengunjung lainnya," ucap Rani dengan sopan. Walaupun sebenarnya ia merasa jengkel.
"Beraninya kau!" ucap Danis meninggi.
"Saya sangat berani dengan orang yang berusaha mengganggu ketenangan restoran ini. Dan saya tidak akan segan lagi untuk mengusir Anda dari sini tuan," jawab Rani dan tersenyum sinis ke arah Danis.
Amarah Danis memuncak. Belum pernah ada yang bersikap kurang ajar seperti ini. Belum pernah ada yang mempermalukannya seperti ini. Wanita ini berani sekali. Ia bahkan tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Menarik, Danis semakin ingin membuat wanita di depannya ini ketakutan.
Danis menyeringai dan berjalan mendekati Rani. Rani dengan gugup melangkah mundur. Oke, mungkin ia salah telah menantang seseorang yang sangat menakutkan seperti itu.
Danis berhenti tepat di depan Rani. Ia menatap Rani dengan tajam. Kemudian berlalu meninggalkan Rani. Danis menuju ruangan yang biasanya Alina tempati. Berharap Alina berada di sana dan ia bisa menemuinya.
"Hei, berhenti!" ujar Rani. Namun Danis tetap masuk ke ruangan tersebut.
Danis terlihat sedih saat ia tak mendapati Alina di dalam. Ia berjalan menuju meja kerja yang beberapa tahun lalu sempat ia tempati. Danis menarik kursinya dan duduk di sana.
Rani memasuki ruangan tersebut. Meskipun pria itu beberapa tahu lalu adalah bosnya tetapi sekarang dirinya yang dipercaya untuk mengelola restoran ini. Sebisa mungkin ia akan mengupayakan yang terbaik untuk restoran ini.
"Maaf tuan, jika tidak ada hal lain lagi silakan pergi," ucap Rani dengan tenang. Ia tidak ingin ribut dengan pria dihadapannya itu.
"Biarkan saya di sini sebentar. Hanya sebentar saja," ucap Danis memelas. Rani hanya menghela napasnya. Ia tetap berdiri di tempatnya dan mengawasi Danis.
__ADS_1
"Hanya lima menit. Jika sudah silakan keluar," ucap Rani tegas. Danis hanya mengangguk. Kebodohannya telah menghancurkannya. Andai dia dulu tak berbuat senekad itu, pasti ia masih bisa berada di samping Alina dan menjadi orang kepercayaannya. Andai cinta tak membutakan dirinya, pasti saat ini hubungannya dengan Alina baik-baik saja.
"Silakan keluar tuan," ucap Rani memperingati. Karena ini lebih dari lima menit. Ia tak punya waktu untuk meladeni pria yang ada dihadapannya itu.
Danis berdiri. Ia berjalan gontai meninggalkan ruangan tersebut. Memang, penyesalan datangnya selalu di akhir.
***
Hari semakin sore. Mengurus tiga putra tidak mudah bagi Alina. Apalagi ia harus mengurusnya sendirian. Arvin masih setia menonton acara tv. Sambil makan camilan yang ada di depannya.
"Mas, bantuin mandiin Barra ya," ucap Alina sedikit berteriak. Ia masih menyusui Raffa.
Tak ada jawaban dari Arvin. Ia masih fokus pada acara tv favoritnya. Meskipun tak setiap hari ia menonton tv.
Alina menghela napasnya sejenak. Ia menuruni tangga dan menghampiri Arvin. Alina mengambil remote nya dan mematikan tv tersebut.
"Kenapa dimatiin, lagi seru juga," ujar Arvin sambil tangannya berusaha meraih remote tersebut.
"Nggak ada! Nanti saja nontonnya. Mas, Barra belum mandi, kamu bantuin mandiin dong," ujar Alina.
"Mas, ayolah. Bantuin aku," ucap Alina kembali.
"Kalau mandiin kamu aku mau sayang," jawab Arvin santai. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Jangan bercanda terus mas," ucap Alina jengah. Namun Arvin masih menolak dengan seribu alasannya. Merasa jengah dengan sikap Arvin, Alina kembali ke kamar untuk menidurkan Raffa terlebih dahulu. Meskipun Zidan sebenarnya bisa membantu Barra mandi, tetap saja Alina tidak tega.
Alina kini berada di kamar Zidan dan Barra. Ia membantu Barra sekaligus Zidan untuk mandi. Setelah selesai, ia membantu Barra untuk memakai bajunya.
Arvin yang merasa bersalah menghampiri Alina yang sedang mengurus kedua putranya itu. Arvin berdiri diambang pintu. Ia memperhatikan Alina betapa lihainya istrinya itu mengurus kedua putranya.
Setelah selesai, Alina keluar dari kamar tersebut. Ia bahkan tak menegur Arvin dan berlalu begitu saja. Ia ganti mengurus Raffa. Mengelap tubuh Raffa dan menggantikan pakaiannya. Arvin menghampiri Alina dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang," bisik Arvin saat Alina baru menggantikan baju Raffa.
__ADS_1
"Ya mas?" jawab Alina yang masih fokus dengan Raffa.
"Maaf," ucap Arvin lirih.
"Untuk apa?" tanya Alina yang masih tidak mau menatap Arvin.
"Marah sama mas ya gara-gara tadi?" tanya Arvin hati-hati.
"Nggak. Untuk apa marah," jawab Alina sekenanya.
Arvin yakin istrinya sedang marah padanya. Tak biasanya saat mereka sedang bicara Alina tak menatapnya seperti ini. Yah, Arvin juga sih tadi tidak mau membantu Alina, hehe.
Alina meninggalkan Arvin begitu saja. Ia lebih fokus pada Raffa. Ia membawa Raffa ke ruang tengah yang sudah ada Barra dan Zidan.
"Sayang, jagain adeknya sebentar ya. Mommy mau makan dulu," ujar Alina dan menidurkan Raffa di ranjang bayi. Alina menuju meja makan. Arvin menuruni tangga dan menghampiri Alina. Ia duduk di sebelahnya. Alina makan dengan lahap.
"lucunya kalau lagi marah," ucap Arvin sambil menopang dagunya dengan tangan satunya. Sambil memperhatikan Alina.
"Siapa juga sih yang marah mas. Hanya kesal saja," jawab Alina dan kembali makan.
"Sama saja sayang. Maaf ya tadi bukannya nggak mau bantuin kamu. Tapi niatnya ingin menggoda kamu dulu, eh malah marah beneran. Tapi serius, nggak ada niat kaya gitu," ungkap Arvin dengan serius.
"Iya nggak apa-apa mas. Tapi lain kali seperti itu lagi, mas tidur di luar saja," balas Alina. Sedikit ngeri, tapi itu konsekuensinya. Ia harus terima.
Setelah makan, ia kembali ke ruang tengah. Menonton acara tv bersama suami dan anaknya. Bersantai sambil bercanda tawa.
Malamnya Alina membantu Zidan untuk belajar. Sedangkan Arvin mengurus Barra. Ia bermain dan berusaha menidurkan Barra. Dan ternyata itu tak mudah. Arvin harus banyak-banyak bersabar.
Akhirnya, ia berhasil menidurkan Barra. Ia menghela napasnya dan kembali ke ruang tengah menghampiri Alina dan Zidan.
"Bang, istirahat gih. Sudah selesaikan belajarnya?" tanya Arvin pada Zidan.
"Sudah Pa. Mom, Zidan tidur dulu ya," ucap Zidan dan mencium pipi Alina sekilas. Ia berlalu meninggalkan Alina dan Arvin.
__ADS_1
"Eh, hanya mommy nya doang yang dicium," ujar Arvin terkekeh. Arvin mengambil alih menggendong Raffa menuju kamarnya.