Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 118 (season 2)


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa kandungan Kayla sudah memasuki bulan ke sembilan. Yang artinya saat ini ia sedang menanti detik-detik kelahirannya.


Untuk menghindari hal-hal yang buruk, mereka segera membawa Kayla menuju rumah sakit. Agar setiap prosesnya selalu dipantau langsung oleh dokter.


Saat ini, Kayla sudah berbaring di ranjang pasien. Ia berada di ruang perawatan VIP karena belum waktunya untuk melahirkan. Kayla ditemani oleh Risti, mamanya. Karena Barra masih ada satu pekerjaan lagi yang tidak bisa ia tunda. Namun ia terus memantau keadaan istrinya yang ada di rumah sakit.


"Kay, sudah konsul sama dokter? Mau lahiran normal atau caesar?" tanya Risti yang sedang duduk di kursi samping ranjang Kayla. Ia mengusapkan buah apel untuk Kayla.


"Sudah Ma, katanya bisa kok kalau lahiran normal. Dan justru dokter lebih menganjurkan untuk normal saja. Tapi, Kay takut Ma," ucap Kayla. Ada rasa gelisah dan takut dalam tatapan matanya. Risti mengusap tangan Kayla dengan lembut seraya menguatkan Kayla.


"Apa yang kamu takutkan sayang? Semua wanita hamil pasti akan melalui proses itu. Jangan gugup, mama dan suami kamu akan menemani kamu di sini," ujar Risti. Kayla mengangguk paham.


Risti memberikan potongan buah itu kepada Kayla. Kayla memakannya dan berusaha menyingkirkan pikiran negatif yang membuatnya takut. Untungnya mamanya selalu ada di sampingnya dari bulan pertama ia hamil hingga saat-saat menegangkan seperti ini.


Selesai memakan buah, Kay mengambil ponselnya dan bermain sebentar. Sebenarnya ia jenuh jika harus menunggu di ranjang pasien itu. Tetapi dokter juga membatasi geraknya agar tidak terjadi sesuatu hal di luar dugaan nantinya. Risti pamit sebentar untuk membeli makanan.


"Mama tinggal sebentar tidak apa-apa?" tanya Risti. Sebenarnya ia tidak tega, namun ia juga merasa lapar. Dan di sini ia hanya sendirian menjaga Kayla.


"Iya Ma, Kay tidak apa-apa," jawab Kayla. Risti tersenyum tipis lalu pamit untuk membeli makanan sebentar. Kayla membenahi dirinya dan mengusap perutnya dengan lembut. Ia tak menyangka jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Tanpa sadar, air matanya menetes begitu saja. Air mata bahagia yang tidak bisa ia sembunyikan. Namun Kayla buru-buru menghapusnya.


Alina dan Arvin datang menjenguk Kayla. Mereka begitu senang mendengar kabar jika Kayla akan lahiran hari ini. Karena terlalu senangnya, mereka langsung buru-buru datang ke rumah sakit.


"Kay, di mana mamamu dan Barra?" tanya Alina saat mereka sampai di ruang perawatan Kayla.

__ADS_1


"Mama lagi cari makan tadi. Kalau Barra lagi ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Tapi sebentar lagi akan ke sini kok," jawab Kayla.


"Mommy, papa, terima kasih sudah menjenguk Kayla ke sini," ucap Kayla merasa tidak enak.


Alina duduk di samping Kayla dan memeluknya dari samping. Ia mengecup puncak kepala Kayla sekilas.


"Iya sayang, bagaimana? Kapan prediksi lahirannya?" tanya Alina.


"Kata dokter masih lama. Ini baru pembukaan tiga," ujar Kayla. Mereka mengobrol sambil menunggu Risti kembali.


***


Malam harinya, kontraksi yang Kayla rasakan semakin sakit dan semakin sering. Barra sudah datang sejak sore tadi. Ia selalu berada di samping Kayla dan tak meninggalkannya sedetik pun. Barra begitu tegang menanti kelahiran buah hatinya. Senang dan takut semua menjadi satu. Dalam hatinya gelisah, namun ia tetap harus tegar untuk menguatkan istrinya.


Kayla langsung dibawa ke ruang bersalin sambil terus didampingi oleh Barra. Sedangkan para orang tua dengan gelisah menunggu di luar ruangan. Zidan dan Zara tidak ikut menjenguk dan menemani Kayla di rumah sakit. Karena keadaan Zara yang tidak memungkinkan untuk berada di sana terlalu lama. Saat ini kehamilan Zara sudah memasuki bulan ke enam.


"Bu Kayla, apakah sudah siap?" tanya dokter yang akan membantunya lahiran.


"Iya dokter," jawab Kayla pelan. Ia bahkan sudah berkeringat karena menahan rasa sakitnya itu. Ia begitu tegang dan gugup.


"Ini sakit sekali.. Tapi aku harus kuat, mama pasti bisa sayang, doakan mama," batin Kayla sambil mempersiapkan mentalnya sambil memejamkan matanya.


"Baiklah, bu Kayla yang rileks saja, tidak perlu tegang begitu. Ikuti arahan saya ya, jangan panik," ucap dokter tersebut. Kayla mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa sayang, aku selalu bersamamu di sini," bisik Barra menguatkan Kayla. Kayla tersenyum tipis.


Hampir empat jam Kayla berada di dalam ruangan itu. Belum ada suara tangisan bayi dari sana. Alina dan Risti berjalan ke sana ke mari karena khawatir dengan kondisi ibu dan anak itu. Sedangkan Arvin hanya duduk di kursi tunggu.


"Kenapa lama sekali? Apakah lahirannya berjalan lancar atau tidak," ucap Risti. Alina menghampiri Risti dan mengusap bahunya.


"Ada dokter di dalam sana. Pasti semua baik-baik saja," ucap Alina. Risti tersenyum tipis dan sedikit menyandarkan tubuhnya pada Alina.


Tak lama setelah itu, terdengar suara tangis bayi dari ruangan itu. Alina dan Risti tersenyum lebar. Akhirnya cucunya lahir juga.


"Selamat ya pak, bu, bayinya cantik seperti ibunya," ucap dokter tersebut. Barra yang merasa begitu senang tak kuasa membendung tangisnya. Ia mengecup kening Kayla berulang kali. Kayla masih terkulai lemas di ranjangnya. Tenaganya terkuras habis demi kelahiran buah hatinya. Kini ia lega, perjuangan tidak sia-sia.


"Mas, putri kita," ucap Kayla. Ia juga ikut terharu melihat Barra yang menangis karena senang.


"Dia cantik seperti kamu," ucap Barra. Mereka sama-sama tersenyum.


Setelah itu, dokter menyuruh Barra untuk menunggu di luar. Sampainya di luar, Barra langsung memeluk orang tua dan mertuanya. Ini adalah pengalaman pertamanya menemani istrinya berjuang demi buah hatinya.


"Selamat ya sayang," ucap Alina. Barra mengangguk pelan.


Kini, Kayla sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Alina dan Risti melihat cucunya yang berada di box bayi yang tak jauh dari ranjang Kayla. Bayi itu begitu mirip dengan Kayla waktu kecil dulu.


"Kamu beri nama siapa sayang?" tanya Risti. Alina dan Risti menatap Barra dan Kayla.

__ADS_1


"Namanya Ciara Amelia Alvaro," jawab Kayla sambil menatap putrinya dengan penuh kebahagiaan. Barra yang duduk di samping Barra hanya mencium puncak kepala Kayla dengan lembut.


"Nama yang bagus sayang, halo baby Ara... Ini nenek sayang," ucap Risti. Lengkaplah sudah kebahagiaan Barra dan Kayla. Karena hadirnya seorang malaikat kecil di dalam hidupnya.


__ADS_2