Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 87


__ADS_3

Sudah 12 hari Arvin ke luar kota. Lusa ia rencananya akan pulang dari dinasnya. Itu membuatnya senang. Ia tak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang selalu ia rindukan.


Hari ini Alina ingin kembali ke rumahnya sendiri. Sudah terlalu lama ia merepotkan orang tuanya. Sedangkan Dewi sudah pulang dari tiga hari kemarin.


"Kenapa tidak menunggu sampai suamimu pulang saja sayang?" tanya Soraya membantu Alina mengemas pakaiannya.


"Nggak apa-apa Ma. Alina sudah terlalu lama tinggal di sini," balas Alina dan tersenyum tipis.


"Kamu yakin bisa menjaga mereka berdua?" tanya Soraya memastikan.


"Iya Ma, di rumah juga ada bi Narsih dan bi Mira kok," balas Alina.


Soraya mengangguk. Semua barang sudah masuk ke dalam kopernya. Mereka berjalan keluar kamar menuju mobil.


"Kamu hati-hati. Sering datang ke sini dong, mama kesepian loh di rumah sendiri," ucap Soraya sebelum Alina pulang diantar oleh sopir.


"Iya Ma, maaf ya Alina jarang ke sini," balas Alina dan Soraya memeluknya.


"Nenek, Zidan pulang dulu ya," pamit Zidan sambil mencium tangan Soraya. Soraya mengusap puncak kepala Zidan.


"Kalian hati-hati ya," ujar Soraya yang sebenarnya tak ingin Alina pulang secepat ini. Tapi bagaimana lagi, putrinya ini sudah mempunyai keluarga kecil yang harus ia urusi.


Zidan masuk ke dalam mobil disusul dengan Alina yang menggendong Barra. Sopir melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Saat mobil mereka sampai di depan rumah, Alina penasaran dengan mobil yang sudah terparkir di halamannya ini.


"Pak, tolong bawa barangnya ke dalam ya," ucap Alina kepada sopir yang mengantarnya tadi. Sopir itu mengangguk dan membawa barang Alina ke dalam.


"Ayo sayang," ajak Alina sambil menggenggam tangan Zidan.


"Selamat siang bu Alina," ucap sesosok laki-laki paruh baya dengan setelan jasnya.

__ADS_1


"Siang. Siapa ya?" tanya Alina yang merasa tidak mengenal orang yang sedang bertamu di rumahnya.


"Bi, tolong bawa Zidan dan Barra masuk dulu," ujar Alina dan bi Mira segera datang untuk membawa anaknya ke kamar.


Laki-laki paruh baya tersebut tersenyum. Alina hanya mengernyitkan dahinya. Ia berpikir mungkin kolega bisnis suaminya.


"Perkenalkan saya Edwin Pranogo. Saya adalah ayah dari mendiang Erika, mantan istri dari suami kamu," ucap Edwin memperkenalkan diri.


"Oh, iya tuan. Saya istri baru dari pak Arvin," balas Alina.


Mendengar siapa laki-laki yang ada dihadapannya ini mengingatkan Alina akan perjalanan cintanya yang pahit. Karena Erikalah ia harus berpisah dengan Arvin. Tiba-tiba ia memiliki firasat yang tidak baik. Entah apa yang membuat laki-laki yang mengaku ayah dari Erika datang ke sini.


"Apa anak kecil tadi adalah Zidan?" tanya Edwin dan tersenyum kecil ke arah Alina.


Deg


"Mau apa orang ini bertanya tentang Zidan? Apa maksud kedatangannya ini?" Batin Alina bergemuruh. Ia takut jika laki-laki yang saat ini berada tepat dihadapannya akan berbuat sesuatu yang akan menyakiti keluarganya. Terlebih lagi Arvin tidak ada di rumah.


Edwin menghela napasnya sejenak. Tergurat rasa sedih dalam wajahnya. Tatapannya berubah sendu. Ada rasa kecewa dan sedih yang berusaha disembunyikannya.


"Erika adalah putri saya satu-satunya. Setelah kepergian Erika, istri saya setiap hari sedih. Dia sangat ingin bertemu dengan cucunya. Tapi istri saya takut jika harus berhadapan dengan Arvin. Hari ini saya memberanikan ke sini karena saya ingin mengambil Zidan. Dia adalah putra satu-satunya dari anak saya," ungkap Edwin kepada Alina.


"Hah? Tuan Edwin ingin mengambil Zidan?" tanya Alina tak percaya.


"Tolong, biarkan Zidan tumbuh besar bersama saya dan istri saya. Saya tahu kamu adalah orang yang baik. Kalian masih bisa mempunyai anak lagi kan?" ujar Edwin memelas.


Alina meremas jemarinya. Anak yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Yang bahkan sangat ia sayangi akan diambil oleh orang tua Erika. Dalam hal ini Alina tidak bisa memutuskan begitu saja. Ia tidak rela jika Zidan pergi dari sisinya.


"Maafkan saya tuan. Saya tidak bisa menyerahkan Zidan kepada Anda," ucap Alina tegas.


"Kenapa? Dia bukan anak kandung kamu. Siapa yang tahu kamu menyayanginya atau tidak. Lagipula kalian adalah pasangan baru menikah kan? tak masalah jika Zidan saya ambil. Kalian masih bisa punya anak lagi," ucap Edwin.

__ADS_1


Alina mengepalkan tangannya. Memang benar Zidan bukanlah darah dagingnya. Tapi Alina memang tulus menyayangi Zidan bahkan sebelum ia tahu bahwa Zidan adalah putra suaminya. Laki-laki dihadapannya ini sama sekali tidak tahu bagaimana perjuangannya membesarkan Zidan. Dengan seenknya ingin mengambil Zidan dari sisinya.


"Maaf, semua itu suami saya yang putuskan. Saya tidak bisa mengambil keputusan sebesar ini tuan. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Alina dengan sopan.


"Dia sama sekali bukan anak kamu! Jadi kamu tidak ada hak untuk menahannya seperti itu! Setuju atau tidak, saya akan tetap mengambil Zidan! Meskipun Arvin akan menghalangi, saya akan tetap mengambilnya. Karena dia adalah anak dari Erika, putri saya!" Kini suara Edwin berubah dingin.


Edwin memaksa Alina agar mengizinkannya membawa Zidan.


"Jangan lupa jika suami saya adalah ayah kandungnya. Maaf, saya tidak bisa memberikan apa yang Anda minta tuan," ujar Alina kekeh mempertahankan Zidan.


"Heh, lihat saja. Saya akan datang lagi ke sini untuk mengambil Zidan! Saya tidak akan biarkan cucu saya diasuh oleh orang seperti kamu! Orang yang telah menghancurkan pernikahan anak saya!" ucap Edwin dan ia keluar dari rumah Alina tanpa pamitan.


Jederrr!!


Bagaimana tidak sedih jika ada orang yang mengklaim dirinya sebagai perusak pernikahan orang lain. Selama ini Alina sudah berusaha melupakan dan menjauhi Arvin. Tapi nyatanya takdir berkata lain hingga mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.


"Bukan aku yang menghancurkan pernikahan mereka. Bukan aku, aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang hubungan mereka selama ini," gumam Alina merasa ketakutan.


Bi Narsih menghampiri Alina ingin melihat apa yang telah terjadi padanya. Alina terlihat begitu ketakutan.


"Nyonya, ada apa? Apa yang telah terjadi nyonya?" tanya bi Narsih yang saat ini sudah berada di samping Alina.


Alina menitikkan air matanya. Entah apa yang membuatnya sedih. Antara ia takut kehilangam Zidan atau merasa sedih dengan tuduhan dari Edwin, ayah Erika.


"Bi, apa Alina adalah orang yang jahat?" tanya Alina menatap sendu ke arah bi Narsih.


"Kenapa nyonya berkata seperti itu? Nyinya sangat baik selama ini," ujar bi Narsih dan memeluk Alina. Alina menumpahkan kesedihannya kepada bi Narsih.


"Alina nggak mau berpisah dengan Zidan bi. Alina sudah menyayangi Zidan. Orang itu datang ingin mengambil Zidan bi, Alina harus bagaimana?" ucap Alina yang masih terisak dalam pelukan bi Narsih.


Bi Narsih juga ikut menangis. Seakan bisa merasakan kesedihan Alina.

__ADS_1


__ADS_2