Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 48 (season 2)


__ADS_3

Zidan membawa paksa Zara masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Ia tidak peduli dengan mereka yang akan mencari keberadaannya ataupun Zara.


"Lepasin aku Zidan. Kenapa kamu membawaku ke sini?" ucap Zara. Zidan melepaskan genggaman tangannya. Ia menatap Zara dengan sendu begitu juga Zara.


"Zara, aku minta maaf sama kamu," ucap Zidan dengan lembut. Zara memalingkan wajahnya. Ia masih sakit hati dengan perkataan Zidan terakhir kali.


"Untuk apa kamu minta maaf. Semua yang kamu katakan waktu itu benar kok. Aku bukan wanita yang tepat untukmu," balas Zara. Ia menahan rasa sesaknya di dada. Zara meneteskan air matanya.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau kamu dan Raffa sebenarnya adik kakak?" tanya Zara.


"Karena kamu juga tidak pernah bertanya soal itu. Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu kalau kamu dan Raffa satu kelas," jawab Zidan jujur.


"Zara, memang semua yang aku katakan padamu waktu itu sangat menyakitkan. Tapi aku terpaksa melakukan itu. Semua ini karena Karina," ujar Zidan. Ia mendekati Zara. berusaha meraih tangan Zara namun Zara lebih dulu mundur menghindari Zidan.


"Untuk apa menjelaskan itu sekarang? Semua sudah terjadikan? Aku mohon Zidan, biarkan aku keluar. Jika ada orang yang melihat kita di sini akan tidak baik," ujar Zara datar. Bahkan sama sekali tak menatap Zidan yang jelas di hadapannya saat ini.


Zidan menghela napasnya sejenak. Ia beralih duduk di tepi ranjang. Ia tahu jika dirinya sudah melukai Zara. Ia memang tak pantas untuk dimaafkan. Zara benar, tidak ada gunanya juga ia menjelaskan sekarang.


"Kamu harus ingat, kita tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi, tolong jangan pernah hubungi aku atau berusaha mencariku," ujar Zara. Ia berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar itu.


"Apa kamu tidak bisa memaafkanku Zara?" tanya Zidan. Zara menghentikan langkahnya. Ia mencengkram gagang pintu.


"Sebenarnya apa yang kamu mau Zidan? Kemarin kamu mencampakkanku, tetapi hari ini kamu mendekatiku lagi," batin Zara sedih.


Zara membuka kunci pintu tersebut dan berjalan keluar kamar tanpa menanggapi pertanyaan Zidan. Ia butuh waktu untuk menerima keadaan ini.


Bertemu dengan Zidan membuat suasana hatinya memburuk. Ia ingin pulang karena jika ia lama-lama di rumah ini, mungkin Zidan akan datang mengganggunya lagi. Setelah mengucapkan selamat kepada Barra dan Kayla, Zara pamit pada Alina dan Arvin.


"Tante maaf, Zara permisi pulang, Zara tiba-tiba tidak enak badan," pamit Zara.

__ADS_1


"Kenapa sayang? Istirahat di sini dulu saja. Biar Alisya yang menemani kamu. Atau mungkin kamu belum makan?" ujar Alina panik.


"Iya Zara, istirahatlah di sini. Anggap saja rumah sendiri. Kamu kan juga sudah sering datang ke rumah kami. Jangan sungkan lagi," tutur Arvin.


Zara merasa tidak nyaman jika masih berada di sini. Ia hanya bingung bagaimana menyikapi Zidan jika bertemu nanti. Zara belum siap memaafkan Zidan.


"Ti-tidak perlu. Lain kali saja Zara akan ke sini lagi. Maaf, Zara harus pamit sekarang," ucap Zara sopan. Ia segera melangkah meninggalkan Alina dan Arvin. Alina dan Arvin saling pandang dan mengangkat bahunya pertanda tak mengerti dengan perubahan sikap Zara.


Hari semakin siang. Para tamu undangan sudah mulai pulang. Tinggal Kayla dan orang tuanya yang masih tersisa. Mereka mengobrol santai di ruang tengah. Sedangkan Zidan hanya terdiam tanpa semangat.


"Jadi, kapan kakaknya ini menyusul? Masa sudah waktunya menikah belum juga punya calon," gurau Risti. Zidan hanya diam saja. Sedangkan Alina langsung menatap Zidan.


"Yah, kalau itu terserah anaknya saja. Kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa juga," jawab Arvin. Risti mengangguk.


"Kalau begitu, kami pamit pulang duluan. Terima kasih sudah menerima Kayla sebagai menantu kalian," ucap Risti ramah. Alina dan Arvin tersenyum. Kini Kayla dan keluarganya sudah pulang.


Tak lama setelah itu, Zidan juga pamit untuk kembali ke apartemennya. Zidan hanya ingin menyendiri saat ini. Apartemen adalah tempat yang pas baginya.


"Kenapa mendadak sekali? Apa tidak bisa menginap di sini lebih lama lagi?" ucap Arvin.


"Zidan juga harus bekerja Pa, lain kali Zidan ke sini lagi," jawab Zidan. Arvin hanya pasrah.


Zidan beralih menemui Alina untuk pamit pulang.


"Mom," panggil Zidan. Ia memeluk Alina secara tiba-tiba. Alina tersenyum dan mengusap punggung Zidan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Zara, sayang? Apa perlu mommy melamarnya untukmu, hem?" ucap Alina. Zidan tersenyum lalu melepas pelukannya.


"Bukan sekarang Mom. Zara marah sama Zidan. Zidan bingung harus berbuat apa. Zidan tahu Zidan salah. Tapi Zidan melakukannya juga karena terpaksa," ucap Zidan sedih.

__ADS_1


Alina menangkup wajah Zidan.


"Mommy percaya sama kamu sayang. Jika kamu benar-benar mencintainya kejarlah ia kembali, seperti papamu mengejar mommy dan berusaha meyakinkan mommy agar kembali pada papamu," ucap Alina. Bagaimanapun ia tahu rasa sakit itu. Alina berusaha sebisa mungkin untuk menyatukan mereka kembali.


"Terima kasih Mom," ucap Zidan. Ia kembali memeluk Alina.


Sebelum pulang, Zidan menemui Raffa terlebih dahulu. Ia hanya ingin bertemu dan memeluk adiknya itu.


"Jaga mommy baik-baik. Jika ada apapun jangan lupa kabari abang. Dan, terima kasih sudah mau menjaga Zara selama ini," tutur Zidan. Ia menepuk bahu Raffa. Zidan tersenyum ke arah Raffa.


"Bang Zidan juga jaga diri baik-baik. Jangan sakiti dia lagi bang," ujar Raffa. Zidan mengangguk dengan pasti.


Zidan keluar rumah dan menuju mobilnya yang sudah ada Fanny di sana. Raffa menatap kepergian Zidan.


Dalam perjalanan menuju apartemen, Zidan hanya termenung saja. Ia tak punya semangat seperti biasanya.


"Maaf tuan muda. Apa tidak sebaiknya tuan muda menjelaskan hal ini sampai detail kepada nona Zara?" tanya Fanny hati-hati.


Zidan menghela napasnya pelan. Ia memejamkan matanya sejenak.


"Untuk apa Fan? Mungkin seperti ini lebih baik," jawab Zidan. Fanny hanya menghela napasnya pelan. Ia memilih untuk diam.


"Bukankah dengan menjelaskannya kepada nona Zara, tuan muda akan lebih punya kesempatan lagi untuk mendapatkan nona Zara," ujar Fanny lagi.


"Fan, apa kamu begitu senggangnya hingga mengurusi masalah pribadiku?" ucap Zidan ketus.


"Tidak tuan muda. Maafkan saya," balas Fanny.


Tak lama, mereka sudah sampai di apartemen. Zidan menyuruh Fanny untuk pulang. Tak perlu menemaninya di sini. Fanny hanya mengangguk pasrah. Zidan tak lupa mengunci pintu apartemennya. Ia belum siap kehilangan Zara. Ia juga tidak rela Zara meninggalkannya.

__ADS_1


Zidan duduk bersandar di sofa yang terletak di ruang tengah. Zidan memijat pelipisnya.


"Aku harus mendapatkanmu kembali Zara! Tak apa sekarang kamu tidak memaafkanku, tetapi aku sungguh-sungguh denganmu," batin Zidan.


__ADS_2