Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 85


__ADS_3

Pagi hari setelah menyusui Barra dan ingin memasak di dapur, ia merasakan perutnya sangat sakit. Alina memegangi perutnya dan bersandar ke pintu kamarnya yang hampir terbuka.


Alina berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang. Setelah dirasa perutnya sudah cukup mendingan, ia berjalan kembali menuju dapur.


"Nyonya, ada apa?" tanya bi Narsih yang melihat wajah Alina pucat.


"Hanya lelah bi," ujar Alina dan tersenyum tipis.


"Biar saya saja nyonya, nyonya istirahat saja," ucap bi Narsih yang takut Alina kenapa-napa.


Alina menggeleng dan bersikeras untuk menyiapkan sarapan. Namun kali ini dibantu oleh bi Narsih. Setelah selesai memasak, Alina merasa mual dan ingin muntah. Alina segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya.


Alina mengernyit menahan sakit di bagian perut. Pikirannya mengingat-ingat apakah ia telah salah makan. Namun ia sama sekali tidak merasa seperti itu.


"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja?" tanya bi Narsih sambil mengetuk pintu kamar mandi. Bi Narsih nampak khawatir.


Alina keluar kamar mandi dengan tubuh yang lemas sambil memegangi perutnya.


"Astaga nyonya, ayo bibi antar sampai kamar," ucap bi Narsih dan memapah Alina.


Sesampainya di kamar, mereka tidak melihat Arvin di ranjangnya. Mungkin Arvin sedang mandi. Alina merebahkan tubuhnya dan bi Narsih membantu menyelimuti Alina.


"Sayang? Kenapa?" tanya Arvin yang baru keluar kamar mandi. Ia mendekat ke arah Alina.


"Maaf tuan, nyonya sepertinya sedang sakit. Nyonya habis muntah dan perutnya sakit," jawab bi Narsih sambil menunduk.


"Bi, hubungi dokter untuk segera ke sini," perintah Arvin dan ia duduk di tepi ranjang. Bi Narsih mengangguk dan keluar kamar.


Arvin menempelkan punggung tangannya ke dahi Alina. Tidak panas sama sekali. Ia mengusap dahi Alina dengan lembut.


"Apanya yang sakit sayang?" suara Arvin melembut. Alina hanya memejamkan matanya meskipun ia tidak mengantuk.

__ADS_1


"Perutku sakit mas," gumam Alina lirih.


Selang beberapa menit, dokter yang ditelepon oleh bi Narsih sudah datang. Meskipun ini terlalu pagi, sebagai seorang dokter profesional ia harus tetap memeriksanya.


"Tuan, ini dokter Santoso sudah datang," suara bi Narsih dari dekat pintu. Arvin menoleh dan menyuruh dokter itu masuk ke dalam. Arvin berdiri dan mempersilakan dokter pribadi keluarganya memeriksa kondisi Alina.


"Apa ibu Alina sempat makan makanan yang terlalu pedas sebelumnya?" tanya dokter itu yang sudah selesai memeriksa.


Alina mengangguk dengan ragu. Arvin teringat bahwa semalam Alina sempat makan mie kuah pedas. Ia menatap Alina dengan tajam.


"Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Asam lambung dari bu Alina sedang naik. Itulah yang menyebabkan bu Alina sakit perut dan mual. Istirahat beberapa hari dan makan makanan dengan teratur itu sudah cukup," jelas dokter Santoso.


"Ini obat untuk bu Alina, saya pamit dulu pak Arvin," ucap dokter itu dan pamit undur diri.


Alina merasa bersalah. Baru semalam ia makan mie dengan kuah pedas, ia justru sakit. Pasti setelah ini Arvin akan memarahinya, pikirnya.


Arvin menghela napasnya sejenak dan duduk di tepi ranjang. Ia masih menatap Alina dengan lekat.


"Mas, aku minta maaf. Kan kemarin malam yang masak kamu sendiri juga," ujar Alina lirih.


"Iya sayang, tapi lihatlah. Lambungmu tidak kuat sayang. Lain kali tidak boleh makan mie lagi apapun itu!" peringatan Arvin. Alina hanya mengangguk pasrah.


Arvin berjalan ke almari, ia mengambil baju ganti. Sebenarnya hari ini ada meeting penting. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Alina sendirian apalagi sambil menjaga Barra.


"Loh mas, kenapa ngambil baju lagi? Bukannya mas sudah siap mau ke kantor?" tanya Alina yang mendapati Arvin akan masuk ke kamar mandi.


"Hari ini aku izin. Temani kamu di rumah sayang," ujar Arvin dan masuk ke kamar mandi lagi untuk ganti baju.


"Pagi mommy..." ucap Zidan sambil berlari ke arah Alina.


"Pagi sayang," jawab Alina dan mencium kening Zidan.

__ADS_1


"Mommy sakit apa?" tanya Zidan khawatir. Alina tersenyum dan menangkup wajah anaknya itu.


"Mommy sehat kok, hanya sedikit lelah sayang," jawab Alina.


"Apa Zidan yang membuat mommy capek?" tanya Zidan kembali dan kini ia menjadi sedih. Alina merengkuh Zidan dan menciumi puncak kepala Zidan. Bagaimana bisa Zidan bisa mengira bahwa ini semua gara-gara dirinya. Ini karena Alina yang terlalu ceroboh sehingga makan makanan sembarangan.


"Dengar sayang, Zidan bukan penyebab mommy sakit, oke? Mommy baik-baik saja. Besok pasti sudah sembuh," ucap Alina dengan lembut.


Arvin keluar kamar mandi dan sudah berganti dengan baju santai. Ia mendekat ke arah Zidan dan Alina.


"Hari ini Zidan diantar oleh sopir dulu ya?" ucap Arvin yang kini berjongkok di depan Zidan. Zidan mengangguk paham.


Arvin membawa Zidan untuk sarapan terlebih dahulu karena atas permintaan Alina. Sedangkan Alina masih berbaring di atas ranjangnya.


Beberapa menit kemudian, Arvin kembali lagi dengan membawa nampan berisi bubur yang baru saja dibuat oleh bi Narsih. Bukannya malah istirahat, Alina justru sedang menggendong Barra dan tengah menyusuinya karena tadi sempat rewel.


"Biar aku yang jaga sayang, kamu istirahatlah," ucap Arvin mengambil alih Barra.


"Tapi mas, kasihan Barra," ucap Alina yang tak tega jika ia harus istirahat dan mengabaikan Barra.


"Ada aku yang jagain sayang," kekeh Arvin.


"Makanlah dan minum obatnya biar cepat sembuh," suruh Arvin dan mengecup kening Alina.


Setelah melihat Alina memakan buburnya, dengan hati-hati Arvin membaringkan Barra di ranjang kembali. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asistennya bahwa ia tidak bisa datang ke kantor hari ini.


Seharian Arvin hanya menjaga Alina dan Barra saja. Ia tidak melakukan aktivitas lainnya. Ia baru tahu rasanya menjadi ibu itu sangat melelahkan. Bagaimana Alina bisa melewati hari-harinya yang bahkan untuk istirahat saja jarang. Arvin menatap Alina senang. Istrinya begitu pengertian dan tak mengeluh padanya sama sekali. Padahal jika dirinya berada diposisi Alina mungkin ia tidak akan sanggup menjalani harinya.


Arvin merenggangkan otot-ototnya yang merasa lelah juga. Ini bahkan lebih buruk daripada ia bekerja di kantor setiap harinya. Mungkin saja karena Arvin belum terbiasa, itu sebabnya ia merasa tugas sebagai ibu rumah tangga itu tugas yang berat.


"Terima kasih sayang," bisik Arvin sambil mengusap kepala Alina yang sedang tertidur.

__ADS_1


Beberapa kali Barra rewel karena mungkin belum terbiasa bersamanya selama berjam-jam seperti ini. Namun ia sebisa mungkin tidak mengganggu Alina yang sedang tidur. Ia ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab. Yang bisa menggantikan tugas istri jika istrinya lagi sakit. Meskipun masih terlihat kaku dan bingung menenangkan Barra yang rewel.


__ADS_2