Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 113 (season 2)


__ADS_3

Zidan dan Zara segera masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan kabar baik ini pada orang tuanya.


"Mom... Mommy..." teriak Zidan tak sabar.


"Ada apa teriak-teriak seperti itu, hm?" ucap Alina sambil berjalan menghampiri mereka yang saat ini berada di ruang tamu. Melihat Alina datang, Zidan langsung memeluknya dengan bahagia. Alina terlihat kebingungan dengan sikap mereka.


"Sebenarnya ada apa? Cerita sama mommy sayang," ujar Alina. Zidan melepas pelukannya dan memperlihatkan hasil USG Zara pagi tadi.


Alina menatap hasil tersebut dan seketika tersenyum lebar. Ia menatap Zidan dan Zara secara bergantian lalu beralih lagi menatap hasil USG itu. Alina menutup mulutnya dengan tangannya serasa tak percaya dengan kabar baik ini.


"I-ini... Zara hamil lagi?" tanya Alina yang masih dalam keterkejutannya. Zidan dan Zara mengangguk.


"Astaga, ini serius kan? Kalian tidak sedang membohongi mommy kan sayang?" tanya Alina tak percaya.


"Untuk apa kami berbohong Mom. Zara memang benar hamil," jawab Zidan.


Alina serasa tak percaya akan secepat ini Zara hamil kembali. Ia begitu senang dengan kabar baik ini. Dan hari ini, ia dikejutkan dengan berita yang luar biasa.


Zidan membawa Zara ke ruang tengah. Mereka duduk di sana. Di rumah hanya ada Alina saja, karena Arvin pergi ke kantor untuk bekerja. Sedangkan Raffa ke kampusnya pagi ini. Alisya juga jarang pulang. Jika ia rindu hanya menghubungi orang tuanya lewat panggilan video. Karena tugas-tugas perkuliahannya yang semakin sulit baginya. Alina juga memaklumi hal ini. Ia juga pernah dalam posisi Alisya.


Tak lama kemudian, ponsel Zidan berdering. Ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Dan itu ternyata telepon dari Fanny. Zidan menjawab telepon tersebut tanpa beralih dari posisinya yang berada di samping Zara. Setelah selesai, Zidan menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam sakunya.


"Sayang, ada hal penting yang harus aku selesaikan di kantor. Kamu tidak apa-apakan jika aku tinggal?" tanya Zidan hati-hati. Ia takut jika Zara tidak mengizinkannya. Apalagi saat ini Zara sedang hamil dan suasana hatinya cepat berubah.

__ADS_1


"Iya, ada mommy di sini, jangan khawatir," jawab Zara. Zidan menghela napasnya lega. Lalu ia menuju ke kamarnya untuk bersiap ke kantor.


Alina menyuruh Zara untuk istirahat saja. Hari ini Zara baru pulang dari rumah orang tuanya. Alina takut Zara akan kelelahan dan berpengaruh pada bayinya. Terlebih lagi saat ini usia kandungan Zara masih rawan.


"Zidan, aku bantu bersiap ya," ucap Zara. Ia mengambil jas dan memakaikannya kepada Zidan. Zidan tersenyum lebar.


"Terima kasih. Kamu mau makan apa nanti? Perlu aku bawa sesuatu setelah pulang kerja nanti?" tanya Zidan. Zara berpikir sejenak. Untuk saat ini ia tidak ingin makan sesuatu atau menginginkan sesuatu.


"Pulanglah lebih awal jika pekerjaanmu sudah beres," balas Zara. Zidan tertawa kecil sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Zara. Ia menarik tubuh Zara agar lebih dekat dengannya. Zidan memiringkan wajahnya dan mulai mengecup bibir Zara dengan lembut. Tak ada nafsu di dalamnya. Hanya kecupan sayangnya kepada Zara. Tak lama Zidan mencium bibir Zara karena ia harus segera ke kantornya.


"Aku akan pulang setelah pekerjaan ini selesai. Kamu jaga diri ya," ucap Zidan sambil menatap Zara dengan lekat. Zara mengangguk pelan. Zidan mengambil tas kerjanya dan pamit untuk pergi ke kantor. Tak lupa juga ia mengecup kening Zara sebelum ia berangkat. Zara hanya mengantar Zidan sampai depan pintu kamarnya. Karena Zidan yang melarang Zara untuk mengantarnya sampai teras rumahnya.


Zidan menuju ke mobilnya dan segera melajukannya dengan kecepatan sedang. Padahal hari ini ia ingin menemani Zara di rumah seharian. Namun pekerjaan ini cukup penting baginya.


"Tumbuhlah dengan sehat sayang... Mama sama papa tidak sabar menanti kelahiranmu," batin Zara. Lalu ia menarik selimut dan berusaha memejamkan matanya meskipun ia tidak merasa mengantuk sama sekali.


***


Sore harinya, Arvin pulang lebih awal daripada biasanya. Ia sengaja karena telah mendapat telepon dari istrinya perihal kehamilan Zara.


"Mas, sudah pulang?" ujar Alina yang melihat Arvin baru masuk ke dalam rumahnya. Zidan langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Alina membantu membuka jas dan melonggarkan dasi suaminya.


"Bagaimana keadaan Zara?" tanya Arvin. Ia beralih menatap Alina.

__ADS_1


"Baik-baik saja mas, dia sedang beristirahat di kamarnya," jawab Alina. Arvin mengangguk paham.


"Sayang, kamu tidak ingin sekalian?" goda Arvin. Alina langsung memukul lengan Arvin dengan bantal yang ada di sofa tersebut. Arvin tertawa kecil melihat tingkah Alina. Selepas kelahiran Alisya, Alina sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Dulu Arvin pernah bersikeras agar Alina hamil kembali, namun Alina tetap kekeh pada keputusannya. Terlebih lagi anak-anaknya yang masih kecil butuh perhatiannya.


"Malu sama umur mas. Masa iya aku bersaing dengan menantuku sendiri, hahaha," ujar Alina. Ia tertawa karena membayangkan jika dirinya juga hamil sama seperti Zara. Bukankah itu terlihat lucu?


Arvin merangkul istrinya. Ia mendekatkan Alina dan kepala mereka saling menyandar satu sama lain.


"Terima kasih sayang, telah menemaniku sampai pada titik ini. Maaf jika aku belum bisa membahagiakanmu baik secara lahir maupun batin. Maaf juga dengan masa lalu kita yang sempat berantakan. Kamu adalah istriku yang terhebat sayang. I love you," bisik Arvin. Ia mengecup puncak kepala Alina sekilas.


Mendengar apa yang diucapkan suaminya, kembali membuatnya sedih. Air matanya menetes, tetapi Alina buru-buru menyekanya. Di sisi lain ia juga bangga memiliki suami yang sabar dan penyayang seperti Arvin.


"Mau makan dulu atau mandi?" tanya Alina.


"Bagaimana kalau memakanmu saja?" goda Arvin. Alina menatap Arvin dengan tajam. Arvin hanya meringis lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Alina hanya menggelengkan kepalanya dan segera menyusul suaminya.


Zara keluar kamarnya karena merasa sangat lapar. Di dalam rahimnya tumbuh dua nyawa sehingga sering membuatnya kelaparan. Zara sama sekali tak memikirkan tentang penampilan tubuhnya.


Zara menuju ke dapur untuk melihat apakah ada makanan di sana. Makanan tersebut sudah tersaji di meja makan. Zara mulai menikmatinya. Ia tidak tahan jika harus menunggu yang lainnya.


Ternyata, Zidan sudah pulang dan berjalan pelan menuju ke ruang makan. Ia tersenyum lebar saat melihat Zara yang sedang makan.


"Makan apa sih, lahap sekali," bisik Zidan yang sudah berada di belakang Zara.

__ADS_1


"Eh, sudah pulang?" ucap Zara sedikit terkejut. Zidan tersenyum dan beralih duduk di samping Zara. Zidan menyuapi Zara sampai makanan yang ada di piring itu habis.


__ADS_2