
Arvin masih setia menemani Alina. Ia tak hentinya memperhatikan wajah Alina yang sedang tak berdaya akibat pengaruh bius itu. Ia melipat tangannya di dadanya. Sedangkan Raffa berada di box bayi yang terletak tak jauh dari kasur Alina.
Cukup lama Arvin menunggu, kini perlahan Alina tersadar. Ia mulai membuka matanya dengan pelan. Ia mengerjap beberapa kali untuk mendapatkan kesadarannya kembali. Arvin yang mengetahui hal tersebut langsung mendekati Alina.
"Alina, kamu sudah bangun?" tanya Arvin dingin. Alina menatap Arvin sejenak. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Iya, ia ingat bahwa ia akan menjalani operasi tetapi dihentikan oleh seseorang.
"Mas, kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Alina bingung. Arvin tepat berada di atas tubuh Alina. Tetapi ia sama sekali tidak menindihnya. Arvin menatap lekat Alina. Wajahnya penuh kemarahan.
"Menurutmu? Kenapa aku bisa ada di sini? Kau telah melakukan kesalahan besar Alina. Hukuman apa yang pantas untuk kamu, katakan padaku?" ucap Arvin penuh penekanan.
"Mas, itu... Aku bisa jelaskan semuanya mas," ucap Alina.
Arvin bangkit. Ia memalingkan wajahnya. Memejamkan matanya sejenak. Ia tidak ingin amarahnya meledak di sini. Ia harus menahannya meski berjuta pertanyaan telah menghantuinya.
"Istirahatlah, kita bicarakan ini di rumah," ucap Arvin tanpa melihat ke arah Alina. Ia berlalu meninggalkan Alina.
Perlahan air mata Alina mengalir. Ia tahu suaminya sedang marah besar padanya. Apapun alasan yang akan ia katakan pada suaminya nanti pasti tak bisa Arvin terima begitu saja. Kali ini ia benar-benar membuat kesalahan besar. Yang mungkin akan mengancam hubungannya.
Selang beberapa menit, Arvin kembali bersama Farhan. Alina berusaha untuk duduk.
"Kita akan pulang sekarang. Farhan, tolong bawa Raffa sebentar," ucap Arvin dengan datar. Ia menggendong Alina keluar rumah sakit. Namun Arvin sama sekali tidak menatap Alina.
Sampainya di mobil, Arvin mengambil Raffa dan memberikannya pada Alina. Arvin menyetir sendiri mobilnya menuju rumah. Dalam perjalanan pulang, tidak ada satu patah katapun yang mereka ucapkan. Alina hanya menatap suaminya dengan sendu. Sesekali beralih menatap putranya yang sedang menyusu.
Sampai di rumah, Arvin memanggil bi Sumi yang kebetulan belum pulang. Ia memberikan Raffa kepada bi Sumi untuk menjaganya sebentar. Kemudian Arvin menarik Alina menuju kamar dan mengunci kamar tersebut.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau jelaskan Alina?" kini tatapan Arvin seolah ingin membunuh Alina saat itu juga. Terlihat mengerikan dimata Alina.
"Mas, aku minta maaf sama kamu. Aku tidak memberitahukan tentang kehamilan ini sebelumnya. Aku sungguh bingung mas, jujur aku belum siap untuk hamil lagi. Itulah kenapa aku sampai nekad untuk... Untuk menggugurkan kandungan ini mas," ucap Alina dengan dilinangi air mata. Ia bersimpuh di depan suaminya berharap suaminya memaafkannya kali ini.
"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan? Apa kau sadar? Bahkan kau ingin membunuh calon anak kita sendiri! Di mana sisi dirimu sebagai seorang ibu. Kau adalah seorang ibu tapi kau tega melakukan itu Alina!" ucap Arvin dengan penuh amarah.
"Jika aku tidak datang tepat waktu, aku akan kehilangan calon anak kita Alina! Sadarlah!" ucap Arvin meninggi. Alina hanya menunduk dan air matanya tak berhenti menangis.
Arvin terduduk di depan Alina. Ia menangkup wajah Alina. Matanya memerah. Wajahnya mengeras berusaha untuk meredakan amarahnya.
"Bahkan seorang ibu tak akan melakukan itu Alina. Aku adalah suamimu. Aku berhak tahu atas segala masalahmu. Tapi kenapa kau menutupinya dariku,"
"Alina... Aku belum pernah melihat sisi dirimu yang seperti ini. Apa kamu tidak sayang terhadap janin yang ada di perutmu sekarang? Bagaimana bisa kamu setega ini Alina," ucap Arvin dengan pelan. Bahkan sampai Arvin menitikkan air matanya.
"Aku kecewa sama kamu Alina. Aku kecewa," gumam Arvin. Ia tak ingin menyakiti Alina dalam kemarahannya. Bagaimanapun saat ini Alina sedang mengandung. Namun ia juga tak bisa mengabaikan kesalahan Alina kali ini.
"Katakan padaku, hukuman apa yang pantas untukmu sayang," ujar Arvin penuh penekanan. Alina semakin menciut. Ia benar-benar takut.
"Jawab!!" bentak Arvin.
"Bagaimana aku harus menghukummu atas kesalahanmu ini Alina!" tekan Arvin kembali. Namun Alina hanya diam saja.
"Baiklah, sini ikut denganku!" Arvin menarik Alina menuju salah satu kamar kosong. Ia sedikit menghempaskan Alina di sana.
"Kau tidak akan keluar dari sini sebelum kau merenungi kesalahanmu Alina! Jangan harap aku akan mengasihimu kali ini!" ucap Arvin tepat di depan wajah Alina.
__ADS_1
"Ta-tapi mas, bagaimana dengan Raffa? Dia masih membutuhkanku mas," ucap Alina.
"Raffa biar aku yang urus. Tugasmu merenungkan kesalahanmu sendiri!" Tekan Arvin kembali.
"Mas, jangan kurung aku di sini. Aku takut gelap mas. Mas aku mohon maafkan aku. Aku mohon mas maafkan aku. Aku janji tidak akan menyakiti bayi ini. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi mas," ungkap Alina memohon kepada Arvin.
"Kau bukan hanya akan menyakiti janin itu tetapi juga menyakiti aku Alina. Di mana akal sehatmu. Apakah kamu tidak sadar, bagaimana sakitnya aku saat mengetahui kenyataan ini? Kau tidak memikirkan perasaanku jika kehilangan calon anakku akibat kebodohanmu?"
"Heh, apa kau benar-benar ingin menggugurkan kandungan ini Alina? Katakan padaku. Apa kau begitu ingin bayi ini gugur sayang?"
Alina terdiam. Ia tak berani bersuara. Sejujurnya setelah Arvin mengetahui tentang ini, Alina tak lagi punya niatan untuk menggugurkannya lagi. Apa yang diucapkan Arvin memang benar. Alina terlalu gegabah dan dengan bodohnya mengambil jalan itu.
"Aku beri kamu waktu satu malam untuk memikirkannya. Besok, aku akan datang ke sini dan aku harap kamu sudah memiliki pilihan. Apakah akan mempertahankan bayi ini atau tidak. Semua keputusan ada ditanganmu Alina," ucap Arvin. Lalu ia beranjak keluar dari ruangan itu. Ia terpaksa mengunci Alina di dalam agar Alina sadar dengan kesalahannya.
"Mas, tolong jangan kunci aku di sini mas," ucap Alina panik sambil menggedor pintunya.
"Mas tolong, jangan kunci aku di sini,"
"Mas aku mohon,"
Arvin masih berdiri di depan pintu. Ia tidak ingin melakukan ini pada Alina. Namun ia harus melakukannya. Ia takut jika Alina berada di sisinya, Arvin akan menyakiti Alina sekaligus bayi yang ada di perutnya saat ini. Percayalah, jika Arvin mati-matian menahan amarahnya sedari tadi. Meskipun ini juga keterlaluan. Ia harus menyelamatkan Alina dari amukannya.
Arvin berjalan menuju ruang kerjanya. Namun sebelum itu, ia meminta bi Sumi untuk menginap di sini satu malam. Membantu mengurus Raffa. Karena ia tak yakin jika ia bisa menguasai amarahnya hari ini. Arvin memilih mengunci dirinya di ruang kerjanya. Ia tak ingin ambil resiko. Biar sekalian barang-barang yang ada di ruang kerjanya yang menjadi pelampiasan. Ia tak mau menyakiti Alina maupun putra-putranya.
***
__ADS_1
Authornya juga ikut emosi nulisnyağŸ˜