
"Bi, Alina lelah. Alina ingin istirahat dulu," ucap Alina sambil melepas pelukannya. Bi Narsih mengangguk dan mengantar Alina sampai di depan kamarnya.
Setelah memastikan Alina masuk, bi Narsih kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya dalam hati bi Narsih tak tega melihat Alina yang sedih seperti itu.
Alina menghampiri Barra yang sedang terlelap dalam tidurnya. Alina menarik kursi dengan pelan dan duduk di dekat ranjang bayi. Tangannya mengusap pipi Barra. Alina tersenyum dan air matanya kembali menetes.
"Sayang, mommy kangen sama papa kamu. Apa kamu tidak kangen dengan papa kamu sayang?" ucap Alina lirih sambil memperhatikan anaknya yang dominan lebih mirip dengan Arvin. Lucu dan menggemaskan baginya.
"Mommy takut jika suatu saat nanti mommy akan kehilangan Zidan sayang. Mommy harus bagaimana?" ujarnya lagi merasa sedih.
Andai suaminya itu berada di sampingnya, ia akan menumpahkan kesedihannya kepada suaminya itu. Bisa saja ia menghubungi Arvin dan menyuruhnya untuk segera pulang. Tapi Alina tidak ingin egois, bagaimanapun juga pekerjaan Arvin lebih penting.
"Mas, aku kangen sama kamu," ucap Alina dan menundukkan kepalanya. Ia menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis.
Alina mengecup kening Barra dan bergegas menuju kasurnya. Ucapan Edwin tadi membuatnya sakit kepala.
Alina mencoba memejamkan matanya. Namun sama sekali tak dapat tidur. Alina miring ke kanan ke kiri mencari posisi yang nyaman.
Perkataan Edwin masih terngiang ditelinganya. Alina terduduk dan menyandarkan tubuhnya di ranjang. Tidak, ia tidak boleh gelisah seperti ini. Alina kembali berbaring dan memejamkan matanya.
Entah berapa lama Alina tertidur. Ia merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Alina mengerjap ingin membuka matanya. Perlahan Alina membuka mata dan menatap siapa yang sedang menggangunya.
"Mas?" Alina terkejut karena orang yang ada di sampingnya adalah Arvin.
"A-aku nggak mimpi kan? Kok mas Arvin sudah pulang?" tanya Alina sembari duduk dan menyentuh wajah Arvin.
Arvin tersenyum tipis dan mengecup tangan Alina. Ia menyandarkan tubuhnya ke ranjang dan menarik Alina dalam pelukannya.
"Ini nyata sayang... Ada apa? Kenapa kamu kelihatan sedih?" tanya Arvin.
Kepulangannya kali ini karena mendapat telepon dari bi Narsih yang menceritakan perihal kejadian tadi siang. Sehingga Arvin langsung bergegas pulang dan menyuruh asistennya menggantikan pekerjaannya. Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Arvin hanya terfokus pada Alina dan anaknya. Ia takut terjadi apa-apa pada mereka.
Sesampainya di rumah ia langsung menuju kamar Zidan. Arvin tersenyum lega karena Zidan masih tidur nyenyak di kamarnya. Lalu ia menuju kamarnya untuk melihat Alina.
Saat membuka pintu, ia mendapati istrinya yamg sedang berbaring di atas ranjang. Arvin ingin membangunkan Alina saat itu juga namun ia tidak tega.
Arvin memilih untuk membersihkan diri dan menjaga Barra yang saat itu sudah bangun. Setelah menidurkan Barra kembali, perlahan ia mendekati Alina. Wanita yang akhir-akhir ini selalu ia rindukan. Perlahan tangannya menyentuh pipi Alina. Hingga Alina mengerjap dan membuka matanya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya kangen sama kamu mas," ucap Alina menyembunyikan kejadian tadi siang. Namun juga tak dapat ia pungkiri jika dirinya sangat merindukan Arvin.
"Mas kok sudah pulang?" tanya Alina penasaran. Harusnya Arvin akan pulang dua atau tiga hari lagi.
"Mas khawatir sama kamu sayang," ucap Arvin kemudian mengecup kening Alina.
"Mas sudah tahu?" tanya Alina lagi. Arvin mengangguk dan tersenyum tipis.
"Mas maaf, gara-gara aku kamu harus ninggalin kerjaan kamu," ucap Alina sambil menunduk. Arvin menangkup wajah Alina dan menggeleng. Mengecup bibir Alina sekilas.
Tiba-tiba air mata Alina berlinang. Ia merasa sedih. Arvin memeluk Alina dengan erat.
"Mas, aku nggak mau kalau Zidan diambil orang lain," ucap Alina lirih. Ia mencengkram kuat baju Arvin.
"Nggak ada yang bisa mengambil Zidan dari kamu sayang," ucap Arvin dan mengelus punggung Alina dengan lembut. Menciumi puncak kepala Alina.
"Tapi mas, tadi ayah Erika datang ke sini mau mengambil Zidan," ucap Alina.
"Tapi mas kan ayah dari Zidan. Mas tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya," ucap Arvin. Ia melepas pelukannya dan menatap Alina dengan lekat. Arvin memajukan wajahnya dan mengecup bibir Alina dengan lembut. Melumatnya pelan.
Dua hari setelah itu, Edwin datang lagi ke rumah mereka. Untung saja Arvin sedang di rumah.
"Vin, ayah mau bicara sama kamu," ucap Edwin menatap Arvin. Saat ini mereka berada di ruang tamu. Namun Alina tidak ikut menyambut kedatangan Edwin.
"Bicara saja Yah. Ayah mau bicara soal apa," ucap Arvin tanpa melihat Edwin.
"Ayah mau mengambil Zidan Vin. Ayah tahu kamu adalah ayah kandungnya. Tapi dia juga anak dari mendiang Erika. Cucuku juga. Hanya dia satu-satunya peninggalan Erika Vin. Ayah harap kalian mau memberikan Zidan kepada kami," ucap Edwin to the point.
"Kenapa Yah? Kenapa baru sekarang Ayah mencari Zidan?" tanya Arvin sambil menahan amarahnya.
Edwin hanya diam. Ia menunduk dan wajahnya berubah sendu. Ia bahkan tak punya jawaban untuk pertanyaan itu.
"Kalau dulu setelah kelahiran Zidan ayah ingin mengambilnya, mungkin saat itu juga Arvin akan menyetujuinya Yah. Tapi jika baru sekarang ayah mencari cucu ayah dan ingin membawanya, maaf Arvin tidak bisa!" ucap Arvin penuh penekanan.
"Hahahaha..." Edwin tertawa lepas mendengar ucapan Arvin.
"Kamu jangan lupa, kamu bahkan tidak menyayanginya Vin. Jangan kira ayah tidak tahu bagaimana hubungan kalian setelah menikah dulu!" ujar Edwin dan menatap tajam Arvin. Namun Arvin hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Memang dulu Arvin tak pernah peduli terhadap Erika. Selama pernikahannya ia selalu mengacuhkan Erika. Itu ia lakukan karena dulu ia marah dan tidak terima jika ia menikah dengan Erika.
Namun sejujurnya, Arvin juga tidak ingin Erika meninggal dengan cara seperti itu. Belum sempat Arvin meminta maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan dulu sehingga Erika mengorbankan dirinya sendiri demi anaknya.
"Bagaimanapun juga Zidan adalah anak Arvin. Ayah tidak ada hak untuk mengambilnya!" ucap Arvin penuh penekanan.
Edwin menelepon seseorang. Beberapa saat kemudian muncul dua orang berpakaian serba hitam masuk ke dalam rumahnya.
"Bawa Zidan sekarang!" perintah Edwin. Dua orang tersebut mengangguk dan berjalan menuju ruang tengah di mana Zidan berada.
Arvin berdiri dan segera menghalangi mereka. Namun terlambat, Zidan sudah berada ditangan dua orang tersebut.
"Jika dengan cara halus ayah tidak bisa menambil Zidan, ayah akan mengambilnya secara paksa Vin!" ucap Edwin.
"Bawa dia ke mobil sekarang!" perintah Edwin.
Zidan menangis dan meronta. Alina yang pada awalnya berada di kamar, segera turun dan menghalangi mereka membawa Zidan.
"Mommy..." ucap Zidan sambil menangis.
"Jangan bawa Zidan!" Alina berlari dan mencoba melepaskan Zidan dari tangan mereka.
"Tidak mau! Zidan mau sama mommy..." ucap Zidan menangis.
"Mommy, tolong Zidan," ucap Zidan lagi.
Tiba-tiba dua orang lagi datang dan menahan Arvin serta Alina.
"Ayah tidak bisa membawa Zidan!" teriak Arvin sambil meronta.
"Mas, hentikan mereka mas. Jangan biarkan mereka membawa Zidan mas," ucap Alina sedih.
Namun mereka sudah membawa pergi Zidan entah ke mana. Ternyata Edwin sudah mempersiapkan semua ini. Bahkan mereka tidak bisa menahan Zidan agar tidak dibawa pergi.
Alina menangis, merasa sedih dan tidak rela jika Zidan dibawa secara paksa. Alina memeluk erat Arvin dan menumpahkan kesedihannya.
"Kamu tenang saja, aku akan membawa Zidan kembali lagi. Jangan sedih ya," ucap Arvin sambil mengusap air mata Alina dan mencium kening Alina lama.
__ADS_1