Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 80 (season 2)


__ADS_3

Setelah pulang ngampus, Raffa langsung bergegas ke restoran karena sudah ada janji dengan Viona. Kali ini ia hanya bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan Viona. Ia tidak mengurus pekerjaan di sana lagi.


Raffa duduk di sofa pengunjung yang sedikit sepi. Ia menunggu Viona di sana. Raffa meletakkan kotak coklatnya tadi di atas meja. Ia terus memperhatikan sekitarnya sambil menunggu Viona. Karena merasa jenuh, Raffa memasang headphone nya untuk mendengarkan lagu kesukaannya. Beberapa karyawan menghampiri Raffa namun Raffa berkata jika ia tidak ingin diganggu.


Cukup lama menunggu dan akhirnya Viona datang juga. Viona tersenyum lebar saat melihat Raffa yang sedang duduk sambil menikmati lagu di ponselnya. Viona langsung duduk di samping Raffa. Raffa melepas headphone nya dan mematikan lagu yang ada di ponselnya.


"Maaf ya, sudah lama menunggu," ucap Viona.


"Tidak apa-apa," balas Raffa. Ia lalu menyerahkan coklat tersebut pada Viona. Awalnya Viona menatap Raffa heran, namun pada akhirnya ia menerima coklat tersebut. Viona membuka coklat itu dan dirinya benar-benar senang atas kejutan kecil dari Raffa.


"Ya ampun, so sweet banget sih," batin Viona. Lagi-lagi ia terharu atas perlakuan lembut dari Raffa. Meskipun Raffa bukan tipe laki-laki yang romantis, namun Raffa akan berusaha menjadi laki-laki romantis. Selagi Viona senang, ia akan mencoba mewujudkannya.


Karena terlalu senang, Viona langsung memeluk Raffa. Ia memeluknya dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Raffa membeku di tempatnya. Ia membulatkan matanya lebar-lebar. Terkejut dengan Viona yang tiba-tiba memeluknya.


"Vi, apa yang kamu lakukan?" tanya Raffa. Ia berusaha melepas tangan Viona yang melingkar di lehernya. Namun semakin Raffa berusaha melepasnya, semakin erat pula Viona memeluknya.


"Kenapa? Hanya pelukan saja tidak mau? Bahkan kita sudah pernah berciuman kan?" ucap Viona. Ia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya yang mungkin akan memperhatikan mereka. Raffa menelan salivanya dengan kasar. Ia terlihat gugup karena ini pertama kalinya baginya.


"Lihatlah, semua orang memperhatikan kita," ucap Raffa lagi. Viona hanya melirik mereka lalu mengeratkan pelukannya kembali. Raffa menghela napasnya pelan. Ia kembali berusaha melepas pelukan Viona. Viona merenggangkan pelukannya dan menatap Raffa. Ia tersenyum cantik dan mencuri ciuman di bibir Raffa sekilas. Lagi-lagi itu membuat Raffa terkejut.


"Appa yang..."

__ADS_1


"Kenapa? Aku hanya mencium pacarku. Lagipula kamu jangan terlalu kaku begitu," sela Viona. Raffa menghela napasnya sejenak dan mengusap wajahnya dengan kasar. Berada di samping Viona sebuah cobaan baginya. Viona terlalu agresif sedangkan dirinya terlalu pasif.


Setelah itu, mereka memesan beberapa makanan. Viona terlihat begitu senang. Mereka makan dengan tenang. Viona menyodorkan satu sendok makanan ke mulut Raffa. Raffa hanya terdiam sambil menatap Viona.


"Kenapa diam saja?" tanya Viona. Raffa langsung membuka mulutnya dan memakannya. Viona tersenyum lebar lalu melanjutkan makannya lagi.


"Dia terlalu tidak berhati-hati. Apa wanita akan seperti ini jika dia sudah jatuh cinta?" batin Raffa. Ia kembali memakan makanannya hingga habis.


Selesai makan siang, Viona mengajak Raffa untuk jalan-jalan sebentar. Bukankah kencan untuk pertama kalinya sungguh menarik? Viona juga ingin merasakannya seperti pada umumnya. Namun Raffa masih terlalu kaku.


"Mau ke mana?" tanya Raffa saat Viona menariknya keluar restoran.


Lagi-lagi, Viona menyandarkan kepalanya ke lengan Raffa. Ia melirik Raffa sekilas dan tersenyum manis. Raffa menghela napasnya dan tetap fokus pada kemudinya. Tak lama setelah itu, Raffa meminggirkan mobilnya dan berhenti sejenak. Viona sudah memecah fokusnya untuk mengemudikan mobilnya.


"Vi, kalau kamu bertindak aneh-aneh terus, aku akan menurunkanmu di jalanan!" ucap Raffa jengah. Viona memanyunkan bibirnya. Apa yang ia lakukan semata-mata agar Raffa tidak kaku terhadapnya.


"Ya sudah turunkan saja! Aku hanya ingin bersandar di lenganmu. Tidak bolehkah? Aku ini pacarmu bukan sih?" ucap Viona dengan kesal. Raffa menghela napasnya pelan.


"Bukan tidak boleh, tapi kamu juga harus tahu tempat. Jangan meluk-meluk pria sembarangan seperti itu. Kamu ini wanita, setidaknya khawatirlah pada dirimu sendiri," tutur Raffa. Viona masih terlihat kesal.


"Aku senang melakukannya kok," gumam Viona pelan namun masih terdengar oleh Raffa. Bahkan suaranya terdengar bergetar seperti menahan tangisnya.

__ADS_1


"Bukan masalah senang atau tidak! Pikirkan harga diri kamu. Kamu dan aku masih dalam tahap pacaran, seharusnya kamu tahu batasan kita Vi," ucap Raffa dengan tegas. Ia hanya ingin menjaga Viona. Viona menundukkan kepalanya dan kini ia menangis.


"Bilang saja jika kamu tidak mau melakukannya denganku. Jangan bertele-tele seperti itu!" ucap Viona. Ia membuka pintu mobil dan langsung keluar begitu saja. Raffa keluar dari mobilnya untuk mengejar Viona. Ia menarik tangan Viona agar tidak pergi dari sana.


"Lepaskan! Aku tidak mau bertemu denganmu!" ujar Viona dan berusaha melepaskan genggaman Raffa. Namun Raffa menarik Viona dan kembali membawanya ke dalam mobil. Ia segera melajukan mobilnya kembali. Viona masih terdiam kesal. Ia memalingkan wajahnya tidak mau memandang Raffa. Hingga sampailah mereka di sebuah mall. Raffa tidak langsung membuka pintu mobilnya. Ia menunggu Viona agar tidak marah lagi padanya. Mereka sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama.


"Jadi nonton atau tidak?" tanya Raffa. Namun Viona masih dalam pertahanannya. Ia tidak mau bicara dengan Raffa. Raffa menatap Viona dan menunggu jawaban dari Viona.


"Masih marah? Maaf, bukan maksudku untuk menyakitimu Vi. Tapi percayalah, aku melakukan itu demi kebaikanmu," ucap Raffa agar Viona mau mengerti maksudnya. Viona masih terdiam. Ia hanya melirik Raffa dan kembali memalingkan wajahnya. Raffa bersandar pada kursi kemudinya. Ia masih menunggu Viona agar mau memaafkannya.


"Tidak jadi? Ya sudah kita pulang saja," ucap Raffa. Ia menyalakan mesin mobilnya dan ingin kembali ke rumah.


"Kalau lagi ngambek setidaknya rayu kek, gak peka banget sih," ucap Viona dengan kesal. Raffa tersenyum tipis. Ia mencubit hidung Viona dengan gemas.


"Kalau kamu juga peka, harusnya kamu tidak marah dengan apa yang aku ucapkan tadi Vi. Kita tidak tahu nanti ke depannya bagaimana. Aku hanya berusaha menjagamu saja," ucap Raffa dengan lembut. Ia mengusap rambut Viona dan tersenyum tipis.


"Kamu boleh memelukku asal tidak ada orang saja. Apa kamu tidak malu dilihat orang melakukan hal seperti tadi? Bagaimana jika tanggapan mereka negatif tentangmu?" ujar Raffa lagi. Viona seolah tersadar jika marahnya bukan hal yang seharusnya ia lakukan.


"Apakah dia mengkhawatirkanku? Dia perhatian padaku?" batin Viona.


"Maaf," ucap Viona. Raffa tersenyum manis. Lalu ia membawa Viona masuk ke mall. Berkencan untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2