
"Kau tidak ada hak untuk itu Arvin!" teriak Anton. Ia mendorong Arvin agar menjauh darinya. Namun Arvin tidak akan membiarkan Anton menyakiti Zara ataupun Zidan. Karena pertengkaran ini hanya akan menyakiti mereka berdua.
"Bawa Zara kembali ke kamar Zidan! Sekarang!" perintah Arvin dengan tegas. Zidan langsung membawa Zara masuk ke dalam rumah. Diana menatap mereka dengan sedih.
Pertengkaran masih berlanjut. Arvin dan Anton saling beradu mulut. Mereka seperti anak kecil. Anton kekeh untuk membawa Zara pulang kembali sedangkan Arvin mencoba melindungi Zara. Entah apa yang ia lakukan ini benar atau salah, jika Anton sudah membawa Zara pulang ke kediamannya, maka akan sangat sulit bagi Zara ataupun Zidan untuk bertemu.
"Mas, sudah. Jangan bertengkar lagi," ucap Diana. Ia mencoba melerai kedua pria itu. Sedangkan Alina menahan Arvin agar menghentikan semua kegilaan ini. Anton dan Arvin akhirnya berhenti berkelahi. Mereka saling menatap dengan sinis.
"Aku akan kembali lagi untuk membawa putriku dari sini! Ingat itu!" ucap Anton. Ia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Diikuti dengan Diana. Anton menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah keluarga Arvin. Alina membawa Arvin masuk dan mereka duduk di ruang keluarga. Arvin terdiam sejenak. Ia termenung memikirkan cara agar Anton tidak membawa Zara.
Sedangkan di dalam kamar, Zara masih menangis. Zidan berkali-kali mencoba untuk menenangkan Zara agar Zara berhenti menangis. Namun Zara semakin bersedih. Zidan tahu saat ini istrinya berada di dua keputusan yang sulit. Zidan memeluk Zara dari samping. Mereka duduk di tepi ranjang. Zidan membelai rambut Zara dan sesekali mencium puncak kepala Zara.
"Tenanglah, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita sayang," ucap Zidan agar Zara tidak terlalu khawatir.
"Aku bingung, aku harus mendengarkan siapa. Di sisi lain ada kamu, di sisi lain lagi orang tuaku," ucap Zara. Zidan terus membelai rambut Zara agar lebih tenang lagi.
"Iya aku tahu. Tapi kamu juga jangan lupa, saat ini kamu sedang hamil," ucap Zidan lembut. Zara segera mengusap air matanya. Baru tadi pagi dokter memperingatkan Zara agar tidak terlalu banyak pikiran.
"Maaf," ucap Zara lirih. Zidan tersenyum dan menghadapkan Zara padanya. Ia mengecup kening Zara sekilas. Zidan menyuruh Zara untuk istirahat. Ia akan mencoba bernegosiasi dengan orang tua Zara. Zidan tidak ingin menyakiti siapapun. Karena di sini, Zara dan Zidanlah yang akan menjadi korban keegoisan mereka. Hubungan Zara dan Zidan yang dipertaruhkan dalam masalah ini.
Setelah memastikan Zara tertidur, Zidan segera bersiap untuk ke rumah Anton. Ia akan mencoba segala cara agar orang tua Zara tidak memisahkan mereka. Mereka tidak ikut campur dalam urusan para orang tua.
__ADS_1
Zidan pamit pada orang tuanya untuk menemui keluarga Zara. Awalnya Arvin tidak setuju. Arvin bukan mendukung Anton agar Zidan berpisah dengan Zara, namun ia tahu tidak mudah menghadapi Anton. Apalagi Zidan yang sama sekali belum mengenalnya. Tetapi, karena Zidan tetap memaksa, akhirnya Arvin mengizinkan Zidan untuk menemui Anton.
Saat Zidan keluar rumah, ia berpapasan dengan Raffa yang baru saja tiba di rumah. Zidan tidak menghiraukan Raffa dan terus berjalan menuju mobilnya. Raffa menatap Zidan dengan aneh. Tak biasanya abangnya itu mengacuhkannya. Raffa masuk ke dalam rumah dan ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Zidan langsung melajukan mobilnya menuju rumah Anton.
"Pa, bang Zidan kenapa?" tanya Raffa yang sudah duduk di depan mereka. Arvin memijat pelipisnya sejenak.
"Tadi ada sedikit masalah," jawab Arvin. Raffa menatap orang tuanya bingung. Alina memandang suaminya sekilas. Lalu Alina menceritakan kejadian awal hingga akhir. Raffa terkejut, ia tak percaya jika orang tua Zara setega itu.
"Pantas saja bang Zidan terlihat khawatir," batin Raffa. Setelah itu ia pamit untuk pergi ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Zidan sudah sampai di depan rumah Anton. Beberapa kali ia membunyikan klakson mobilnya agar satpam yang menjaga pintu gerbang segera membukakannya. Mendengar suara klakson mobil, satpam tersebut langsung membukakan pintu gerbangnya.
"Waahh, ganteng banget. Dia ini siapa? Dan mau apa ke sini? Apa dia rekan bisnis papa?" batin Syifa terpesona.
"Maaf, apa saya bisa bertemu dengan tuan Anton?" ucap Zidan dingin. Syifa sedikit gelagapan dan akhirnya menyuruh Zidan masuk ke dalam. Syifa menuju ke kamar orang tuanya untuk memberitahu kedatangan pria itu.
"Oh iya, kenapa aku tidak menanyakan siapa namanya?" ucap Syifa sambil menaiki anak tangga satu persatu. Hingga tibalah ia di depan pintu kamar orang tuanya.
"Pa, ada yang mencari papa di bawah," ucap Syifa.
Anton keluar kamar dan bertanya siapa yang mencarinya, namun Syifa hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu. Anton segera menuju ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Waahh, tidak disangka ternyata tuan muda dari Mahardika Corp," ujar Anton sedikit meledek. Ia tersenyum sinis dan kini duduk di ruang tamu dengan angkuh.
Diana keluar kamarnya dan bertanya pada Syifa siapa yang datang. Lagi-lagi Syifa menjawab tidak tahu. Diana segera menyusul suaminya ke ruang tamu. Syifa mengendap pelan dan ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Rasa penasarannya membuatnya ingin tahu segalanya.
"Anda terlalu sopan tuan. Bagimanapun juga, saya adalah menantu Anda," jawab Zidan ramah.
"Saya hanya ingin membuat kesepakatan pada Anda. Jika Anda masih ingin menemui Zara, maka jangan pernah memaksanya untuk bercerai. Jika tidak, selamanya Anda tidak akan pernah bisa menemui Zara," ucap Zidan tegas dan tanpa basa-basi. Anton tertawa kecil.
"Kau tidak ada hak untuk bernegosiasi denganku. Apalagi soal Ziva putriku! Aku yang berhak menentukan siapa yang akan mendampinginya!" ujar Anton penuh penekanan. Sedangkan Diana hanya menjadi pendengar setia.
"Zara? Siapa dia? Kenapa papa sama mama begitu tegang?" batin Syifa semakin penasaran.
"Saya adalah suaminya! Jadi saya punya hak atas itu semua! Ingat, ini adalah perjanjian terakhir kita. Jika tidak mau, jangan harap untuk bisa menemui Zara!" tegas Zidan.
"Mas, sudahlah. Ziva juga sedang mengandung. Tidak baik membuatnya khawatir terus. Apa kamu mau selamanya kita tidak bisa bertemu dengan Ziva?" ucap Diana. Anton menghela napasnya pelan.
"Baiklah, karena istri saya yang meminta, saya akan menyetujuinya. Tetapi, biarkan Zara tinggal di rumah ini selama beberapa hari dulu. Setelah itu, kamu bebas untuk menemuinya," ujar Anton.
"Jangan mengingkari janji Anda. Jika Anda main-main dengan saya, saya pasti akan menghancurkan bisnis Anda!" ancam Zidan. Ia segera pulang dari tempat itu.
"Cih, ingin membuatku hancur? Bukan aku tapi kamu Zidan," batin Anton dan ia menyeringai menatap kepergian Zidan.
__ADS_1