
Di kantor, Zidan baru selesai bertemu dengan kliennya. Ia begitu sibuk hari ini karena beberapa hari belakangan ini semua pekerjaannya ia serahkan pada Fanny. Zidan masuk ke dalam ruangannya disusul dengan Fanny yang berada di belakangnya. Zidan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Zidan memejamkan matanya sejenak. Namun dalam benaknya terbayang wajah istrinya dan membuatnya rindu pada sosok Zara. Zidan melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah waktunya untuk pulang. Ia duduk bersandar di sofa sedangkan Fanny berdiri di dekat sofa.
"Tuan muda, apa Anda ingin sesuatu?" tanya Fanny. Zidan melirik Fanny sekilas.
"Tidak, aku akan pulang setelah ini. Besok jangan lupa undur beberapa jadwal kita Fan," ujar Zidan. Ia berdiri untuk mengambil tasnya dan berjalan keluar ruangan. Fanny tetap mengikuti Zidan hingga mereka sampai di lobi.
"Tuan muda, biarkan saya yang mengantar Anda. Sepertinya Anda kelelahan," ujar Fanny menawarkan diri. Ia tidak tega melihat Zidan dalam kondisi seperti itu. Apalagi ia menyetir sendiri mobilnya.
"Baiklah," ucap Zidan. Ia segera masuk ke dalam mobil. Fanny melajukan mobilnya menuju kediaman orang tua Zidan.
Suasana sangat hening. Zidan maupun Fanny tidak saling bicara. Zidan fokus dengan ponselnya, sedangkan Fanny fokus dengan kemudinya. Hingga mobil mereka memasuki area halaman rumah orang tua Zidan.
Fanny membukakan pintu untuk Zidan. Setelah memastikan Zidan masuk ke dalam, Fanny pamit untuk pulang. Zidan langsung menuju kamarnya untuk mencari istrinya. Ia sudah begitu rindu dengan Zara.
"Sayang, aku pulang," ucap Zidan saat membuka pintu kamarnya. Zara tersenyum melihat kedatangan Zidan. Ia langsung berhambur memeluk suaminya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Zara lembut. Zidan mengangguk dan tak lupa mencium puncak kepala istrinya dengan lembut. Zidan memandangi wajah Zara dengan lekat.
"Sudah makan?" tanya Zidan. Zara menggeleng pelan. Zidan langsung menatap Zara dengan datar. Ia mengernyitkan dahinya.
"Kenapa tidak makan?" tanya Zidan tegas.
"Aku menunggumu," jawab Zara pelan. Ia menundukkan wajahnya. Zidan menghela napasnya. Ia menaruh tasnya di atas kasur dan membuka jasnya. Zidan menggulung lengan bajunya hingga sampai siku. Ia juga mengendurkan dasinya. Setelah itu ia menarik Zara menuju meja makan.
__ADS_1
"Aku tidak mau makan di situ!" ucap Zara menolak dan seketika langkah mereka terhenti. Zidan menatap Zara dengan bingung.
"Lalu?" tanya Zidan bingung.
"Kita makan di luar ya. Aku mau makan bakso dekat kampus," ujar Zara lirih. Zidan menghela napasnya sejenak.
"Kita makan nasi dulu, lalu makan bakso oke?" Tawar Zidan. Zara menggeleng dengan cepat. Ia tidak selera makan di rumah. Sedari tadi dirinya terbayang dengan bakso yang berada di dekat kampusnya yang menjadi langganannya.
"Aku tidak akan mengizinkanmu makan bakso kalau kita tidak makan nasi dulu. Kasihan bayi kita, aku yakin kamu tidak makan dari tadi siang kan?" ucap Zidan. Zara tetap kekeh tidak mau makan di rumah. Meskipun Zidan sudah berkali-kali membujuknya dan kini justru Zara terlihat seperti hampir menangis. Matanya sudah berkaca-kaca. Zidan menatap tak percaya. Ia bingung dengan perubahan sikap Zara dari hari ke hari.
"Baiklah, kita makan bakso," ucap Zidan mengalah. Ia tidak kuasa melihat air mata Zara yang luruh karenanya. Zidan kembali ke kamarnya untuk mengambil dompet dan ponselnya. Zara tersenyum lebar karena keinginannya terpenuhi. Setelah itu, Zidan menemui ayahnya untuk meminjam mobil. Karena mobilnya masih berada di kantornya.
Mereka mulai menuju ke kedai bakso dekat kampus Zara. Zidan sebenarnya sangat lelah. Namun semua itu ia lakukan demi Zara, istrinya. Ia tidak ingin membuat Zara marah atau kesal padanya.
Selang beberapa menit, mereka sudah sampai di kedai bakso tersebut. Kedai yang lumayan luas tempatnya dan ramai pembeli. Zidan menyuruh Zara untuk duduk terlebih dahulu. Ia yang mengambilkan bakso untuk dirinya dan Zara. Zara menurut begitu saja. Suasana hatinya sedang membaik.
Setelah beberapa menit memilih isi dari baksonya, Zidan menuju kasir untuk membayar dua mangkok bakso itu. Tak lupa juga dengan dua gelas minuman dingin. Zidan segera menuju ke meja tempat Zara menunggunya. Karena terlihat Zara sudah tidak sabar untuk menikmatinya.
Zara tersenyum lebar ketika bakso sudah dihidangkan oleh Zidan di depannya. Ia langsung mencampurkan saus, kecap, dan sambal agar baksonya terasa lebih nikmat. Soal rasa tidak perlu diragukan lagi. Kedai bakso ini sudah terkenal dengan kelezatannya. Zara puas karena keinginannya terpenuhi.
"Sudah? Mau apa lagi?" tanya Zidan. Ia ikut senang jika Zara merasa demikian. Zara tersenyum tipis.
"Aku sudah kenyang. Kita pulang saja ya," balas Zara. Zidan mengangguk. Mereka kembali ke mobil untuk pulang ke rumah lagi.
Sampai di dalam mobil, Zara langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Zidan. Ia menatap Zidan dan mengecup pipi Zidan sekilas. Zidan menatap Zara dengan aneh.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," ucap Zara. Zidan tersenyum tipis. Ia mengacak rambut Zara dengan pelan.
"Hanya dipipi saja?" tanya Zidan. Zara menatap Zidan bingung.
"Memangnya mau di mana lagi?" tanya Zara sambil mengernyitkan dahinya.
"Kalau hanya dipipi masih kurang sayang, aku mau kamu menciumku di sini," ucap Zidan sambil menunjuk bibirnya sendiri. Zara langsung duduk agak menjauh dari Zidan.
"Tidak mau! Kalau ada yang melihat bagaimana?" tanya Zara malu-malu.
"Biarkan saja. Kita sudah menjadi suami istri Zara. Apakah masalah jika aku meminta pada istriku sendiri?" ucap Zidan. Ia tersenyum nakal menatap Zara. Namun Zara segera mendekatkan dirinya kembali. Ia melihat sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka.
"Mereka tidak akan bisa melihat kita. Kaca ini tidak tembus pandang jika dilihat dari luar," ujar Zidan yang mengetahui kegelisahan istrinya. Zara menghela napasnya lega. Ia mulai mendekatkan wajahnya sehingga wajah mereka saling berdekatan. Zara memandangi Zidan dengan lekat sambil tersenyum tipis. Ia mulai mengecup bibir Zidan dan melumatnya dengan lembut.
Zidan menekan tengkuk Zara untuk memperdalam ciuman mereka. Zara dan Zidan hanyut dalam ciuman tersebut.
Zara melepas ciumannya karena napasnya sudah terengah-engah begitu juga dengan Zidan. Zidan tersenyum tipis. Ia kembali pada posisinya untuk melajukan mobilnya. Sedangkan Zara memalingkan wajahnya ke menatap keluar jendela karena malu.
"Bagaimana bisa aku seagresif tadi?" gumam Zara yang merasa malu jika mengingat kejadian tadi.
"Sayang," panggil Zidan.
"Ya?" balas Zara sambil menatap Zidan.
"Kamu harus bertanggung jawab setelah ini. Aku jadi ingin itu setelah kamu menciumku," ucap Zidan menyeringai.
__ADS_1
"Apa?" ucap Zara terkejut.
"Memang seharusnya aku tidak membangunkan singa yang sedang tidur, haih," batin Zara. Ia menghela napas panjang. Sedangkan Zidan tersenyum penuh kemenangan.