
"Sayang, kita ke dokter saja yuk. Mas nggak tega lihat kamu seperti ini." Untuk kesekian kalinya Arvin menawarkan periksa ke dokter.
"Nggak mas! Jangan ke dokter ya. Aku mohon, aku nggak apa-apa," jawab Alina dengan panik. Matanya berkaca-kaca. Arvin tak tega melihatnya. Ia merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
Arvin semakin curiga dengan perubahan sikap Alina. Dirinya semakin bertanya-tanya apa yang sedang disembunyikan istrinya itu.
"Apa mungkin kamu sedang hamil sayang?" tanya Arvin yang menatap Alina dengan lekat.
Alina terdiam sejenak. Ia meremas jemarinya dengan gugup. Harusnya apapun yang terjadi ia lebih terbuka dengan suaminya. Namun nyatanya Alina masih belum mampu untuk mengiyakan pertanyaan Arvin tersebut.
"Nggak mungkin mas. Jangan ngaco ah," jawab Alina sambil keluar dari kamar mandi.
"Kok ngaco sih? Kamu hampir setiap hari mual dan muntah loh. Bukankah itu salah satu tanda jika hamil lagi? Atau kita periksa ke dokter saja biar lebih jelasnya," ungkap Arvin yang masih berusaha mengetahui apa yang sedang istrinya ini sembunyikan.
"Aku bilang nggak perlu ya nggak mas," ucap Alina sedikit kesal. Suasana hatinya sedang tidak baik kali ini. Alina meninggalkan Arvin yang masih berada di meja makan. Ia sudah tak ada selera untuk menyantap makanan tersebut.
Arvin menghela napasnya sedikit kasar. Ia memilih melanjutkan makannya terlebih dahulu.
Di kamar, Alina menutup pintunya dengan rapat. Rasa bingung masih menghantuinya. Seberapa berusahanya Alina menutupi hal ini pasti kelak Arvin akan mengetahuinya juga. Apa susahnya menceritakan soal kehamilannya saat ini. Tapi Alina benar-benar belum siap untuk itu. Itulah mengapa ia tidak segera memberitahu suaminya.
Alina terduduk di lantai dekat ranjangnya. Ia menangis menumpahkan kesedihannya. Sudah terlambat, dirinya sudah terlanjur mengandung. Alina mengusap perutnya dengan lembut.
"Kenapa harus sekarang sayang kamu hadir di dalam perut mommy? Maafkan mommy harus menyembunyikanmu terlebih dahulu," ucap Alina dengan pilu.
Tak lama setelah itu, tersengar suara isak tangis Raffa. Alina segera menghapus air matanya. Ia menghampiri Raffa dan menggendongnya. Membayangkan jika Raffa yang masih sekecil ini mempunyai adik lagi rasanya ia tak sanggup. Alina menciumi putranya itu dengan gemas.
Arvin yang merasa Alina butuh waktu untuk sendiripun memilih menghampiri kedua anaknya. Ia ingin memberikan waktu luang sejenak untuk Alina. Agar nanti jika Alina sudah baikan akan menceritakan keluh kesahnya padanya.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat. Hari sudah semakin sore menjelang malam. Suasana hari ini memang sedikit berbeda dari biasanya. Alina yang selalu ceria tiba-tiba saja lebih pendiam dan melamun. Arvin semakin yakin jika ada yang tidak beres dengan istrinya. Namun ia takut jika bertanya langsung kepada Alina. Ia takut Alina marah padanya seperti tadi.
"Sayang, bolehkah aku keluar sebentar? Ada urusan yang harus aku selesaikan sebentar," ucap Arvin kepada Alina dengan lembut.
"Mau ke mana mas?" tanya Alina penasaran.
"Ada masalah sedikit di kantor. Tadi Farhan yang memberitahu mas," ucap Arvin berbohong.
"Ya sudah, hati-hati mas," ujar Alina. Arvin mengecup kening Alina sekilas kemudian beranjak menuju mobilnya. Alina tak merasa curiga sedikitpun.
Begitu sampai di dalam mobil, Arvin segera menghubungi seseorang. Ia meminta untuk bertemu sekarang juga.
"Apa kamu luang hari ini?" tanya Arvin pada seseorang dibalik teleponnya.
"Ada apa?" tanya seseorang itu.
"Apa? Hei, aku juga butuh siap-siap terlebih dahulu!" protes seseorang tersebut.
"Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu!" ujar Arvin dan langsung mematikan ponselnya. Ia segera melajukan mobilnya menuju kafe yang biasa ia kunjungi.
"Selalu saja memaksa!" gerutu seseorang tersebut.
Karena Arvin bilang sudah dalam perjalanan, dokter Santoso menjadi panik. Ia dengan terburu-buru menuju kafe yang biasa ia kunjungi bersama Arvin dulu. Ya, seseorang yang Arvin hubungi tadi adalah dokter Santoso.
"Cepat juga kau," ujar Arvin terkekeh ke arah dokter Santoso. Arvin duduk dan posisi mereka saling berhadapan.
"Ada hal apa kamu memintaku untuk datang ke sini?" tanya dokter Santoro tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan, istriku akhir-akhir ini terlihat tidak sehat. Bahkan hampir tiap pagi dia mual dan muntah. Terkadang juga mengeluh pusing. Apa kemungkinan dia hamil lagi?" tanya Arvin dengan serius.
"Kenapa tanya padaku? Kenapa tidak bawa dia cek ke rumah sakit saja agar lebih jelas? Bodoh!" jawab dokter Santoso.
"Tapi masalahnya istriku tidak mau periksa ke dokter. Dia selalu menolak jika aku memintanya untuk periksa," ujar Arvin. Ia menghela napasnya pelan.
"Alasannya?" tanya dokter Santoso sambil mengernyitkan dahinya.
Arvin memejamkan matanya sejenak. Ia bersandar di kursinya.
"Entahlah," Arvin mendesah pelan.
"Tetapi jika dilihat dari apa yang dirasakan istrimu itu adalah tanda kehamilan," terang dokter Santoso. Arvin menghela napasnya dengan kasar. Jika memang benar Alina hami kembali, lalu mengapa Alina menutupi kabar baik itu darinya?
"Sebaiknya segera periksakan ke dokter saja. Aku bukan dokter kandungan, tapi aku yakin jika istrimu hami lagi," terang dokter Santoso. Ia meneguk minuman yang sebelumnya ia pesan. Arvin hanya mengangguk pelan.
Dokter Santoso memberikan beberapa nasihat terkait Arvin. Mereka mengobrol dengan santai. Tanpa terasa hari semakin larut Arvin segera pulang.
Sampainya di rumah, Alina dan anak-anaknya sudah tertidur. Perlahan ia mendekati istrinya dan memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur. Arvin tersenyum tipis. Entah kenapa tangannya menyentuh perut Alina. Ia mengusapnya dengan pelan dan lembut. Ia segera berbaring di samping istrinya untuk istirahat.
Tengah malam, Alina terbangun karena merasa lapar. Dirinya duduk dan bersandar di ranjang. Ia menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan saat ini. Tetapi, tiba-tiba ia ingin makan brownis. Masalahnya di rumahnya tidak ada kue itu. Alina duduk sambil mengetuk meja dengan kukunya. Haruskah ia membuat kue itu sekarang? Atau membangunkannya untuk mencarikan kue yang ia inginkan? Cukup lama ia berpikir akhirnya memutuskan untuk membuatnya. Lagipula ini sudah larut, ia juga tak ingin membangunkan suaminya.
Alina mulai mempersiapkan alat dan bahannya. Ia dengan lihai membuat brownis yang ia inginkan. Setelah cukup lama ia berkutat di dapur, akhirnya kue itupun jadi. Alina segera memakannya dengan lahap.
Namun tanpa ia sadari, Arvin telah memperhatikannya sedari Alina bangun tidur hingga menuju ke dapur. Ia ingin menghampiri Alina namun ia urungkan. Jika Alina tidak membangunkannya, itu berarti Alina tidak ingin suaminya tahu tentang ini. Tapi kenapa? Pikiran Arvin semakin berputar-putar mencari jawabannya.
"Kenapa kamu menyembunyikannya dariku Alina? Jelas-jelas itu adalah kabar baik. Tapi apa alasan dibalik itu semua?" batin Arvin bingung.
__ADS_1