Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 119


__ADS_3

Pagi hari, Alina terbangun dari tidurnya. Pandangannya terpaku pada lampu kecil yang terletak di nakas samping tempat tidurnya. Ternyata dirinya semalam tidak sedang bermimpi. Bahwa Arvin datang dan mengecup keningnya. Alina bersandar dan memegangi keningnya. Ia tersenyum tipis. Alina lega, suaminya masih peduli padanya.


Alina menuju ke kamar mandi. Memang tempat itu sudah lama tidak dipakai, tetapi masih terawat. Hanya saja penerangan di kamar ini minim. Dan malah tidak ada lampunya. Seusai membersihkan diri, Alina menatap pintu tersebut. Berharap Arvin segera membukakan pintu untuknya.


Alina sangat rindu kepada anak-anaknya. Padahal ia dikurung di rumahnya sendiri, tetapi rasanya sangat asing baginya. Alina memilih untuk duduk di tepi ranjang sambil menunggu pintunya terbuka.


Klek


Suara pintu itu terbuka, Alina dengan senang berdiri dan langsung menghampiri Arvin. Ternyata yang membuka pintunya adalah bi Sumi.


"Bi, di mana tuan? Kenapa bibi yang membukakan pintunya?" tanya Alina bingung. Padahal ia sudah menyiapkan jawaban jika nanti Arvin bertanya padanya terkait bayi yang ada di kandungannya.


"Maaf nyonya, saya hanya menjalankan perintah dari tuan. Tuan sedang sakit demam dari semalaman. Tadi pagi..."


"Apa? Kenapa baru bilang sekarang bi?" Sela Alina dan langsung menuju kamarnya.


Alina membuka pintu kamarnya dan melihat Arvin tak berdaya di atas kasurnya. Alina berjalan pelan menuju ranjang. Ia duduk di tepi ranjang dan menempelkan tangannya dikening Arvin. Apa yang dibilang bi Sumi benar, Arvin sedang demam. Alina buru-buru beranjak dan ingin menyiapkan kompres untuk Arvin. Namun tangannya dicekal oleh Arvin.


"Jangan lakukan apapun!" ujar Arvin setengah sadar. Karena kepanikan Alina, ia melepas tangan Arvin begitu saja dan tetap menuju dapurnya. Alina menyiapkan air kompres dan menyuruh bi Sumi menghubungi dokter. Dengan telaten Alina mengompres Arvin. Semua ini salahnya, jika bukan karenanya, suaminya akan baik-baik saja.


Raffa mulai bangun dan sedikit rewel. Dengan sabar, ia mengurus Arvin dan Raffa. Sedangkan Zidan dan Barra bi Sumi yang mengurusnya. Tak lama, dokter Santoso sudah datang dan langsung memeriksa Arvin.


Kondisi Arvin tak begitu baik. Demamnya akibat terlalu lama terguyur oleh air. Itu sebabnya ia menjadi sakit seperti ini. Dokter Santoso memasang infus untuk Arvin.


"Tolong jaga kondisinya. Akhir-akhir ini ia nampak kelelahan. Keadaannya sudah membaik, terus ganti kompresannya dan pantau keadaannya. Jika ada sesuatu silakan hubungi saya," ujar dokter Santoso. Alina mengangguk paham.


Sambil menyusui Raffa, Alina duduk tenang di tepi ranjang. Ia memperhatikan Arvin yang sedang tertidur itu.


"Maaf mas. Membuatmu sampai seperti ini," ucap Alina sambil menatap Arvin.

__ADS_1


Selesai menyusui, Alina menidurkan Raffa kembali ke ranjang bayi. Dirinya turun ke bawah sebentar untuk melihat kedua putranya.


"Mommy..." teriak Barra dan langsung berlari memeluk Alina. Alina berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putranya.


"Mommy kapan pulang? Kenapa mommy nggak mengajak kita juga Mom," ucap Barra yang masih memeluk Alina. Alina mengernyitkan dahinya. Ia bingung harus jawab apa.


"Mom?" panggil Zidan yang juga menghampiri Alina.


"Mmm... Kalian sarapan dulu ya. Nanti telat sekolah loh. Barra, hari ini sekolahnya bareng sama bang Zidan ya. Soalnya papa lagi sakit, mommy harus jaga papa sayang," ujar Alina. Ia membawa anaknya ke meja makan untuk melanjutkan sarapan sekalian dirinya juga. Barra mengangguk dengan paham. Setelah memastikan kedua putranya berangkat sekolah, Alina menuju kamar untuk menjaga Arvin.


Alina terus terjaga di samping Arvin. Sesekali mengecek suhu tubuh Arvin. Belum turun juga. Masih sama seperti pagi tadi saat ia pertama mengeceknya.


"Mas, kenapa kamu menyiksa diri seperti ini? Aku yang salah mas. Kenapa mas sampai melukai diri kamu sendiri?" ucap Alina yang melihat luka di jemari Arvin. Ia mengambil kotak P3K dan mengobatinya.


"Aahh," eluh Arvin saat jemarinya terolesi obat. Arvin membuka matanya. Ia melihat istrinya yang masih mengobati lukanya itu. Arvin tersenyum tipis. Tetapi ia masih harus menghukum istrinya ini.


Arvin segera menarik tangannya. Alina yang terkejut langsung menatap wajah Arvin. Suaminya ini sudah bangun. Alina mengembangkan senyumnya.


"Kamu masih menjalani masa hukuman Alina, kenapa kamu keluar, hmm?" tanya Arvin sambil memalingkan wajahnya.


"Iya mas aku minta maaf. Tapi aku nggak bisa membiarkan kamu sakit begitu saja. Aku mohon mas biar aku merawat mas sampai sembuh ya," ucap Alina memohon.


Sebenarnya Arvin juga menginginkan hal yang sama. Tetapi ia harus menahannya sedikit lagi. Ini demi kebaikan mereka ke depannya.


"Aku tidak butuh perhatian kamu saat ini. Pikirkan bayi yang ada di kandungan kamu saja," jawab Arvin.


"Mas aku minta maaf atas kesalahanku kemarin. Aku tahu sudah menyakiti kamu mas. Aku terima jika kamu menghukumku apapun itu. Aku juga sudah memutuskan akan tetap mempertahankan bayi ini. Aku menyesal mas. Aku benar-benar menyesal," ucap Alina sambil menunduk. Ia perlahan meneteskan air matanya.


"Apa karena kamu takut aku terus marah padamu sehingga kamu terpaksa mempertahankan bayi itu Alina?" tanya Arvin memastikan. Apapun alasan Alina sebenarnya tidak penting. Yang terpenting Alina mau menjaga anak dalam kandungannya saja Arvin sudah sangat bahagia.

__ADS_1


"Mas, aku nggak terpaksa sama sekali. Aku benar-benar ingin mempertahankan bayi ini mas," sangkal Alina. Karena ia benar-benar sudah sadar dan ia bertekad akan membesarkannya.


"Terserah!" jawab Arvin datar. Alina terdiam tak tau harus menjawab apa. Ia masih duduk di samping Arvin. Begitu lama suasananya hening dan canggung. Keduanya saling membungkam diri.


"Badai pasti berlalu. Begitu juga masalah dalam rumah tanggaku ini," batin Alina yakin.


"Aku akan lihat, bagaimana kamu berusaha membuatku luluh sayang," batin Arvin menyeringai.


"Mas, aku buatkan bubur ya. Kamu harus makan agar cepat sembuh," ucap Alina.


"Biar bi Sumi yang buatkan," jawab Arvin.


"Nggak mas. Aku yang akan memasaknya. Mas harus makan nanti," kekeh Alina dan berjalan keluar kamar. Arvin tersenyum tipis.


"Bodoh! Kamu pikir aku setega itu hingga tak mau memakan makananmu sayang," gumam Arvin pelan.


Alina mulai memasak buburnya. Ia membuatnya sepenuh hati. Berharap agar Arvin luluh dan segera memaafkannya. Alina tidak ingin berlama-lama saling berdiam seperti itu. Ini hanyalah masalah waktu dan usaha. Ia harus bersabar sedikit lagi.


Tak lama kemudian, Alina sudah selesai memasak buburnya. Ia membawanya ke kamar agar Arvin segera makan. Tak lupa juga ia membuat susu untuk Arvin.


"Mas, dimakan dulu ya. Aku suapi," ucap Alina yang baru saja masuk kamarnya. Ia meletakkan nampannya di nakas.


"Bisa makan sendiri!" ujar Arvin. Alina hanya bisa menghela napasnya sedikit kasar. Suaminya ini keras kepala juga.


"Tangan mas kan masih diinfus. Dan satunya lagi terluka. Biar Alina suapi ya," ucap Alina kekeh.


"Sakit bukan berarti tak bisa memegang sendok kan?" tanya Arvin datar.


Alina langsung mencium bibir Arvin begitu saja. Tentunya, Arvin begitu terkejut. Alina melumatnya dengan lembut lalu melepasnya.

__ADS_1


Alina menyodorkan sendok yang berisi bubur dan Arvin memakannya begitu saja. Alina tersenyum tipis. Akhirnya suaminya ini mau makan juga.


__ADS_2