Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 77 (season 2)


__ADS_3

Viona terus memperhatikan Raffa. Ia senyum-senyum sendiri karena jarang-jarang Raffa bersikap manis padanya. Rasa sakit pada tangannya itu tak seberapa dibanding dengan rasa senangnya akibat Raffa terus memperlakukannya dengan lembut.


Raffa dengan hati-hati mengoleskan salep ke luka Viona sambil meniup-niup agar tidak terasa sakit. Spontan tadi ia begitu khawatir dan langsung mengobati luka Viona.


"Masih sakit?" tanya Raffa dan ia kini menatap Viona.


"Kalau diobati sama kamu tidak sakit lagi kok. Luka segini mah tidak ada apa-apanya," ucap Viona ngelantur. Ia masih antara dalam sadar dan tidak. Raffa menjitak jidat Viona sehingga ia tersadar dalam lamunannya.


"Aduh... Sakit tahu! Nggak romantis banget sih, padahal sudah pacaran loh," ucap Viona. Ia mengusap-usap jidatnya sendiri.


"Apa bedanya? Masih pacar, belum jadi istri. Lagipula kamu harus menjaga diri kamu sendiri. Jangan sampai kamu menyesal nantinya," ucap Raffa. Ia meninggalkan Viona dan pergi ke ruangannya sendiri. Viona tidak mengerti maksud dari perkataan Raffa.


"Benar kata Mama, aku harus belajar anggun," batin Viona.


Ia bertekad untuk lebih bersikap anggun lagi agar Raffa jatuh cinta padanya. Tetapi ia bingung harus memulai dari mana. Viona akan lebih berusaha lagi untuk mendapatkan cinta dari Raffa.


Karena merasa sudah baikan, Viona kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia saat ini berada di kasir untuk membantu karyawan lainnya.


Sedangkan di ruangan, Raffa tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya tidak ada lagi pekerjaan yang harus ia tangani. Raffa termenung dalam diamnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya. Ia buru-buru datang ke restoran juga karena Viona. Sekarang dirinya bingung berada di restoran.

__ADS_1


Raffa memutuskan untuk keluar ruangannya. Ia memperhatikan Viona dari dekat pintu ruangannya. Wanita yang mungkin mulai mengisi hatinya setelah Zara. Wanita yang apa adanya dan tidak bersikap sok anggun di depannya demi menjaga image mereka. Mungkin saat ini Raffa mulai tersentuh hatinya. Mulai nyaman dan terbiasa dengan sikap Viona padanya. Meski ia kurang bisa mengungkapkannya lewat kata-kata dan tindakan. Ia lebih suka memendamnya dan mengaguminya secara diam-diam.


Viona tanpa sengaja melihat Raffa yang berdiri tak jauh dari pintu ruangannya. Viona salah tingkah sendiri. Namun ia tidak ingin terlalu ge'er dulu. Viona celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya. Siapa tahu bukan dirinya yang sedang diperhatikan oleh Viona namun orang lain. Tetapi tatapan Raffa mengarah padanya.


"Dia lagi memperhatikan siapa? Senyum-senyum seperti itu," batin Viona. Raffa berjalan mendekat ke arah kasir. Membuat Viona semakin gusar. Ia mengalihkan pandangannya dan seolah tidak menyadari kedatangan Raffa.


"Kenapa tidak istirahat saja? Perlu aku antar pulang? Sekalian aku juga mau pulang," ujar Raffa. Viona membulatkan matanya lebar-lebar. Ada apa dengan sikap Raffa hari ini? Raffa sungguh perhatian pada Viona.


"A-aku akan pulang sekarang, sebentar ya aku pamit pada Mama dulu," ucap Viona. Ia buru-buru menuju ke ruangan Rani untuk meminta izin pulang sekarang juga sebelum Raffa berubah pikiran. Ini adalah kesempatan langka baginya. Ia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


Setelah pamit, Viona menghampiri Raffa lagi. Raffa mengajak Viona hingga sampai di mobilnya. Raffa membukakan pintu untuk Viona. Setelah masuk ke dalam mobil, ia segera mengantar Viona pulang. Dengan senang Viona terus melirik Raffa. Ia sungguh bahagia bisa berdua dengan Raffa seperti ini.


"Vi, aku mau kita menjalani hubungan seperti pasangan pada umumnya. Kamu mau kan? Aku akan mencoba membuka hatiku untukmu," ujar Raffa serius.


Demi Tuhan, kini Viona terkejut. Ia benar-benar terkejut sampai susah mau bicara apa. Raffa ingin membuka hatinya untuk Viona, itu adalah kesempatan langka. Viona masih terdiam, seolah lidahnya kaku. Raffa menatap Viona menunggu jawaban darinya. Entah benar atau tidak apa yang ia lakukan saat ini, sekarang yang terpenting ia tidak ingin mengecewakan Viona. Ia akan bersungguh-sungguh dan memulai hubungan mereka dengan benar.


"Kamu serius kan?" tanya Viona.


"Iya, maaf jika aku terlambat merespon perasaanmu," ujar Raffa. Ia tersenyum manis ke arah Viona. Viona meneteskan air matanya. Saat ini ia terlalu bahagia. Viona buru-buru menyeka air matanya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku bisa menunggumu sampai kapan pun kok," balas Viona. Mereka sama-sama tersenyum. Tiba-tiba suasana hening lagi. Mereka menjadi canggung satu sama lain.


"Aku pulang dulu ya. Kamu hati-hati," ucap Viona. Raffa tersenyum sambil mengangguk. Viona segera turun dari mobilnya. Raffa mulai melajukan kembali mobilnya. Setelah memastikan bahwa Raffa sudah menghilang dari area rumahnya, Viona langsung berteriak gembira. Untungnya rumahnya tidak ada siapapun, jadi Viona masih akan jika berteriak seperti ini. Viona juga lompat-lompat kegirangan. Ia segera masuk ke dalam rumahnya dan menuju ke kamarnya. Sampai di kamarnya, ia menjatuhkan dirinya di kasurnya dan guling-guling.


"Akhirnya Raffa mau menerimaku, walaupun saat ini ia belum sepenuhnya mencintaiku, aku yakin seiring berjalannya waktu aku bisa mendapatkan hatinya," batin Viona.


"Aaaarrgghhh... Bisa gila kalau aku seperti ini terus. Sadar Viona," ucap Viona. Ia duduk sambil membayangkan kemesraannya dengan Raffa. Ia terlalu bahagia. Viona berteriak senang.


Sedangkan di tempat lain, Raffa sedang melajukan mobilnya menuju rumah. Ia senang melihat Viona begitu bahagia karenanya.


"Mungkin dengan mencoba membuka hatiku untuk Viona, aku bisa belajar untuk mencintainya," gumam Raffa. Tanpa terasa ia sudah sampai di rumah. Ia berdiam di dalam mobil sejenak. Mengingat bagaimana senangnya Viona membuatnya seolah nyaman. Setelah itu, Raffa turun dari mobilnya dan masuk ke dalam.


"Hai semuanya, Raffa ke kamar duluan," ucap Raffa saat melewati ruang tengah yang sudah ada Alisya, Arvin, dan Alina. Sedangkan Zara dan Zidan lagi di dapur. Zidan menemani Zara makan. Raffa berlalu begitu saja.


"Bahkan dia sudah makan atau belum aku tidak tahu," gumam Alina. Karena tadi setelah pulang kuliah Raffa langsung pamit ke restoran.


"Jangan terlalu memanjakannya. Dia sudah besar, jangan memperlakukannya seperti anak kecil lagi sayang. Kalau dia lapar ya pasti mencari makanan sendiri," ucap Arvin. Ia masih fokus dengan koran yang ada ditangannya. Alina mendengus kesal. Ia hanya khawatir terhadap putranya apakah itu salah.


"Kamu itu selalu begitu mas. Kan aku hanya ingin perhatian padanya saja. Salah?" balas Alina sedikit kesal. Arvin tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2