Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 109 (season 2)


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


"Selamat ya pak, bu Zara telah sembuh total dan kini kalian bisa memulai program hamil lagi jika ingin segera memiliki anak," ucap dokter kandungan itu yang menangani Zara tiga bulan terakhir ini. Zidan dan Zara sangat senang.


"Terima kasih dokter atas bantuannya selama ini," ucap Zidan sambil berjabat tangan dengan dokter tersebut. Dokter itu tersenyum tipis ikut senang melihat Zara berhasil keluar dari keterpurukannya dan kini ia sembuh total. Trauma yang Zara derita selama dua bulan terakhir sudah menghilang dan kini Zara dinyatakan sembuh.


Setelah mengurus administrasi dan lainnya, kini Zara dan Zidan pamit untuk pulang. Zidan bernapas lega, setelah sekian lama kini Zara bisa melupakan kejadian itu. Kejadian yang selalu menghantui Zara saat malam tiba. Yang membuat Zara terus merasa bersalah. Zidan juga bisa tenang, sebentar lagi mereka akan pindah dari panti asuhan menuju rumah orang tuanya kembali. Selama ini Zidan begitu tersiksa harus bolak-balik dari panti, kantor, rumah orang tuanya, dan terkadang pulang ke apartemennya. Namun demi Zara, demi kesembuhannya, Zidan menjalaninya dengan kesabaran.


Begitu juga dengan Zara. Mendengar bahwa ia bisa mengandung kembali rasanya seperti kejutan baginya. Sudah lama ia menahan keinginan itu, akhirnya ia bisa merasakan momen bahagia itu lagi. Walaupun tidak terbayang lagi bukan berarti sudah lupa dengan bayi yang pernah ia kandung selama lima bulan itu. Tetapi yang berbeda, kini Zara sudah jauh lebih tenang dan ikhlas menerima takdirnya. Mungkin itu yang terbaik bagi putri yang belum sempat ia lahirkan itu.


Sesampainya di panti asuhan, Zidan segera membantu Zara untuk berkemas. Bukannya Zidan tidak betah tinggal di tempat itu, namun selama dua bulan ini ia cukup menahan diri untuk tidak mendekati Zara terlalu sering. Dan itu cukup menyiksa dirinya. Zidan dan Zara sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Bahwa setelah Zara dinyatakan pulih, mereka akan segera pindah dari sana.


"Biar Fanny yang menyelesaikannya. Kamu baru sembuh sayang," ucap Zidan dengan lembut. Lalu ia menghubungi Fanny untuk membereskan barang mereka.


Zidan dan Zara pamit pada bu Yasmin dan anak-anak panti yang ada di situ. Mereka mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantu Zara dalam proses kesembuhannya. Selesai berpamitan, mereka langsung pulang menuju rumah orang tua Zidan.


Zara bersandar pada bahu Zidan. Mereka berada dalam mobil menuju ke rumah. Sudah lama Zara tak ke rumah itu ataupun rumah kedua orang tuanya sendiri. Dulu, ia selalu takut dan merasa gelisah. Namun sekarang keadaannya jauh lebih baik.

__ADS_1


"Sudah siap kembali ke rumah lagi?" bisik Zidan. Zara mengangguk pelan.


"Iya. Aku kangen banget sama mereka," jawab Zara. Zidan tersenyum lalu mengecup kening Zara.


Orang tuanya tak ada yang mereka kabari. Zidan sengaja karena ingin memberikan mereka kejutan. Kembalinya mereka kali ini juga tak ada satupun yang tahu kecuali Fanny dan orang-orang yang ada di panti.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, kini mereka tiba di kediaman Mahardika. Zara dan Zidan segera keluar dari mobil dan tak sabar untuk masuk ke dalam. Mendengar suara mobil, Alina langsung menuju ke depan. Ia terkejut dengan kedatangan Zidan dan Zara.


"Astaga, kalian akhirnya pulang juga... Mommy kangen banget sayang," ucap Alina dan langsung memeluk Zara. Zara dan Zidan tersenyum lebar.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Alina. Ia menangkup wajah Zara.


Mereka menuju ke ruang tengah. Tak lama kemudian, Arvin datang dan menyambut mereka. Kebetulan sekali hari ini Arvin tak pergi ke kantornya. Mereka mengobrol untuk saling melepas rindu. Setelah cukup lama, Zidan dan Zara pamit untuk ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Zara langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Ia begitu rindu dengan kamar ini. Setelah memasukkan semua barang-barang, Fanny pamit untuk pulang. Hari ini Zidan memberikan izin kepada Fanny untuk cuti satu hari.


"Apakah kamu senang bisa kembali lagi ke sini?" tanya Zidan. Ia ikut merebahkan dirinya di atas kasur. Zidan melirik Zara sekilas. Zara menghela napasnya sejenak.

__ADS_1


"Iya, aku berharap aku bisa memulai lembaran hidupku lagi," ucap Zara sambil menatap langit-langit kamarnya. Lalu Zara beralih menghadap Zidan.


"Zidan, aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Semua masih membekas dalam benakku. Tapi, aku juga harus terus melanjutkan hidupku kan? Sedih kalau berlebihan juga tidak akan baik. Apalagi kamu sudah berusaha keras agar aku bisa kembali seperti Zara yang dulu. Zidan, terima kasih... Kamu telah bersabar menghadapi segala sikapku yang mungkin tanpa sengaja membuatmu terluka. Aku janji, jika aku diberikan kepercayaan untuk mengandung lagi, aku akan lebih berhati-hati," tutur Zara. Tanpa terduga ia meneteskan air matanya. Zidan menyeka air mata Zara dengan lembut.


"Aku percaya sama kamu. Aku sayang sama kamu Zara, aku hanya ingin bersamamu selamanya. Kamu tahu kan, aku paling tidak bisa melihatmu bersedih. Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu tetap bahagia," balas Zidan. Zidan mendorong tubuh Zara pelan dan langsung menindihnya.


"Kita mulai hari ini ya. Kamu bersiaplah," bisik Zidan. Ia meraih dagu Zara dan segera mencium bibirnya. Zidan dan Zara kembali menikmati momen kebersamaan mereka yang bahagia.


"Mas, kamu sudah menghubungi Anton dan istrinya?" tanya Alina saat mereka berada di ruang tengah. Arvin hanya menggeleng pelan sambil fokus pada ponselnya.


"Katanya janji mau berdamai jika Zara sudah sembuh?" ujar Alina. Ia begitu geram melihat Arvin dan Anton bagai tikus dan kucing.


"Nanti saja," jawab Arvin singkat.


"Kamu tenang saja sayang, aku kemarin sudah menghubungi Anton untuk bertemu dengannya. Mungkin besok atau lusa kita akan membicarakannya lagi. Aku sudah berjanji padamu, aku pasti akan mengabulkannya," ujar Arvin. Ia juga merasa lelah jika terus bermusuhan dengan Anton. Apalagi sekarang mereka sudah terikat menjadi satu keluarga.


Hingga menjelang sore, Zara baru bangun dari tidurnya. Ia melihat Zidan yang masih terlelap. Zara memeluk Zidan dan mengusap wajah suaminya itu dengan pelan. Ia terus memandangi wajah Zidan dengan lekat.

__ADS_1


"Hmm.. Baru sadar, kalau ternyata suamiku ini tampan juga, hehe," batin Zara. Ia terus memandangi wajah Zidan. Tak pernah bosan dan tak akan pernah bosan.


"I love you Zidan, suamiku," batin Zara. Ia tersenyum lebar dan terus memandangi wajah Zidan. Ia akan menunggu Zidan hingga terbangun.


__ADS_2