Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 91


__ADS_3

Alina melirik ke arah suaminya yang sedang fokus mengemudi. Ia sangat yakin jika Arvin sedang marah padanya.


Sesampainya di rumah, Arvin mengambil alih Barra dan menggendongnya untuk ditidurkan di kamarnya. Alina mengikuti Arvin dari belakang.


"Mommy dari mana?" tanya Zidan yang mendapati Alina pulang.


"Maaf sayang, mommy habis dari restoran. Zidan sudah makan belum? Nih mommy bawain makanan kesukaan Zidan," ucap Alina sambil mengusap puncak kepala Zidan. Dirinya berjongkok mensejajarkan dengan Zidan.


"Wahh, terima kasih mommy," balas Zidan dan mencium pipi Alina sekilas. Alina tersenyum lega, Zidan tak ikut marah padanya.


"Sayang, mommy ke atas dulu ya," ujar Alina dan Zidan mengangguk.


Alina menaiki tangga menuju kamarnya. Ia telah menyiapkan dirinya jika nanti Arvin memarahinya. Ia tahu kesalahannya. Harusnya ia pulang sebelum Arvin dan anaknya pulang.


Alina berhenti sejenak di depan kamar. Ia membuka pintunya dengan pelan. Arvin telah menunggu Alina di sofa dan menatap tajam ke arahnya.


"Mas, maaf," ucap Alina saat duduk di samping Arvin.


Arvin menatap Alina dengan lekat. Ia tersenyum tipis dan mencubit hidung Alina dengan gemas. Arvin menarik Alina dan memeluknya dengan erat. Sedangkan Alina hanya diam. Ia mengernyitkan dahinya. Bukankah tadi suaminya lagi marah padanya?


"Mas nggak marah?" tanya Alina sambil melepas pelukan Arvin.


Arvin menatap Alina dengan lekat. Perlahan ia memajukan wajahnya. Menyapu jarak di antara mereka. Alina menjadi salah tingkah dan memejamkan matanya. Arvin berhenti sejenak. Ia mengamati wajah Alina dari dekat. Rasanya tidak akan pernah bosan memandang wajah orang yang begitu ia sayangi.


Merasa tak ada pergerakan apapun yang dilakukan oleh Arvin, Alina perlahan membuka matanya. Dan saat matanya sudah terbuka sempurna, dengan cepat Arvin menyambar bibir mungil yang ada di hadapannya itu. Arvin menahan punggung Alina untuk memperdalam ciumannya.


Setelah puas, Arvin melepas ciuman tersebut. Ia mengecup kening Alina sekilas dan membelai lembut pipi Alina.


"Mas?" panggil Alina.


"Ada apa?" tanya Arvin balik.


"Kamu nggak marah?" tanya Alina sambil mengernyitkan dahinya.


"Marah untuk apa?" jawab Arvin sambil menaikkan alisnya.


"Karena aku pulangnya telat," balas Alina sambil menunduk.

__ADS_1


"Kali ini aku maafkan. Tapi tidak untuk lain kali," ujar Arvin dan memeluk Alina kembali.


Alina tersenyum lega. Ternyata apa yang ia duga salah.


"Apa kamu sudah siap untuk mengandung lagi sayang?" bisik Arvin di dekat telinga Alina.


Alina mendorong Arvin sedikit kasar. Lagi-lagi Arvin membicarakan tentang kehamilannya yang kedua. Bahkan sudah lama Arvin memaksanya agar segera hamil. Tapi Alina merasa belum sanggup untuk mengandung. Dan kali ini Arvin bertanya kembali untuk kesekian kalinya.


"Mas, aku belum siap. Sudah aku bilang kan? Zidan dan Barra masih kecil mas, kasihan," ujar Alina dengan pelan. Ia takut menyakiti hati Arvin dan memupuskan keinginannya.


"Nggak masalah. Kita bisa membesarkan mereka bersama-sama. Nambah satu lagi bukankah sama saja?" balas Arvin dan kini mendekat ke arah Alina.


"Setidaknya nunggu sampai usia Barra empat atau lima tahun mas," ujar Alina yang kini bersandar di dada Arvin. Arvin menghela napasnya sejenak. Ia menciumi puncak kepala Alina dengan lembut.


"Itu lama sayang. Nggak bisa! Mulai hari ini kita akan program hamil lagi," ujar Arvin. Alina hanya diam saja.


"Untuk sementara aku setuju sajalah. Nanti diam-diam aku akan konsumsi pil KB. Lagipula mas Arvin juga nggak akan tahu kam," Batin Alina yang seakan mendapat solusi.


"Jangan kira aku tidak tahu apa yang akan kamu rencanakan sayang. Kita lihat saja nanti," gumam Arvin dan tersenyum tipis.


Arvin mengangkat tubuh Alina dan mengarahkannya untuk duduk dipangkuannya. Alina sedikit terkejut, namun ia tak banyak bersuara. Karena Barra masih tidur di kamar mereka.


Arvin tak menjawab pertanyaan Alina. Ia mulai membuka kancing kemeja Alina. Arvin mengecup leher Alina dengan pelan. Ia beralih mencium bibir Alina.


"Mas, ada Barra di sana. Jangan aneh-aneh ya," ujar Alina sambil menahan dada Arvin.


"Kita lakukan di sini," jawab Arvin santai dan ia langsung menerkam Alina.


***


Di tempat lain, Briant lagi berkunjung ke rumah orang tuanya. Tentunya bersama Dewi dan putrinya, Naura Auristela Jovanka. Saat ini berumur 1,5 tahun. Cantik dan imut.


"Ma, Alina nggak ke sini?" tanya Briant. Mereka baru saja tiba di rumah orang tuanya.


"Adikmu itu jarang sekali ke sini. Mungkin hanya akhir pekan saja. Ya mama sih memaklumi ya. Pekerjaan suaminya yang begitu sibuk dan Alina harus mengurus dua anak sekaligus," ujar Soraya. Dewi mencium tangan Soraya dan mereka duduk di ruang tamu.


Briant mengangguk paham. Dirinya sama-sama mengerti bahwa Arvin juga begitu sibuknya. Yang terpenting Arvin tak mengecewakan Alina itu sudah bisa membuat Briant lega.

__ADS_1


"Mas, kapan-kapan kita ke rumah Alina yuk. Aku kangen sama mereka," ujar Dewi dan Briant mengangguk.


Mereka mengobrol santai. Sedangkan Jovan dan Briant berada di ruang kerja. Mereka membicarakan bisnis. Kedatangan Briant kali ini tak lain ingin membahas bisnis dengan papanya. Sudah lama mereka tak mengobrol serius.


Semakin larut, namun Briant dan papanya belum juga keluar dari ruang kerja. Terpaksa Dewi tidur duluan di kamar karena berulang kali dipaksa Soraya untuk menginap.


"Hei, sudah tidur?" bisik Briant di dekat telinga Dewi.


Namun Dewi sama sekali tak terganggu. Briant mengecup sekilas kening Dewi dan ia segera tidur di samping putrinya.


Esok harinya, Dewi terbangun. Namun Naura sudah tidak ada di sampingnya begitu juga Briant. Ia membuka selimutnya dan berjalan ke kamar mandi. Kemudian keluar kamar untuk mencari keberadaan Naura.


"Ma, maaf Dewi tidak membantu mama menyiapkan sarapan," ujar Dewi saat pertama kali yang ia lihat adalah Soraya yang sedang berada di dapur menyiapkan sarapan.


"Tidak masalah sayang. Briant bilang kamu lagi nggak enak badan? Apa sekarang sudah baikan?" tanya Soraya sambil meletakkan sayur ke dalam panci.


"Hah? Dewi baik-baik saja kok Ma," jawab Dewi bingung. Kapan ia bilang kepada suaminya jika ia tidak enak badan. Bahkan tadi malam Dewi juga langsung tertidur tanpa menunggu Briant.


Soraya tersenyum dan menangkup wajah Dewi sekilas.


"Kalau memang tidak enak badan istirahat saja. Biar mama yang kerjakan ini semua," balas Soraya dan menyuruh Dewi agar duduk. Tidak perlu membantunya menyiapkan sarapan.


"Naura ke mana Ma?" tanya Dewi lagi.


"Jalan-jalan sama papa dan kakeknya. Mungkin sebentar lagi juga pulang," ujar Soraya. Dan kini sarapan telah siap.


"Nah itu mereka," ujar Soraya sambil menunjuk ke arah pintu utama.


Naura terlihat begitu senang yang berada digendongan Jovan. Melihat mereka, Dewi tersenyum lega.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf kalau ceritanya monoton atau kurang menarik, hehehe..😬🙏


__ADS_2