Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 117 (season 2)


__ADS_3

Mereka tetap melanjutkan makannya. Sepuluh menit telah berlalu, namun Zara belum juga datang ke meja makan. Membuat Zidan khawatir padanya.


"Mom, Zidan mau ke kamar sebentar lihat Zara," ucap Zidan. Ia berdiri dan ingin kembali ke kamarnya.


"Biar aku saja. Mungkin dia masih marah padaku," ucap Naura yang seketika ikut berdiri. Zidan terdiam sejenak kemudian memberikan waktu bagi Naura dan Zara.


Naura menuju ke kamar Zara. Ia terlihat canggung untuk menemui Zara. Namun ia harus meluruskan masalah ini. Kedekatannya dengan Zidan bukanlah ada maksud lain, ia dekat karena mereka bersaudara. Naura mengetuk pintu kamar Zara, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Ia membuka pintunya dan masuk begitu saja.


Kamarnya terlihat kosong. Naura mengernyitkan dahinya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Zara keluar dari kamar mandi tersebut dan terkejut dengan kehadiran Naura.


"Kak Naura?" sapa Zara terkejut. Naura tersenyum dan mendekati Zara.


"Kenapa tidak sarapan bersama? Kamu masih marah sama aku?" tanya Naura.


"Bu-bukan.. Zara tidak marah kok. Hanya saja Zara hari ini tidak nafsu makan. Dari tadi mual terus. Kak Naura jangan salah paham ya, Zara tidak mempermasalahkan hal itu lagi," ucap Zara. Ia memegang tangan Naura berharap Naura tidak salah paham terhadapnya. Naura tersenyum dan mengusap lengan Zara dengan lembut.


"Aku kira kamu masih marah sama aku. Dengar ya, meskipun aku dan Zidan terlihat dekat, namun aku juga tidak tertarik padanya, haha," ucap Naura. Zara mengangguk. Ia percaya apa yang dikatakan Naura padanya.


Naura dan Zara beralih duduk di sofa. Naura sedikit bercerita tentang masa kecilnya dulu saat masih berada di Indonesia. Sesekali terdengar tawa mereka dari luar kamar. Ternyata Naura maupun Zara cepat akrab dan mudah menjalin komunikasi. Tanpa mereka sadari, Zidan sedari tadi berada di luar kamar sambil memperhatikan mereka. Karena Zidan khawatir jika Zara akan bersikap yang tidak seperti biasanya. Zidan hanya takut Zara masih membawa emosinya kemarin hari ini. Namun ia salah. Zara dan Naura terlihat begitu akrab.


"Syukurlah jika Zara dan kak Naura bisa akrab," batin Zidan senang. Ia melirik jam yang ada di tangannya. Jam tersebut menunjukkan pukul 07.10. Zidan membuka pintu kamar tersebut untuk menghampiri mereka.


"Sayang, kenapa tadi tidak ikut sarapan?" tanya Zidan yang baru masuk ke dalam kamar tersebut.

__ADS_1


"Aku merasa mual lagi," jawab Zara sambil menatap Zidan dengan sendu. Zidan menghampiri Zara dan jongkok di depan Zara. Zidan mengusap perut Zara dengan lembut.


"Sayang, jangan nakal ya... Biarkan mama makan dulu," ucap Zidan. Naura dan Zara saling memandang dan tersenyum tipis.


"Iya papa, aku tidak nakal kok," jawab Zara dengan suara seperti anak kecil. Zidan menatap Zara dan tersenyum lebar. Lalu ia mengecup kening Zara sekilas.


"Aduh, kalau ingin bermesraan jangan di sini deh. Aku jadi iri nih," ucap Naura pura-pura kesal. Zara dan Zidan tertawa kecil.


"Ini kan kamar Zidan," jawab Zidan santai. Naura menghela napasnya sejenak lalu pamit keluar kamar. Ia tidak ingin menjadi pengganggu mereka. Zidan beralih duduk di samping Zara. Ia merengkuh Zara ke dalam pelukannya.


"Masih tidak nafsu makan? Minum susu mau?" tanya Zidan. Zara mengangguk pelan. Lalu mereka menuju dapur dan membuatkan susu untuk Zara.


***


Saat ini Zidan dan Zara sedang membereskan kamar mereka. Zara merapikan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam almari. Di apartemen terdiri dari dua lantai. Lantai dua untuk kamar, dan lantai satu terdapat ruang tamu, ruang menonton TV, dan dapur serta ruang makan kecil. Apartemen ini hanya ada dua kamar. Satu kamar yang mereka gunakan sekarang, dan satunya lagi kamar yang jarang dipakai kecuali ada yang menginap di apartemen itu. Dua kamar tersebut masing-masing memiliki kamar mandi dalam. Meskipun minimalis, tetapi itu terasa nyaman bagi mereka berdua.


Zidan membersihkan sekitar ranjangnya dan mengganti sepreinya dengan yang baru. Ia juga menyapu agar apartemennya terlihat bersih. Selesai bersih-bersih, Zidan segera mandi karena merasa badannya kotor terkena debu. Sedangkan Zara menuju ke dapur untuk menata belanjaan yang sempat ia beli saat perjalanan ke sini tadi.


Selesai mandi, Zidan menghampiri Zara yang sedang berada di dapur. Ia tersenyum tipis melihat Zara yang sedang sibuk menatap belanjaan itu. Sesampainya di sana, Zidan mendekap Zara dan mencium tengkuk Zara sekilas.


"Eh," ucap Zara terkejut dengan kedatangan Zidan.


"Kenapa tidak istirahat saja? Biar aku yang melakukannya sayang," ucap Zidan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Hanya menatanya di dalam kulkas saja. Jangan memanjakanku terus sayang," ujar Zara. Zidan tertawa kecil dan membawa Zara untuk duduk. Zidan menarik Zara dan ia duduk di pangkuan Zidan.


"Sayang, butuh pembantu berapa? Nanti biar aku suruh Fanny untuk mencarikannya," ucap Zidan.


"Tidak perlu sayang. Aku akan melakukannya sendiri," jawab Zara.


"Tidak boleh!" Tegas Zidan. Zara mendengus kesal saat Zidan tidak mengizinkannya untuk mengurus keperluan sehari-hari mereka. Zidan tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi.


"Tidak apa-apa, aku bisa kok," kekeh Zara. Zidan hanya menggeleng pelan. Ia tidak akan membiarkan Zara mengurus rumah saat sedang hamil seperti ini. Apalagi kali ini dua sekaligus.


Zara merasa lapar. Karena Zidan tidak mengizinkan Zara memasak, mereka akhirnya delivery dari salah satu restoran. Zara hanya menurut saja. Mereka duduk di sofa sambil menonton acara TV. Zidan menyandarkan kepalanya di paha Zara. Tak lama kemudian, makanan yang telah ia pesan datang juga. Zidan mengambil pesanan tersebut lalu membawanya ke ruang tengah tempat Zara berada. Mereka mulai makan dengan lahap. Zidan juga menyuapi Zara.


"Sayang, kenapa kita tidak tinggal di sini saja? Kita juga bisa belajar mandiri kan," ucap Zara. Ia lebih nyaman tinggal berdua dengan Zidan. Karena setiap apa yang dilakukan Zidan padanya tidak akan membuatnya resah dan takut ada yang melihatnya.


"Kamu suka tinggal di sini?" tanya Zidan. Ia tidak keberatan sama sekali jika Zara menginginkan tinggal berdua saja.


"Iya, tapi kalau kamu tidak mau aku juga tidak memaksa," ucap Zara pelan. Zidan tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala Zara dengan lembut.


"Kalau kamu suka tinggal di sini, kita akan tinggal di sini," ucap Zidan. Zara terzenyum lebar.


"Tapi harus ada pembantu yang membantu membersihkan dan mengurus apartemen ini. Kamu tidak boleh mengerjakannya sendirian," sambung Zidan. Zara langsung mengerucutkan bibirnya. Namun ia tersenyum lagi dan memeluk Zidan.


"Terima kasih mas," ucap Zara lalu mengecup pipi Zidan sekilas.

__ADS_1


"Aku suka panggilan tadi," bisik Zidan. Zara tersipu malu karena itu pertama kalinya ia memanggil suaminya seperti itu.


__ADS_2