
Zara membantu Zidan dengan memapahnya hingga sampai di depan kamar mandi. Ini pertama kalinya mereka bersentuhan dalam keadaan sadar. Jangan ditanya lagi dengan jantung Zidan. Kini ia sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup di depan Zara. Begitu juga dengan Zara. Beberapa kali tatapan mereka beradu. Mereka sama-sama memalingkan wajahnya dan pipi mereka merona.
"Apakah Anda bisa berjalan sendiri menuju kamar mandi tuan?" tanya Zara saat mereka sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"Apa kamu berniat mengantarku sampai ke dalam Zara?" tanya Zidan balik. Zara mengernyitkan dahinya. Ia tidak bermaksud demikian, ia hanya memastikan saja jika Zidan tidak terjatuh nantinya.
"Tidak. Kalau begitu silakan Anda masuk ke kamar mandi. Saya akan menunggu Anda di sini," jawab Zara dengan menundukkan kepalanya.
"Kamu berani sekali memerintahku," ucap Zidan dan tersenyum tipis.
"Hah?" ucap Zara bingung. Ia bukan memerintah tetapi mempersilakan Zidan agar cepat masuk ke kamar mandi.
"Maafkan saya. Saya tidak berani," ucap Zara takut. Ia takut orang dihadapannya ini marah padanya dan berbuat sesuatu yang akan merugikannya. Meskipun kelihatannya tidak seperti itu.
Zidan tertawa kecil. Tanpa sadar, Zidan mengacak rambut Zara sedikit kasar seperti yang ia lakukan pada Alisya.
"Tidak perlu takut. Bersikaplah biasa saja seperti kamu bersikap pada temanmu. Aku lebih suka seperti itu," ujar Zidan. Zara terdiam mematung di tempatnya. Zidan masuk ke dalam kamar mandi. Ia menutup pintunya dan bersandar di pintu tersebut. Zidan menyentuh dadanya.
"Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?" batin Zidan senang. Ia segera menuntaskan hajadnya.
Sedangkan Zara terlihat linglung. Tiba-tiba Zidan bersikap lembut padanya. Dan bahkan memintanya untuk bersikap seperti layaknya seorang teman.
Zara menunggu Zidan di sofa. Tatapannya kosong. Zara melamun menatap ke arah pintu kamar mandi.
"Tidak Zara, apa yang kamu pikirkan? Tuan Zidan hanya bersikap lembut padamu dan kamu langsung terpesona begitu saja?" batin Zara. Zara menggelengkan kepalanya pelan dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Tak lama setelah itu, pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Zidan begitu kesusahan untuk berjalan. Mungkin karena kepalanya yang masih pusing. Zara segera menghampiri Zidan dan meletakkan tangan kanan Zidan di atas tengkuknya. Ia memapah Zidan agar tidak terjatuh.
__ADS_1
"Eh," ucap Zara saat Zidan ambruk ke tubuhnya. Untungnya Zara bisa menahannya sehingga mereka tidak terjatuh ke lantai. Wajah mereka sangat dekat sekali. Sampai napas antara keduanya begitu terasa.
"Ke-kenapa tuan tidak berhati-hati," ucap Zara dengan gugup. Zidan hanya tersenyum tipis. Zara mendorong Zidan pelan agar posisi mereka kembali seperti semula. Mereka kembali berjalan pelan menuju ranjang. Zara membantu Zidan berbaring dan kembali menggantungkan cairan infus di tempatnya.
"Terima kasih," ucap Zidan. Zara mengangguk pelan.
Zara pamit sebentar ke dapur. Ia beralasan untuk makan karena tadi belum sempat makan. Sebenarnya ia hanya merasa canggung saja. Dan lagi, ia harus cepat-cepat menghubungi Fanny agar segera datang ke apartemen Zidan. Ia tidak bisa terus-terusan berada di sana.
Zara mondar-mandir menunggu Fanny mengangkat teleponnya. Ia terlihat gelisah. Matanya terus tertuju pada layar ponselnya. Mungkin sengaja atau tidak, saat ini ia tidak bisa terus berada di sini. Merasa jengah, ia terpaksa mengirim pesan kepada Fanny.
'Entah Anda sengaja atau tidak, saya benar-benar minta maaf tuan. Saya harus pergi dari sini. Ini sudah sore dan saya harus pulang. Tidak baik jika kami berduaan di apartemen seperti ini.' Dengan keberaniannya, Zara mengirimkan pesan itu.
"Semoga Anda bisa memahamiku tuan," gumam Zara.
Zara menuju kamar Zidan kembali. Ia akan menunggu Fanny di dalam sana. Zara hanya terdiam sambil duduk di sofa.
"Eh, tidak ada tuan," jawab Zara cepat.
"Saya hanya berpikir kapan saya akan pulang," ucap Zara lirih. Zidan mengernyitkan dahinya.
"Kamu bisa pulang sekarang jika memang ada urusan lain. Saya sudah tidak apa-apa," ucap Zidan. Ia tidak ingin menahan Zara lebih lama jika Zara tak nyaman dengan hal itu.
"Tidak tuan, saya akan menunggu tuan Fanny dulu. Baru setelah itu saya akan pulang," jawab Zara panik. Jika ia benar-benar meninggalkan Zidan sendirian, apalagi baru pulih dari sakitnya pasti Fanny akan membuat perhitungan padanya.
"Tidak apa-apa. Saya sangat berterima kasih karena kamu sudah mau menemani saya seharian ini. Zara, saya tidak ingin menjadi beban jika kamu memang tidak nyaman," ujar Zidan. Zara hanya menunduk. Zidan masih menatap Zara dengan lekat.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka. Zidan maupun Zara sama-sama diam. Mereka juga tidak sedekat ini sebelumnya. Wajar saja jika masih canggung seperti ini.
__ADS_1
Tak lama, Fanny datang dengan tergesa-gesa. Setelah mendapatkan pesan dari Zara, ia panik dan memutuskan untuk segera ke apartemen Zidan. Meskipun itu hanya terlihat ancaman saja, tetapi Fanny juga tidak ingin itu benar-benar terjadi.
"Maafkan saya tuan muda. Saya datang terlambat. Maafkan saya nona," ucap Fanny sambil membungkukkan badannya. Zidan bernapas lega.
"Fan, tolong antarkan Zara kembali ke rumahnya," ucap Zidan. Fanny mengangguk paham.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu tuan. Semoga Anda lekas sembuh," ucap Zara sopan. Zidan tersenyum tipis.
"Mari nona saya antar," ucap Fanny. Mereka berjalan menuju pintu apartemen.
Zara berjalan mendahului Fanny. Namun saat mereka berada di ambang pintu keluar apartemen, Zara mengatakan jika ia tidak ingin diantar. Meskipun Fanny keras kepala untuk mengantarnya karena ini adalah perintah Zidan, tetap saja Zara kekeh dengan keputusannya. Akhirnya, Fanny hanya mengantar Zara sampai parkiran saja.
"Terima kasih nona. Maaf jika saya tidak mengantar nona. Tunggulah di sini beberapa menit. Akan ada taksi online yang menjemput Anda," ucap Fanny senang.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu saya pamit dulu tuan. Terima kasih juga sudah memesankan taksi online untuk saya," ucap Zara berterima kasih.
Tak lama setelah itu, taksi online itu sudah tiba. Zara segera masuk dan taksi itu pergi meninggalkan parkiran apartemen. Fanny kembali lagi menuju apartemen Zidan.
"Tuan muda, bagaimana keadaan Anda? Sebentar lagi Jack akan datang untuk memeriksa Anda," ucap Fanny saat ia sudah berada di kamar Zidan. Zidan melempar Fanny bantal. Meskipun Fanny terkejut ia tetap terlihat tenang.
"Aku tidak peduli. Apa kamu sengaja meninggalkanku dengan Zara, Fan?" tanya Zidan sedikit kesal.
"Maafkan saya tuan muda. Saya hanya berpikir jika kehadiran saya akan mengganggu Anda," jawab Fanny dengan tenang.
Zidan menghela napasnya pelan. Memang demikian jika Fanny tadi tetap berada di sini.
"Kamu membuat Zara tidak nyaman Fan. Lain kali jangan lakukan lagi jika bukan aku yang memerintahmu," ucap Zidan. Ia menatap ke arah jendela kamarnya.
__ADS_1
"Baik tuan," jawab Fanny paham.